Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Thursday, August 27, 2015

Eleven Minutes (Sebelas Menit) by Paulo Coelho

"Ada dua perempuan dalam diriku: dia yang selalu mengharapkan segala kesenangan, nafsu, dan petualangan hidup. Dan dia yang ingin menjadi budak rutinitas, mengabdikan diri kepada keluarga, dan menekuni berbagai hal yang bisa direncanakan dan diwujudkan. Aku perpaduan seorang perempuan rumahan dan perempuan sundal, keduanya hidup di dalam tubuh yang sama, dan tak henti-hentinya berkelahi." - hal 198 (catatan harian Maria)
Sepenggal paragraf dari catatan harian Maria, seorang pelacur muda, yang sangat sadar bahwa dirinya adalah seorang pelacur; di tengah perjalanan hidupnya.

Selain menggambarkan kepribadian Maria yang menarik (Wanita yang telah cukup matang 'luar - dalam' melampaui usianya, seorang pencinta yang selalu membayangkan cinta sejati, seorang positive-thinker, dll), penulis juga menyampaikan bagaimana dunia ini diatur oleh waktu Sebelas Menit yang dihabiskan orang-orang tiap malam: Kadang bersama pasangan dan kadang bersama penjaja seks di pinggir jalan. Demi sebuah pelampiasan atau cuma untuk kesenangan sesaat, terserah yang mana, namun dalam buku ini Coelho banyak menyampaikan bagaimana sisi lain dunia melalui pandangan Maria atau curhatan pelanggan Maria, baik itu tersirat maupun tersurat.

Buku ini ditulis dengan menggunakan alur maju: bagaimana kehidupan Maria dari desa hingga bertemu cinta sejatinya. Sudut pandang yang digunakan juga enak: Orang ketiga filter tokoh (walau dibeberapa bagian berganti sebagai narator yang serba tau namun tetap saja dengan gaya penceritaan Coelho, buku ini jadi menarik).

Baca sendiri aja deh. Cetakan keenam sekarang sedang banyak beredar di Gramedia sebagai perayaan 25th anniversary Paulo Coelho.
Monday, August 17, 2015

Pembentukan karakter: Kejiwaan.

Dalam menulis tidak perlu menyebutkan/menuliskan bagaimana kondisi kejiwaan karakter dalam satu kata kecuali tulisan itu bersifat ilmiah. Lebih baik digambarkan definisi  dari psikis karakter tersebut sehingga pembaca dapat menginterpretasikan sendiri bagaimana kepribadian karakter. Penggambaran dapat dilakukan dengan menyelipkan beberapa kebiasaan kecil ke dalam tulisan atau melalui dialog/hubungan antara ucapan dengan tindakan/ketakutan/atau prasangka dll. Cara terbaik untuk menyelami kejiwaan karakter adalah dengan menjadi karakter itu sendiri. "hidup" dalam pikiran karakter itu sendiri. Iya, kamu akan mengalami sedikit kegilaan, tapi bukan kah lebih baik demikian dari pada menghasilkan karya yang hanya berdasarkan 'kata orang'?

contoh: Karakter A memiliki sifat perfeksionis delusional

## Dia memperhatikan lagi posisi panggung. Arahnya menghadap ke tanah lapang namun ketika ia memposisikan diri di bagian tengah, dengan cermat, ia mendapati jika posisi panggung itu sedikit mengarah ke arah rumah penduduk. Berkali-kali ia memutar kepala antara garis batas panggung dengan pagar pembatas rumah penduduk, ia semakin yakin jika para penata panggung tidak melakukan pekerjaan dengan benar.
"Bukan kah sudah aku bilang jika posisi panggung harus benar-benar menghadap ke tanah lapang?!" ia menghampiri pimpinan EO --yang kira-kira berusia dua puluh lima, yang tengah merakit isi panggung.
"Bukan nya sudah pas, pak?" pemuda itu menghentikan kegiatannya
"Mari sini.." ia menarik tangan pemuda itu dan menggiring nya ke sisi panggung. "Lihat?" ia mendongakkan kepala diikuti pemuda itu.
"Tidak terlalu jelas pak. Hanya bagian tiang panggung." pemuda itu beralasan. Badannya membungkuk menyadari kesalahannya.
"Hanya bagian tiang?" ia bersungut "Bukan kah sudah sering aku bilang, segala sesuatunya harus sesuai seperti yang aku perintahkan?" ia tidak marah namun suaranya ditekan tanpa menoleh ke arah pemuda itu. Seperti kebiasaannya ketika anggotanya melakukan kesalahan, ia langsung saja memecat tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Jika diibaratkan pembunuh, dia merupakan pembunuh berdarah dingin yang sudah sangat terlatih dan ditakuti.
"Iya pak." tubuh pemuda itu semakin membungkuk. Pemuda itu terlihat gamang memikirkan tiang yang bergeser beberapa senti.
"Jika terus begini, bagaimana bisa kita menata panggung untuk artis besar? Bagaimana jika salah satu artis, kelak, melihat bentuk desain panggung kita secara tak sengaja, dan jika seperti ini, apa kau pikir ia akan berhenti dan melihat-lihat?" ia memutar tubuh berkacak pinggang. Pemuda itu hanya diam dengan kepala tertunduk dan punggung yang semakin membungkuk.
"Sekali lagi." ia lalu pergi meninggalkan pemuda itu. Di kejauhan ia melihat seseorang keluar dari sedan putih, dengan tergesa-gesa ia berlari kecil menghampiri.
"Ini akan menjadi acara pernikahan yang meriah, pak." ia menjulurkan tangan menyalami orang itu dengan wajah penuh senyum mengambang.
Wednesday, August 12, 2015

Show dont tell

Saat itu tengah malam dan ia melemparkan sebuah batu ke arah jendela. Tepat di tengah, kaca yang menempel disana pecah berderai terpekik. Ia tetap berdiri disana, berkacak pinggang, setelah sang pemilik rumah meracau secara bergantian. Terutama suara pria, yang ia yakin kepala keluarga, Saat ia mendengar pria itu menyumpah serapah dengan bunyi langkah tergesa, ia segera menjangkau sebilah pedang yang ia sandarkan di batang pohon besar berpermukaan kasar. Matanya membelalak menahan getaran tubuhnya. Sebuah senyum yang mengalahkan lengkungan bulan sabit tak ayal menjadi pertanda betapa ia menikmati suasana yang ia buat malam itu. Perlahan, tubuhnya bergidik, dan ia terkekeh menatap pintu yang memunculkan sesosok pria botak bertubuh gempal.

"Bedebah kau sukiman!" pria botak itu menunjuk dari kejauhan. Sebuah golok panjang berayun-ayun ditangan kirinya.

*dalam rangka penerapan 'Show dont tell'.

Tuesday, August 11, 2015

Paham tindih

Apa lagi yang kalian inginkan wahai para nyamuk?
Aku sudah membiarkan kalian beristirahat di kulit kaki ku.
Lalu kalian tiba-tiba menghisap darah ku dan aku pura-pura tidak menyadari akan hal itu.
Karena aku tau jika kalian kelaparan
Juga aku mencoba memahami jika kalian memerlukan darah sebagai makanan.
Kalian tidak pernah tau jika aku menahan gatal?
Aku tidak berharap kalian mengerti akan hal itu ;kalian hanya nyamuk.
Aku selalu menahan hasrat untuk menggaruk karena tampaknya kalian belum puas.
Ketika kalian kenyang dan tak sanggup terbang, aku memperhatikan kalian yang terkapar berbaring karena perut-perut yang membesar.
Aku masih menahan gatal asal kalian tau.
Lalu aku mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri ku.
Masih menahan hasrat menggaruk, takut jika kalian akan mati terkoyak terkena kuku-kuku ku.
Walaupun aku sudah tidak tahan, lagi, asal kalian tau.
Namun ketika kalian sudah sanggup terbang, entah apa lagi yang kalian mau, kalian berdenging berterbangan disekitar telinga ku.
Berisik dan selalu mencemooh ketika aku mengibaskan tangan ku.

Apa lagi yang kalian mau wahai para nyamuk?



*ditulis saat sedang diperkosa sekumpulan nyamuk

Perihal Embun

Aku khawatir dengan apa yang dipikirkan embun yang menggantung di ujung daun talas
Ia selalu menunggu matahari di kala pagi untuk datang menghampiri
Tak sadarkah ia jika matahari mampu menguapkannya?
Menjadi potongan tak kasat mata lalu melayang di udara

Apa yang diinginkan embun di kala pagi?
Tidak kah ia lelah untuk terus menguap di siang hari
Namun ia tak pernah jera untuk berseri-seri
Memperlihatkan rasa cintanya terhadap matahari

Dengan hati-hati embun aku dekati
Bertanya maksud kehidupannya setiap hari
Sunday, August 2, 2015

Air

penuh harap air mengalir
takut terhisap ke dalam tanah
mengelak api jika-jika ada yang membakar hutan
menghindari angin agar tidak beku

penuh harap air mengejar laut
membentuk relung pada tanah
dibantu api supaya terbang
dihembus angin biar kencang

namun air tetap lah air
ia mengalir tau yang dituju
ketika pohon-pohon tampak layu dan lesu
ia berhenti lalu menunggu