Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Wednesday, January 14, 2015

Getir

Teman...

Aku percaya pada kata itu

Hingga anjing menggigit membuat ku gila

Hampir... atau sudah

Semua sampah!

Atau aku?

Atau kamu?



CR:  @Rchyko

Dilema

Aku ini busuk dalam pandangan orang busuk
Aku ini besar dalam pandangan orang besar

Aku ini apa?
Aku seakan tak bernyawa
Aku seperti tak memiliki jiwa
Dan raga

Tapi aku punya!
Aku bisa merasa
Aku bisa terluka

Kau dalam terang meraba!
Kau dalam gelap menyorak!

Aku... gila

CR:  @Rchyko
Tuesday, January 13, 2015

Draft

Kereta malam membunyikan siualan nya. Tanda bahwa kereta hampir sampai dan itu juga kereta yg terakhir. di sudut gerbong dua aku duduk tertunduk membaca buku. sesekali memerhatikan jam. Entah apa yang aku kejar, entah apa yg aku tuju, dari tadi aku selalu resah memperhatikan jam. Mungkin karena ini telah terlalu larut. walau biasanya juga pulang malam, aku tidak pernah naik kereta berangkat jam 11 malam. paling lama biasanya jam 8. itu pun kalau ada kerja lembur atau ada teman yg ngajak ngobrol hingga keasyikan.

Hari ini aku menemuinya. teman lama. teman cukup mesra dalam waktu yg lama dan pada masa yang lama. hari ini dia baru pulang dari amerika. aku diminta untuk menjemputnya.

Rumah

          Suami nya sekarang di luar kota. Sudah dua bulan berpisah semenjak suaminya berangkat ke jambi untuk urusan kerja. Sesekali dia terlihat murung dan tiba-tiba marah. Anak nya yang pertama sekarang duduk di kelas satu sekolah dasar. Sedangkan yang nomor dua tiga tahun jarak nya dengan anak yang pertama. Begitupun nomor tiga terhadap nomor dua.

          Berkali-kali dia terlihat menyibukkan diri. Mencuci piring yang menumpuk, menyapu ruang tengah yang berserakan, hingga merapikan mainan anak-anaknya --yang dirapikan setiap saat. Seperti ibu rumah tangga kebanyakan tapi tidak seperti ibu rumah tangga kebanyakan. Suaranya yang rendah dan lemah memantul dengan nada tinggi di antara perabotan dan dinding rumah. "Plak!" Tiba-tiba anak nomor satu meraung sambil memeluk dirinya sendiri. "Plak!" Anak nomor dua terpaku disudut pintu sambil memperhatikan sekeliling rumah dari balik jemari kecil nya. Tak bersuara.

          "Aku mau dibelikan rumah!" Pintanya melalui telfon genggam. Suaranya memenuhi seisi rumah. Lagi. Rambut nya yang kusut dan wajah yang berminyak sesekali diusap pelan sambil tetap berbicara. Sekarang nada nya melemah. "Kamu pelit!" Kata terakhir yang keluar sebelum dia meletakkan telfon genggam nya di sebelah televisi.

Insp: Ernest Hemingway - Cat in the rain (writing style)