Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Wednesday, July 29, 2015

Paradoks


Dia menyeduh kopi untuk kali ketiga. Setelah sebelumnya dua kali menjadi dingin karena terlalu lama dibiarkan, terlupakan karena kesibukan. Kali ini ia berjanji tak akan melupakan bagian terbaik dari penikmatan secangkir kopi. Ketika kepulan yang masih menggelora memanggil-manggil melalui aroma.
Dikali pertama, ia menghidangkan kopi disuatu pagi, saat matahari di ufuk timur muncul berseri-seri. Kopi itu penuh semangat sedangkan matanya terlalu lemas untuk sekedar membuka. Dia menunggu, membiarkan kopi itu kehilangan panas; sayangnya terlalu lama. Kopi itu masih enak tapi sudah tidak nikmat. Lalu ia berjanji akan memperhatikan; menunggu hingga menyentuh suhu yang tepat.
Kali kedua, disaat kertas-kertas bertumpukan di meja kerja. Dia menyeduh kopi dengan panas yang sama, menunggu, dan tidak memalingkan mata. Namun sayangnya, kertas-kertas itu terus menggoda untuk digoresi tinta. Pekerjaan membuat dia terlena hingga ia lupa ada secangkir kopi yang butuh perhatian. Lalu ia berjanji tidak akan pernah membiarkan lagi; tidak lagi peduli pada panas.
Ini lah kali ketiga. Sebagai penebusan untuk hari ini, dia pergi ke kedai kopi dan membiarkan orang lain yang meracik kenikmatannya. Ia terus memperhatikan kepulan yang tak berhenti-henti di permukaan gelas. Dia tidak ingin lagi kenikmatan nya direnggut oleh keteledoran nya sendiri. Sudah terlalu banyak janji yang ia ingkari tetapi dia tidak pernah mau berhenti; ia terlalu mencintai kopi. Diangkatnya gelas kopi, dirasakannya panas yang menari, lidahnya terasa terbakar karena memang belum saatnya menyentuh kopi.
Gelas itu ia dorong secepat kilat, menyebabkan sebagian kopi tumpah membasahi meja. Ada apa dengan kopi, pikirnya. Dia tau bahwa ia sangat mencintai kopi, namun kali ini, untuk hari ini, dia tidak bisa bersentuhan sama sekali; dalam kerangka penikmatan secangkir kopi.
“Aku sudah berusaha.. tapi ada apa ini?” dia terlihat putus asa. Dia pandangi kopi yang menggenang, pikirannya menghadirkan segelas teh sebagai pengganti.
“Aku mencintai kopi!” dia menegaskan diri dan menghilangkan bayangan segelas teh yang menari-nari.
Kopi tak mau berkompromi. Dia terlalu sakit hati karena telah dikecewakan dua kali. Ia lantas mengalirkan bagian dirinya yang menggenang diatas meja. Penikmatnya itu mendorong meja, mengusap pahanya; akibat ditumpahi kopi yang panas. Membuat kopi bergoyang-goyang di dalam gelas; kegirangan.
Kopi itu sekarang berada di suhu ternikmat ‘penikmatan secangkir kopi’. Setelah pembalasan, ia menghilangkan kepulan yang menyelubunginya. Ia tidak lagi bergoyang dan terlihat damai memanggil penikmatnya untuk segera mencicipi nya.
Namun penikmatnya telah kehilangan selera. Dia marah sekaligus kecewa. Mungkin aku harus menjauhi kopi dulu untuk beberapa lama, pikirnya. Dia lantas mencari meja kosong dan membiarkan kopi itu membeku sendirian disana. Ia melambaikan tangan memanggil barista dan memesan teh manis sebagai penggantinya.

0 komentar:

Post a Comment