Dia
menyeduh kopi untuk kali ketiga. Setelah sebelumnya dua kali menjadi dingin karena
terlalu lama dibiarkan, terlupakan karena kesibukan. Kali ini ia berjanji tak
akan melupakan bagian terbaik dari penikmatan secangkir kopi. Ketika kepulan
yang masih menggelora memanggil-manggil melalui aroma.
Dikali
pertama, ia menghidangkan kopi disuatu pagi, saat matahari di ufuk timur muncul
berseri-seri. Kopi itu penuh semangat sedangkan matanya terlalu lemas untuk
sekedar membuka. Dia menunggu, membiarkan kopi itu kehilangan panas; sayangnya
terlalu lama. Kopi itu masih enak tapi sudah tidak nikmat. Lalu ia berjanji
akan memperhatikan; menunggu hingga menyentuh suhu yang tepat.
Kali
kedua, disaat kertas-kertas bertumpukan di meja kerja. Dia menyeduh kopi dengan
panas yang sama, menunggu, dan tidak memalingkan mata. Namun sayangnya,
kertas-kertas itu terus menggoda untuk digoresi tinta. Pekerjaan membuat dia
terlena hingga ia lupa ada secangkir kopi yang butuh perhatian. Lalu ia
berjanji tidak akan pernah membiarkan lagi; tidak lagi peduli pada panas.
Ini
lah kali ketiga. Sebagai penebusan untuk hari ini, dia pergi ke kedai kopi dan
membiarkan orang lain yang meracik kenikmatannya. Ia terus memperhatikan kepulan
yang tak berhenti-henti di permukaan gelas. Dia tidak ingin lagi kenikmatan nya
direnggut oleh keteledoran nya sendiri. Sudah terlalu banyak janji yang ia
ingkari tetapi dia tidak pernah mau berhenti; ia terlalu mencintai kopi.
Diangkatnya gelas kopi, dirasakannya panas yang menari, lidahnya terasa
terbakar karena memang belum saatnya menyentuh kopi.
Gelas
itu ia dorong secepat kilat, menyebabkan sebagian kopi tumpah membasahi meja.
Ada apa dengan kopi, pikirnya. Dia tau bahwa ia sangat mencintai kopi, namun
kali ini, untuk hari ini, dia tidak bisa bersentuhan sama sekali; dalam
kerangka penikmatan secangkir kopi.
“Aku
sudah berusaha.. tapi ada apa ini?” dia terlihat putus asa. Dia pandangi kopi
yang menggenang, pikirannya menghadirkan segelas teh sebagai pengganti.
“Aku
mencintai kopi!” dia menegaskan diri dan menghilangkan bayangan segelas teh
yang menari-nari.
Kopi
tak mau berkompromi. Dia terlalu sakit hati karena telah dikecewakan dua kali.
Ia lantas mengalirkan bagian dirinya yang menggenang diatas meja. Penikmatnya
itu mendorong meja, mengusap pahanya; akibat ditumpahi kopi yang panas. Membuat
kopi bergoyang-goyang di dalam gelas; kegirangan.
Kopi
itu sekarang berada di suhu ternikmat ‘penikmatan secangkir kopi’. Setelah
pembalasan, ia menghilangkan kepulan yang menyelubunginya. Ia tidak lagi
bergoyang dan terlihat damai memanggil penikmatnya untuk segera mencicipi nya.
Namun
penikmatnya telah kehilangan selera. Dia marah sekaligus kecewa. Mungkin aku
harus menjauhi kopi dulu untuk beberapa lama, pikirnya. Dia lantas mencari meja
kosong dan membiarkan kopi itu membeku sendirian disana. Ia melambaikan tangan
memanggil barista dan memesan teh manis sebagai penggantinya.

0 komentar:
Post a Comment