Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Friday, December 11, 2015

(Short Review) Looking for Alaska

            Saat itu mereka baru saja diusir oleh Mr Hyde karena Pudge terlihat melamun, jauh menatap bukit yang ditumbuhi pohon pinus. Alaska –yang-entahlah-lebih-baik-baca-sendiri-untuk-mendeskripsikan-karakter-nya- yang membela Pudge –entah untuk permintaan maaf atau karena memang untuk menegaskan karakternya- dan karena itu mereka sama-sama diusir mengajak Pudge pergi ke bukit yang ditatap Pudge sedari tadi. Disana mereka mencari clover. Clover yang memiliki empat helai daun.
            Beberapa saat setelah pencariannya, Alaska menemukan setangkai clover yang memiliki empat helai daun. Sementara Pudge masih berdiri terkesima memperhatikan belahan dada Alaska yang menunduk mencari clover tersebut. Alaska lalu memperlihatkan clover yang ia temukan. Clover yang memiliki empat helai daun namun dengan helai keempat yang kerdil.

            “Walaupun kau jelas-jelas tidak mengambil peran dalam pencarian ini, otak mesum,” katanya masam, “Aku sungguh ingin memberi mu daun ini. Tapi nasib baik hanya untuk orang payah.” Ia menjepit kelopak yang kerdil itu diantara kuku dan jari jempol, lalu mencabutnya. “Nah,” dia berkata pada si daun semanggi sambil menjatuhkannya ke tanah “sekarang kau tak lagi berkelainan genetik.”

            Satu kutipan paragraf dari novel John Green – Looking for Alaska. Baru baca beberapa halaman sih. Efeknya sama kayak baca Alchemist nya Paulo Coelho. Bukan berarti sama dalam penceritaan lho ya..

            Novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama dengan Pudge (Miles) sebagai tokoh utama. Gaya penceritaan yang santai dengan karakter Pudge yang selow membuat novel ini gak bikin capek buat dibaca.