(Short Review) Looking for Alaska
Kesturi
Ada apa dengan kesturi
Dia tak lagi mau menangis malam ini
Kantong mata nya ia usap berkali-kali
Takut jika tamunya tau bahwa tangis hendak ia peri
Ada apa dengan kesturi
Dia merapikan rambut berkali-kali
Menatap cermin memperhatikan diri
Apakah aku terlihat sudah rapi?
Kesturi memperhatikan jam sekali lagi
Sudah tengah malam dan dia terlihat resah menanti
Apakah tamu nya kali ini cukup jeli
Seperti tamu sebelumnya yang batal menidurinya hanya karena ia termenung terpatri
Kesturi
Apa kau tau jalan yang hendak kau hadapi
Apalah arti semua yang telah kau lalui
Kenapa dunia begitu membuat mu tuli
Apa kau tak lagi mendengar panggilan dari hati
Oh Kesturi
Tangkai bunga
"Bagai mana rasanya berkembang?" Aku bertanya pada bunga yang mekar dengan kelopak ranum berseri di puncak ku. Aku hanya sekedar bertanya tanpa mengharapkan jawaban. Bukan pertanyaan retorikal, karena aku memang tidak pernah merasakan berkembang. Aku hanya lah tangki yang menopang tiap kelopak yang ingin mekar. Tidak, aku tidak pernah bermaksud untuk berkembang. Jika aku mau, bagaimana dengan bunga? Dimana dia akan menopang? Dimana dia akan bergelantungan? Dia tidak akan terlihat indah jika bersatu dengan dedaunan. Lagian, walaupun aku mau, bagaimana caranya? Haha aku hanya tangkai..
Aku memiliki beberapa teman yang mati kesakitan. Dipatahkan, disayat, dipijak, hanya untuk orang-orang dapat menikmati bunga. Aku tidak tau giliran ku kapan. Sekarang aku berada di dalam rumah kaca yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan, dan akan datang masanya untuk ku mengalami kesakitan itu.
Aku heran.. kenapa orang-orang tidak pernah memajang kami para tangkai di dalam vas. Maksud ku hanya kami, tanpa bunga. Apa kah kami tidak memiliki keindahan? Apa kah karena bentuk kami hanya lurus, tegak, dan serupa semua? Aku yakin jika di belahan dunia lain ada tangkai yang memiliki warna lain, atau bentuk lain, atau ukuran lain, namun masih saja tetap tidak diperhatikan.
Kami juga memiliki keindahan setau ku. Bukan kah indah itu tidak diukur hanya dari kecantikan saja. Kami mengantar makanan pada bunga, kami menopang bunga, mempertahankan bunga dari badai, dan disaat bersamaan kami juga menjaga diri agar tetap kokoh dan mencoba terlihat indah. Keindahan kami bukan kecantikan, aku tak tau pasti, tapi aku yakin jika kami juga indah.
Sepertinya cukup segitu, pemilik rumah kaca ini datang menghampiri area ku. Seperti nya giliran ku. Mudah-mudahan saja tidak, tapi bunga yang mekar diatas ku sudah sangat indah dan ranum. Kalau saja ini giliran ku, setidak nya kalian sudah tau, jika kami para tangkai tidak begitu buruk.
Nostalgia Gramedia
Semuanya berjalan lancar. Kami pergi jalan-jalan, bercengkrama, tertawa haha hihi, hingga tiba saatnya menghabiskan senja di pantai. Dalam perjalanan, seorang teman menoleh lama ke sebelah kiri memperhatikan sebuah banner yang terpajang besar dan tinggi. Dia lalu berhenti dan nyeletuk, "Jadi kangen baca buku. Buku baru yang bagus apaan ya?" Dia menatap banner pada sebuah gedung berlantai tiga yang bertuliskan gramedia.
Kami semua menoleh ke arah banner itu. Cukup lama terdiam, seolah semua saling memahami, kami semua serempak pergi kesana. Maklum semuanya bisa dibilang penggemar buku. Sewaktu masih di sekolah kami sering menghabiskan waktu pulang sekolah dengan pergi ke gramedia, membaca buku yang tidak diselimuti plastik, dan jika salah satu dari kami tabungan perminggunya sudah penuh, kami akan membeli satu buku dengan usulan bersama-sama. Sudah seperti kebiasaan, kami hanya membeli buku yang kami berlima sepakati. Dan "tabungan perminggu" adalah salah satu ritual kami yang begitu kami senangi untuk menikmati acara membaca buku. Satu buku dibaca secara bergilir dan dibeli secara bergilir juga.
Kali ini, kami rindu akan hal itu dan tanpa ba bi bu, kami langsung saja melangkah ke dalam toko buku itu. Tertawa mengingat masa-masa sekolah. Kami kembali melakukan ritual yang sama, tertawa sambil membaca hingga membuat lantai tiga gedung buku itu berisik karena ulah kami. Apasih yang bisa menghentikan kebisingan dari sebuah acara nostalgia? Bahkan orang tua yang uzur pun tak akan kalah berisik dibanding kami saat ini.
NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti gramedia blogger competition #GBCoktober
Eleven Minutes (Sebelas Menit) by Paulo Coelho
"Ada dua perempuan dalam diriku: dia yang selalu mengharapkan segala kesenangan, nafsu, dan petualangan hidup. Dan dia yang ingin menjadi budak rutinitas, mengabdikan diri kepada keluarga, dan menekuni berbagai hal yang bisa direncanakan dan diwujudkan. Aku perpaduan seorang perempuan rumahan dan perempuan sundal, keduanya hidup di dalam tubuh yang sama, dan tak henti-hentinya berkelahi." - hal 198 (catatan harian Maria)
Pembentukan karakter: Kejiwaan.
Show dont tell
"Bedebah kau sukiman!" pria botak itu menunjuk dari kejauhan. Sebuah golok panjang berayun-ayun ditangan kirinya.
*dalam rangka penerapan 'Show dont tell'.
Paham tindih
*ditulis saat sedang diperkosa sekumpulan nyamuk
Perihal Embun
Ia selalu menunggu matahari di kala pagi untuk datang menghampiri
Tak sadarkah ia jika matahari mampu menguapkannya?
Menjadi potongan tak kasat mata lalu melayang di udara
Apa yang diinginkan embun di kala pagi?
Tidak kah ia lelah untuk terus menguap di siang hari
Namun ia tak pernah jera untuk berseri-seri
Memperlihatkan rasa cintanya terhadap matahari
Dengan hati-hati embun aku dekati
Bertanya maksud kehidupannya setiap hari
Air
takut terhisap ke dalam tanah
mengelak api jika-jika ada yang membakar hutan
menghindari angin agar tidak beku
penuh harap air mengejar laut
membentuk relung pada tanah
dibantu api supaya terbang
dihembus angin biar kencang
namun air tetap lah air
ia mengalir tau yang dituju
ketika pohon-pohon tampak layu dan lesu
ia berhenti lalu menunggu
Kura-kura tanpa tempurung
Paradoks
Satu kisah dari rumah
Aku mencoba menggali puing-puing kenangan itu. Namun timbunan yang menumpuk menyuratkan jika aku harus berusaha menggali lebih kuat lagi. Saat aku mencapai batas timbunan itu, aku hanya menemukan tumpukan bagian bangunan yang sudah tak berbentuk. Air mata ku menetes, membasahi sisa bangunan, tempat dimana ketika aku lelah dapat menentramkan hati ku.
Lama aku meratap. Menyaksikan istana indah yang selalu menampungku sekarang hancur menjadi debu. Aku seperti kehilangan sebagian diri ku. Aku merasa jika bagian terdalam diri ku saat itu ikut diporak-porandakan oleh badai. Tiap hari aku mencoba mengingat bagaimana bentuk bangunan itu seutuhnya namun sia sia. Istana itu benar-benar telah direnggut dari ku.
Sempat terpikirkan jika aku lebih baik tidak pernah membangun istana itu. Namun aku tau sesal tak akan pernah mampu memundurkan waktu untuk merubah apa yang telah ditetapkan. Untuk badai agar tidak menyerang istana indah ku. Lagi pula istana itu pernah melindungi ku dari panas dan hujan dan aku sangat berterimakasih untuk masa-masa indah yang lama itu.
Aku masih memandangi puing-puing itu. Memikirkan apa yang salah terhadap rancangan istana ku. Aku telah membangunnya sekian lama dengan sangat teliti. Memberikan setiap warna pada setiap bagiannya sehingga istana itu tampak indah berseri-seri. Tapi aku tak pernah memperhatikan bahan-bahan penyusunnya. Aku terlalu sibuk memikirkan keindahannya. Dan aku tiba-tiba menjadi resah menyangkut hal itu.
Aku mengamati tempat berdiri nya, berani di bibir jurang yang menghadap hamparan lautan. Aku memilih tempat itu karena disanalah aku dapat menikmati kehidupan. Menikmati keindahan laut dari ketinggian. Aku tidak pernah memikirkan jika laut akan menghembuskan angin sekuat itu. Yang selama ini aku tau hanya segala hal tentang keindahan sehingga aku melupakan beberapa kejelekan.
Aku menggali lagi bagian-bagian penyusun istana ku. Aku pandangi dan aku menyadari jika selama ini aku tidak pernah menyentuh dinding-dinding yang hancur itu. Lalu aku menyentuh puing-puing tak berbentuk, berupa sepetak kecil utuh yang masih menyatu, dengan ujung jari ku. Sangat rapuh. Bagian itu hancur seketika.
Aku tersadar jika selama ini yang aku bangun adalah sebuah gubuk yang seolah-olah berbentuk istana. Gubuk dengan tampilan indah yang dinding-dinding nya begitu rapuh. Walaupun begitu aku tidak pernah menyesalinya. Karena sekarang aku menjadi tau jika selama ini tempat ku berpulang hanya sebuah gubuk indah yang begitu rapuh.
Diatas tumpukan bagian-bagian itu aku tertawa dalam tangisan ku, menyadari betapa bodoh dan konyol nya diri ku. Aku menelentangkan tubuh ku diatas kehancuran itu dan kepala ku terkulai menyaksikan pondasi ku yang tak sedikitpun goyah. Aku tertawa lebih keras lagi namun mata ku terus mengeluarkan cairan. Aku merasa sesuatu didalam diri ku baru saja sedang dibangun sesuatu dan itu sangat melegakan.
Setelah berhari-hari aku menghindari angin karena membenci sekarang aku berterimakasih pada nya yang telah memperingatkan ku. Kali ini aku membiarkan ia menerpa wajah ku, terasa lembut dan sangat berarti. Aku juga berterima kasih kepada gubuk yang selama ini melindungi ku karena telah membiarkan aku menikmati keindahannya. Dan aku sangat berterima kasih kepada konspirasi alam yang telah mengajari ku beberapa pelajaran. Itu semua sungguh pengalaman berarti.
Sekarang aku ingin membangun sebuah rumah. Dengan pondasi yang sama dengan pembentuk gubuk ku yang indah. Hanya rumah mungil dengan dinding penuh warna dan jendela kaca yang terbuka. Dan bagian-bagian penyusun nya kali ini harus ku perhatikan dengan seksama. Agar kelak angin yang berhembus dapat menyegarkan ku dan tidak merusak sedikit pun keindahannya.
Time Traveler
Sudah berapa jauh aku berjalan, pikir nya. Satu tahun lagi dia akan berusia dua puluh dan ia hampir tidak menyadarinya. Dia lalu berjalan menghampiri anak-anak tersebut. Kira-kira umur mereka antara lima sampai tujuh tahun. Betapa naif nya anak-anak ini, ia bergumam. Semakin dekat ia berjalan semakin jelas bagaimana wajah anak-anak tersebut terlihat. Wajah-wajah penuh semangat dengan mata berseri-seri.
Lalu dia berhenti ketika melewati sebuah rumah berjendela kaca hitam yang memantulkan bayangan nya secara sekilas. Entah apa yang dia pikirkan, ia merasa jika kaki nya tidak mau lagi untuk berjalan kedepan. Sudah lama memang dia tidak bercermin karena ia merasa memang tidak perlu.
Dia lalu berbalik. Hanya selangkah lalu sekarang dia sudah berdiri dihadapan kaca tersebut.
Kaca itu tinggi hampir menyentuh atap rumah. Bagian bawah nya hanya setinggi pinggang Diego. Bingkai nya timbul terbuat dari kayu yang diamplas kasar tanpa dicat. Walaupun begitu, kaca tersebut terlihat cukup mewah dengan warna hitam. Untuk ukuran rumah yang berada di gang sempit, kaca itu memberikan Diego kesan yang baik terhadap pemilik rumah.
Diego lalu mengamati apa yang dipantulkan oleh kaca tersebut. Sesosok anak muda dengan rambut cepak acak-acakan. Leher kurus dengan tampilan tulang yang menonjol menopang wajah yang terlihat tirus dan kusam. Sudah tiga hari dia tidak mandi. Bekas-bekas asap knalpot dan debu dari kulit orang kota yang berterbangan, menempel memperjelas garis-garis wajahnya.
Betapa menyedihkan anak ini, pikirnya. Sorakan anak-anak yang kegirangan kini merayap melalui dinding-dinding telinganya. Menggema melantun-lantun hingga menyentuh gendang telinganya sehingga dia dapat mengerti bagaimana perasaan yang dibawa oleh suara tersebut. Lagi, ia mengulang apa yang ia pikirkan namun sekarang pikiran itu berubah menjadi sebuah bisikan tipis yang ditujukan kepada anak yang berada dibalik kaca. 'Betapa menyedihkan anak ini'.
Dia lalu memperhatikan matanya. Mata itu terlihat sayu dengan kelopak menghitam yang menutupi hampir sebagian matanya. Dibawahnya bola berwarna coklat terlihat jernih diatas bagian putih yang memerah karena urat mata yang menonjol. Lama ia menatap bulatan tersebut. Ia tidak menangkap kesan apa-apa akan tetapi dia terus menatap tanpa berkedip.
'Kemana aku akan pergi?' kembali pertanyaan itu terus mengingatkan dirinya atas perjalanan nya. Dia sadar jika perjalanan nya yang sudah menginjak tahun kesepuluh, tidak menemukan apa pun yang selama ini mengganggu pikirannya. Lalu untuk sejenak dia terdiam. Kembali memperhatikan matanya namun kali ini mata itu disipitkan dengan alis dibuat membentuk garis diagonal yang hampir beradu ditengah-tengah.
'Aku akan pergi kemana?!' kali ini dia merasa cemas. Baru kali ini dia merasa secemas ini sehingga dia dapat merasakan tekanan di dada nya. Mulutnya terbuka dan dia merasa jika harapannya telah pupus seiring berjalannya waktu.
'Harapan? apa yang aku harapkan?!' suasana hatinya berganti seketika. Seolah sebuah benturan keras menghantam kepalanya disaat dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan nya sendiri.
Diego memutar kepala. Kembali menatap anak-anak yang masih bermain kelereng dipojokan. Salah satu dari mereka terlihat sedang mengambil ancang-ancang untuk menembakkan kelereng. Arah tembakan tersebut menuju ke tumpukan kelereng yang disusun rapat. Sedangkan anak-anak yang lain terlihat berdiri dibelakang anak yang sedang bersiap-siap; mereka tampak fokus memperhatikan jemari si anak meregang seperti katapult yang siap dilontarkan.
Dia memperhatikan lagi kaca yang masih menampilkan bayangan dirinya. Tas punggung besar dengan penyandang yang sudah robek menggantung di bahunya. Bayangan kaca itu tidak sejelas bayangan sebuah cermin asli namun masih cukup jelas untuk memaparkan penampilannya yang jauh dari kata bersih. Jika saja baju yang dipakainya tidak berwarna hitam, mungkin dia tidak ada bedanya dengan orang-orang yang hidup disekitaran tempat sampah.
Diego sudah pernah bekerja sebagai penyemir sepatu. Mengamati sisi jalan raya memperhatikan jenis orang yang lalu disana. Dia terbiasa duduk di bagian terbawah sebuah tangga karena disanalah orang-orang akan mengangkat kaki dan melihat kotoran di sepatu mereka sendiri.
Dilain waktu ia pernah duduk disebuah emperan yang terletak dekat gedung-gedung tinggi. Tidak hanya dirinya yang berada disana; ada penjual minuman dan makanan. Beberapa kali ia duduk disana, kebanyakan pelanggannya sering menyambilkan antara menghabiskan makan siang dengan membersihkan sepatu mereka.
Disuatu ketika dia tidak tahan untuk bertanya terhadap salah seorang pelanggannya. Pelanggannya tersebut baru saja memesan sebuah burger dan hotdog yang terbungkus dalam kantong kertas. Ketika dia menyemir sepatu, pelanggannya tersebut dengan tergesa mengunyah makan siangnya. Lalu masih dengan mulut penuh, pelanggannya tersebut mengatakan kepadanya untuk menyemir secepat mungkin. Lebih cepat dari makanan yang harus dia habiskan.
"kenapa begitu tergesa tuan?" Diego bertanya tanpa menoleh. Tangan kecilnya terus bergerak memoles sepatu kantor berwarna hitam.
"Waktu adalah segala-galanya. Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu berkata dengan cepat. Menganggap jika setiap kata yang dia keluarkan harus dapat meminimalisir waktu pengucapan. Lalu ia mengeluarkan hotdog setelah menyesap cairan dalam gelas plastik melalui penyedot. Tangan kirinya masih memegang burger yang tersisa satu gigitan.
"Kalau boleh tau, apa pekerjaan tuan? Aku baru sepuluh tahun dan aku tidak begitu kenal dengan waktu." Diego lalu menyentuh pasangan sepatu tersebut. Seperti pesanan pelanggannya, ia menyemir dengan sangat cepat. Bukan berarti dia menyemir dengan asal-asalan; dia selalu mengutamakan hasil pekerjaannya, walaupun untuk kali ini dia tidak dapat memastikan hasil semiran nya.
"Aku pegawai kantoran. Berangkat jam lima pagi agar dapat kereta yang sepi dan pulang hampir larut malam agar aku dapat bonus yang besar. Istilah nya lembur." Pria itu berkata masih dengan mulut terisi yang sesekali harus berhenti mengunyah untuk meneruskan ucapannya.
"Aku tidak mengerti.. aku melihat tuan begitu tergesa-gesa bahkan untuk sekedar membersihkan sepatu dan menghabiskan santapan makan siang." Diego hampir selesai dengan semirannya. Sedangkan pria itu baru menghabiskan setengah dari hotdog berukuran jumbo yang berada digenggamannya.
"Berapa penghasilan mu sebulan? aku bisa mendapatkan penghasilan perbulan mu hanya dengan satu hari bekerja." Seolah tidak peduli --memang tidak peduli; pria itu terus mengunyah makanannya tanpa henti. Rahangnya yang besar namun tidak berbentuk persegi tak henti-hentinya bergerak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan sebesar itu?" Diego memberikan sentuhan terakhir dengan cara menepak sepatu tersebut agar mengkilap. Pria itu masih duduk disana dengan sisa hotdog yang dipaksakan untuk dikunyah.
"Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu tersedak dan ia kembali menyedot minumannya. Gelas plastik tempat minumannya bernaung sekarang sudah kosong dan ia memasukkan sisa hotdog yang masih cukup besar kedalam mulutnya. Pipi pria itu terlihat sesak dan bibirnya secara susah payah terus mencoba untuk mengatup.
Hanya satu tahun Diego bekerja sebagai penyemir sepatu. Dihari terakhir dia menyemir, salah satu pelanggannya --seorang pria paruh baya dengan rambut sebagian memutih, menawarkan ia untuk kembali bersekolah. Pria tua itu berjanji akan membiayai keperluan dan kelengkapan sekolahnya, lalu Diego dengan segera mengiyakan tawaran itu. Keinginannya untuk bersekolah sangat besar; walau sekarang dia sadar bahwa yang diinginkannya adalah untuk belajar bukan untuk pergi ke sekolah.
"Dimana kau tinggal?" pria tua itu berujar dibalik koran besar yang ia bentangkan. Sepatu yang melindungi kakinya sekarang sedang dibersihkan Diego. Dia tidak tergesa-gesa sehingga tidak meminta anak tersebut untuk melakukan pekerjaannya dengan terburu-buru.Sadar jika pertanyaannya tidak mendapati tanggapan, pria tua itu lalu melipat korannya lantas menyentuh kepala Diego yang tertunduk dengan ujung jari telunjuknya. Diego lalu tersentak dan ia mengangkat kepalanya untuk memberikan perhatian.
"Dimana kau tinggal?" pria itu mengulangi pertanyaan nya. Kini tatapannya diarahkan kepada anak yang duduk dilantai yang sedang membersihkan sepatunya.
"Dimana saja. Kadang aku menginap di rumah teman ku." Diego kembali mencermati sepatu yang sedang dibersihkannya. Tanpa rasa takut ia menjawab pertanyaan orang asing dengan santai.
"Orang tua mu?" dahi pria tua itu mengernyit.
"Tidak tau." suara nya yang keluar datar bertolak belakang dengan kelincahan tangan nya membersihkan sepatu. Pria tua itu mulai menduga-duga apa yang terjadi dikehidupan Diego.
"Maksud mu, kau belum pernah berjumpa orang tua mu?" pria tua itu menetaskan telur yang berisi rasa penasaran. Entah apa yang terlintas dipikiran nya, dia langsung bertanya seperti itu. Mungkin dia telah sering berbincang-bincang dengan anak-anak yang mencari penghidupan di pinggir jalan.
"Tentu saja pernah." Diego tampak tidak menikmati pertanyaan yang diajukan pria tua itu. Gaya dia berkata seolah-olah dia bukan bocah sepuluh tahun. Kata yang dia keluarkan terkesan tegas dan diucapkan oleh orang yang sudah memiliki arah tujuan.Pria tua itu tidak meneruskan pertanyaan nya. Dia seolah-olah mengerti dengan apa yang telah dialami bocah yang sedang membersihkan sepatunya ini; memang begitu lah seharusnya, pria itu adalah pria tua. Dia telah melewati banyak perjalanan dan melihat dunia jauh lebih lama dari Diego.
Menyadari jika pria tua itu tidak bersuara lagi, Diego menolehkan wajah sekali lagi. Pria tua itu terlihat mendekap tangan dengan perhatian ke arah tangannya yang masih terus bergerak. Hanya sekilas, Diego menunduk lagi.
"Aku belum pernah berjumpa dengan orang tua asli ku." Diego memecah keheningan.
"Aku dibesarkan orang lain yang selama ini aku anggap orang tua." tangannya membentuk gestur yang berkesan 'aku tidak peduli'.Pria tua itu masih diam. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Diego, untuk kali ketiga, menolehkan wajah nya dan yang dia dapati adalah posisi pria tua itu yang masih sama. Ia lalu menjauhkan tangannya dari sepatu pria tua itu serta mendorong tubuhnya untuk duduk tegak dikursi kecil yang menopangnya.
"Aku kira bapak ingin tau tentang orang tua ku?" Diego kembali membentuk gestur yang sama. Alisnya ia angkat sehingga bola matanya jernih terlihat jelas.
"Aku masih mendengarkan.." balas pria tua itu.
"Aku menemukan dokumen kelahiran ku dan mendapati foto orang tua yang berada disana berbeda dengan wujud nyata nya." Diego melanjutkan pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi.
"Aku sering menanyakan kenapa aku memiliki wajah serta kulit berbeda dengan kakak ku. Mereka semua tidak pernah benar-benar menjawab dan hanya menganggap jika pertanyaan ku itu lelucon..." Diego berhenti lagi lalu ia menggelengkan kepala seolah tak percaya.
"Hingga suatu ketika, seekor tikus menuntun ku ke dalam kamar orang tua ku, lalu aku menemukan dokumen itu dalam tumpukan karton yang berisi banyak kertas." Kepala nya melemah dan tundukannya begitu tak bertenaga.
"Berapa
on going...
Curhat temen
R: "bro, ane mau curhat nih.."
T: "curhat apa bro? tumben bener..."
R: "gini, lu tau kan sama karyawan baru tetangga gue?"
T: "gak tau.. cowok ya? cakep?"
R: "cewek e e k.."
T: "oh.. trus?"
R: "gini.. gue curiga kalau itu cewek suka sama gue."
T: *hening*
R: "gue kan udah punya cewek.."
T: *masih hening*
R: "gue galau bro.."
T: *mati*
R: "dia cantik bro.. cantikan dari cewek gue yang sekarang.. gue juga suka sih sama dia tapi gue kan udah ada cewek. gue pacarin keduanya gue takut ketauan.."
T: "ya udah pilih satu." *poker face*
R: "gue pusing mau pilih yang mana.. gue gak tega mutusin cewek gue yang sekarang.. gue udah terlanjur sayang. buat nolak cewek tetangga gue juga gak kuat bro.."
T: "eh bentar... lu tau cewek itu suka sama lu gimana?"
R: "kemaren temen cewek tetangga yang tinggal di paling ujung jalan mintain no hp gue.. katanya cewek tetangga yang ini yang minta.. trus kemarin itu cewek main kerumah gue trus dia bahas-bahas nikah sambil ngangkat satu alis pas liat kearah gue.."
T: *tuhan... cobaan macam apa ini*
R: "kemaren dia menelpon gue.. gak diangkat ntar dia kecewa.. diangkat, gue takut keterusan trus ntar kalo gue lagi jalan sama cewek gue dia kebetulan nelpon, cewek gue bisa curiga..
T: "lu pengen nya apaan sih?" *siap-siap pengen nampol*
R: "Gue pengen macarin dua dua nya.."
T: *lemes* *gregetan* *diem dipojokan*
R: "eh bro.. kok jadi diem.. bantuin gue."
T: "yang pengen selingkuh siapa yang pusing siapa.. gue gak tau."
R: "sama temen gitu amat lu." *ngambek*
T: "lu maunya solusi yang gimana?"
R: "gue maunya tetep kontak kontakan sama cewek tetangga tanpa cewek gue marah.. gue seneng, cewek tetangga seneng, cewek gue juga seneng.."
T: "mending lu tidur.. mimpi sono."
R: "trus gue harus gimana dong? itu cewek gangguin gue terus.."
T: "yah lu tinggal bilang kalo lu udah punya cewek.. jangan ganggu. gampang beudh bro.." *masih dipojokan*
R: "ntar dia sakit hati dong.. ntar dia gak mau ngobrol lagi dong sama gue? gue kan juga suka sama dia.."
T: *diam*
R: "bro.. lu tau kan gue gak pernah dikejar-kejar cewek.. udah dua puluh satu tahun gue hidup, baru kali ini gue dikejar cewek.. udah lah baik, cantik lagi.. gue gak bisa nolak tapi sayangnya gue udah punya cewek.. gue pusing."
T: *numb* "eh gimana tadi? yang diawal coba diulang..."
R: "gue belum pernah dikejar cewek.. ini baru pertama kali ada cewek yang suka gue.."
T: "FAK!!" *ngakak* *kejang* "ngenes eek hidup lu bro.." :))))) *lalu ketawa gak berenti-berenti*
R: "jangan diketawain ah.. kasih gue solusi.."
T: "oke.. kalo lu pengen setia, lu harus ngomong sama cewek tetangga. jangan kasih dia harapan. makin lama lu biarin, dianya ntar makin sakit. Kalo lu suka sama cewek tetangga ya lu harus putusin dong cewek lu yang sekarang.. Cewek itu butuh kejelasan bro.. pilihan ditangan elu.."
R: "atau gue kasih aja nomor lu sama cewek tetangga gimana? biar elu yang dia godain."
T: "ogah! awas aja kalo lu kasih."
R: "kenapa sih dia datang disaat gue udah punya cewek?"
T: "mana gue tau.. mungkin ya mungkin,, jika elu beneran sayang sama cewek lu yang sekarang, itu cobaan. 'lu setia gak?' tapi kalo seandainya hati lu lebih milih cewek tetangga, itu mungkin jalan lain supaya elu gak pacaran kelamaan sama cewek lu yang sekarang.. Ntar kalo lu udah pacaran 6 atau 7 tahun dan ternyata cewek lu yang sekarang bukan jodoh lu, itu bakal bikin dia lebih nyesek ketika putus. Mending lu kasih penjelasan jelas-jelas.. dengerin kata hati lu deh."
R: "sok bijak ah lu.."
T: *cobaan apa lagi ini tuhan* *nangis*
R: "lu ngapain nangis? gue yang pusing elu yang nangis.."
T: "MENURUT LO?" *guling guling*
Btw temen gue ini cancer.. no doubt :))))
Bangku Taman
"Itu bagus! Sama persis dengan keinginan ku. Bagaimana kau bisa tau?" Kiev mengernyitkan wajah untuk melawan panas.
"oh tentu, aku tidak sadar jika kita telah saling mengenal cukup lama." mata Kiev berbinar menatap Hens yang tengah duduk di bangku panjang yang tidak memiliki sandaran.
"Itu ejekan dasar idiot!" Hens kehilangan minat setelah gagal membuat pria itu kehilangan selera. Hari ini cuaca memang sangat panas dan mereka sekarang sedang berteduh di bawah pohon yang memang difungsikan sebagai peneduh kursi taman. Pohon-pohon rindang berbatang besar berjejer sepanjang kursi dan hanya dipisah oleh jalan kecil. Bangku-bangku panjang itu dicat warna warni mengikuti urutan warna pelangi. Dan sekarang mereka duduk di kursi berwarna hijau.
"Tidak, aku serius! Pernah kah kau memikirkan tentang kematian?" tanya Kiev.
"Kematian hanya gerbang penentu kemana kau akan dibawa. Neraka atau surga. Tidak ada pilihan lain." Hens menyahut pertanyaan tersebut dengan enteng. Dipanggilnya pak tua yang duduk di depan pagar pembatas lalu dia menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral dingin ukuran sedang. Lapak pak tua itu terlindungi oleh payung yang mengambang di atas kepala nya. Pegangan payung tersebut diikatkan pada pagar pembatas dengan tali plastik berwarna merah. Ikatannya tampak kacau namun terlihat cukup kuat untuk menopang berat payung.
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa 'kematian' itu hanya ilusi?" Kiev melakukan hal yang sama, tetapi dia menukar dengan segelas kopi hitam. Di bawah payung nya, pak tua itu lalu mengangkat termos yang sudah tampak buruk keluar dari keranjang. Setelah itu gelas plastik berukuran kecil menyusul. Di sebelah keranjang pak tua itu ada fiber kecil sebagai penyimpan minuman botol agar tetap dingin. Dan semuanya masih terlindung dibawah payung berwarna dengan pola melingkar serupa urutan warna bangku-bangku taman.
"Ilusi bagaimana?" Hens membuka tutup botol, lalu membiarkan air dalam botol tersebut mengalir melalui tenggorokannya. Butiran air yang menempel didahinya perlahan mulai terasa sejuk dihembus angin. Tiap bagian tubuhnya yang dari tadi terasa terbakar dan mengering, kini tidak lagi.
"Ketika kau mati, orang-orang tidak menangis karena kehilangan mu. Mereka menangisi kenangan tentang mu." Kiev menyambut gelas berisi kopi hitam yang sudah jadi. Badan gelas tersebut masih terasa panas, dan dia menopang bagian kepala gelas yang tak tersentuh oleh air. "Terima kasih." Kiev menyimpulkan senyum lalu pak tua itu kembali kebawah payungnya setelah berjalan beberapa langkah. Kiev lalu melanjutkan penjelasan nya.
"Dan dalam beberapa hari setelah kau pergi, orang-orang akan melupakan bahwa kau pernah berjalan di bumi ini. Namun bagi orang-orang terdekat, kenangan itu akan terus melekat dan akan selalu menjadi pengingat..." Kiev menahan perkataannya dan memperhatikan Hens dengan cermat. Begitu pula dengan Hens, dia mengangkat satu alis memaksa Kiev untuk terus melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kau paham maksud ku?" tanya Kiev. Sebelah tangannya menopang gelas kopi dan sebelah lagi bergerak memunculkan bagian telapak tangan. Pinggulnya bergeser dan badannya dicondongkan menghadap ke arah Hens. Satu dengan semangat dan satu penuh penasaran. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Hens lantas membuka mulutnya membentuk huruf 'O'.
"Sedikit... Sekarang aku mulai bertanya 'Lalu untuk apa kita hidup?' tunggu.. 'mengapa kita hidup?'" Hens masih menatap Kiev dengan satu alis terangkat. Ada satu perasaan gantung yang kini menghinggapi kepala nya. Perlahan perasaan itu menjalar keseluruh tubuhnya, lalu berdiam di dadanya untuk menimbulkan tekanan. Alisnya semakin tinggi terangkat seiring semakin menggantungnya pertanyaan yang dia lontarkan.
"Kehidupan ini sudah turun temurun dari beberapa generasi. Dimulai dari adam... Kau tau sudah berapa banyak kematian yang terjadi? Lalu apakah dunia orang-orang yang mengalami atau merasa kehilangan terhenti?" Kiev meniup permukaan gelas beberapa kali, lantas mengarahkan kopi yang sekarang sudah tidak cukup panas untuk beradu dengan ujung lidahnya. Bunyi kopi yang disruput pelan menandakan jika dia sedang menunggu jawaban dari Hens.
"Dunia ini terus berlanjut, memang... Tapi ada beberapa orang yang diingat karena apa yang mereka lakukan, dan yah.. seperti yang kau bilang, orang-orang tidak menangisi kepergian mereka.. Orang-orang merayakan kelahiran mereka. Bersyukur jika mereka pernah terlahir ke bumi." Hens mengangguk pelan dan tatapannya diarahkan ke balik pak tua penjual minuman, ke genangan air yang luas dibalik pagar pembatas. Air tersebut mengalir sejauh mata memandang. Namun karena permukaannya yang tenang, genangan air yang luas itu terlihat seperti danau jika dilihat dari jarak tempat mereka menghindari panas.
"Itu poin nya! Kelahiran dan apa yang kita lakukan. Dua hal yang harus kita cari tahu. Kenapa kita dilahirkan dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Kematian? sebagaimana maknanya, kematian adalah akhir dari perjalanan."
Untuk sesaat mereka saling terdiam. Kepala mereka memunculkan pertanyaan yang mungkin mencoba mencerna panas. Udara yang dihembuskan pohon masih terasa sejuk walakin tidak lagi senikmat saat pertama mereka mulai berteduh. Panas yang semakin terik sekarang memantul menerpa mereka melalui permukaan jalanan. Namun masih terasa cukup menyegarkan untuk membuat bola pikiran meliuk-liuk menelusuri labirin.
"Jadi kau sudah mendapatkan jawaban mu?" Hens balik bertanya. Dia kemudian menuangkan kembali air botol di genggamannya yang tersisa setengah kedalam mulutnya. Tanpa terputus, isi botol tersebut sekarang berganti dengan udara. Hens kemudian meremas botol tersebut dan melempar ke arah tong sampah berwarna kuning. Suara denting antara botol yang masuk tidak sempurna ke dalam wadah sampah seolah mempertegas keraguan dalam pertanyaan Hens.
"Entahlah.. tapi menurutku disaat kau menemukan jawaban mu, disaat itu lah kematian menjemput mu." Kiev menghela nafas pendek. Lagi, kopinya dia minum. Kopi tersebut masih terlihat berisi air hitam pekat beserta ampas yang sudah terlihat jelas. Namun Kiev terlihat sudah bosan. Lalu dia berjalan ke arah tempat sampah dan memasukkan gelas tersebut ke wadah yang sama dengan lemparan Hens. Setelah itu dia berjalan ke arah pak tua dan menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral. Dia sadar jika memilih kopi hitam, disaat kelelahan, dan hari yang panas, adalah pilihan yang konyol.
"Dengan fakta bahwa aku masih bisa bernafas dan minum kopi di tepi sungai bersama orang paling menjijikan di dunia, aku rasa aku belum menemukan jawaban ku." Kiev melanjutkan setelah kembali ke tempat duduk sebagaimana posisi nya sebelumnya. Yang membedakan hanyalah jenis minuman yang digenggamannya.
"satu pertanyaan lagi.. apa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" Hens memandang Kiev penuh dengan penantian.
"Jika dikatakan 'iya', sejujurnya aku tidak tau.. Jika dikatan 'tidak', aku tidak bisa bilang begitu. Aku hanya memandu diriku dengan apa yang pikiran pertama ku ingin melakukan. Seperti, ketika saat ini tiba-tiba pikiran ku memberikan perintah untuk beranjak, aku akan segera beranjak. Aku tidak ingin menunda-nunda apa pun. Karena menurut ku, apa yang pikiran pertama ku katakan, itu adalah pemberitahuan dari sang pencipta. Itu seperti sinyal, alarm, atau alert system yang sudah tertanam didalam setiap diri manusia. Yang perlu kau lakukan adalah mendengarkan." Kiev berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Lalu dia membuka tutup botol dan menelan cairan didalam nya.
"Sekarang aku tau kenapa kau begitu terlihat impulsif." Hens berdecak dan ujung bibir nya terangkat. Disekitar matanya terbentuk kerutan seiring senyuman itu. Kiev membalas tersenyum dan melanjutkan perkataannya.
"Tapi ada kalanya aku membatasi diri. Jika yang hendak aku lakukan mengusik kehidupan orang lain secara langsung, aku selalu mengatakan tidak pada diri ku sendiri. Yah.. semacam itu lah."
Hens menguap lebar setelah beberapa saat mereka berhenti sejenak untuk menikmati keheningan yang hinggap secara tiba-tiba.
"Aku masih ingin berpesta setelah kematian mu, kau tau. Bahkan dengan tambahan party sex akan membuat ku semakin bersemangat. Aku juga akan menuangkan Romanee Conti di atas batu nisan mu agar kau menyesal telah mati, idiot."
"Lakukan saja sesuka mu." Kiev tertawa lalu berdiri dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan kearah taman yang membelakangi sungai. Hens mengikuti dari belakang setelah membeli satu botol air mineral lagi dari pak tua yang masih duduk menyandar di pagar pembatas.
Eager of the Winds (2)
Wanita penuh lemak serta kerutan yang jelas disekitar garis hidungnya sekarang sudah berada disisi meja mereka. Cangkir-cangkir yang terbuat dari tanah liat lalu diturunkan wanita tersebut.
"Macchiato dan Espresso tuan." suara datar yang tertahan keluar, serentak dengan tangan berat si wanita meletakkan cangkir-cangkir tersebut. Tidak ada garis semu yang mengambang terpancar diwajah itu untuk sekedar beramah tamah.
"Terima kasih nyonya Mundi. Bagaimana hari ini?" Houlier menggeser cangkir yang berisi Espresso Macchiato ke arah Jack.
"Sama saja tuan. Tidak ada yang berbeda selain panggung-panggung yang sudah hampir selesai diujung sana." nyonya Mundi menelengkan kepala dengan bibir dimajukan. Bibir tebal yang penuh tersebut membentuk seperti bunga kecubung.
"Tidak, maksudku, bagaimana cafe hari ini? Apa seperti kemaren?" Houlier menggeser gula serbuk yang ada disebelah gelas. Dia memang lebih menyukai espresso tanpa tambahan apa pun. Rasa pahit dari aroma kopi sesungguhnya adalah kesenangan baginya.
"Ya, hanya beberapa orang yang datang dan kebanyakan turis --seperti biasanya." nyonya Mundi mendekap baki yang sedari tadi dibiarkannya menggantung diujung tangannya. Bentuk tangan yang berlipat-lipat tersebut bisa dibilang mirip dengan kaki gajah saat ditekuk.
"Yah mungkin kita harus mengadakan promosi. Nanti akan aku pikirkan nyonya Mundi." Houlier mengembangkan sedikit senyum tipis. Hanya bibir tersimpul yang ada disana tanpa gigi-gigi yang muncul. Dan itu juga merupakan sebentuk isyarat untuk nyonya Mundi jika obrolan mereka telah usai. Lalu nyonya Mundi pergi berlalu ke dalam cafe dan seketika lampu cafe menyala terang menggantikan sinar matahari yang telah hilang.
"Apakah dia benar-benar akan datang hari ini?" Houlier menatap jam ditangan nya. Jarum-jarum pada jam yang terbuat dari kayu juniper yang dipesan khusus pada pengrajin kayu ternama Valerii Danevych, serta kulit pada bagian pengikat nya itu sekarang telah menunjuk pada angka tujuh dan tiga. Ukiran-ukiran pada jam tersebut tampak sangat mengesankan.
"Bersabarlah.. Nyura selalu tepat janji." Jack mengangkat cangkir macchiato nya. Susu yang mengapung diatas cairan hitam pekat espresso tersebut sekarang tidak lagi berbentuk. Sebagian telah masuk kedalam mulut nya.
"Yah selalu tepat janji.." Houlier mendesah.
"Maksud mu?" Jack menelengkan kepala. Cangkir macchiato nya diletakkan dengan agak kasar sehingga menimbulkan bunyi dentingan yang tersedak.
"Kau tidak ingat saat dia menyuruh mu menunggu.. maksud ku, cincin itu.. ayo lah." Houlier menatap Jack lekat-lekat. Seolah-olah ingin menyampaikan 'Hei, berhentilah terlalu berharap'.
"Yah, mungkin ini lah waktu nya. akhir penantian.." Badan Jack bergoyang terkekeh. Kepalanya tertunduk. Jack sadar jika dirinya terlalu lemah terhadap wanita itu. Nyura. Ya, wanita yang memiliki warna bola mata yang sama dengan nya.
"Bisa kah kau memberi ku sedikit kata-kata positif? Maksudku, kau tau, dia lah yang membuat ku luluh." Jack mengeluarkan kata-kata puitis nya. Membuat Houlier hampir tersedak karena menahan gelak tawa.
"Ok.. baik lah aku menemani mu." kata Houlier sembari meluruskan posisi duduknya. "Dan jangan pernah memohon seperti itu lagi di depan ku. itu menggelikan." Houiler mengalihkan tatapan nya kearah sinar bulan. Sekarang dirasakannya kaki nya telah cukup penat karena terlalu lama duduk menunggu. Tidak seperti yang dirasakannya ketika sedang sibuk menatap kertas-kertas kusam penuh coretan seperti yang biasa dilakukannya.
"Lihat.." Jack bergumam. Kepalanya digoyangkan ke arah wanita tersebut.
"Yah akhir penantian.." Houlier kembali menelan cairan hitam pekat yang ada didekatnya.
"Aku tidak punya alasan untuk ini.." Nyura menempelkan pipi nya pada Jack dan Houlier secara bergilir. Rambut panjang nya yang diikat membentuk kuncir kuda bergoyang-goyang seiring pergerakan kepala nya.
"Yah.. seharusnya kau memberi alasan yang cukup kuat. Kalau bukan karena desakan Jack aku tak akan sudi menunggu. Terus terang saja." Timpal Houlier memalingkan tatapannya ke arah lampu-lampu besar yang berjejer di sepanjang pagar pembatas pantai.Tanpa ada pemberitahuan apa-apa, Nyura sekarang sudah berada dihadapan Houlier dengan kedua kaki ditekuk. Lutut-lutut nya bersentuhan dengan lantai papan yang tebal. Kepala nya ditundukan dan tangannya didekapkan sejajar dengan kepala tersebut.
"Maafkan aku Ayah. Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud melukai perasaan mu." Nyura mengatakan permohonan itu lamat-lamat dengan suara yang dibuat terisak-isak.
"Aku tidak tau lagi harus berbuat apa putri ku. Jika itu pilihan mu..." Houlier menggemgam tangan Nyura dengan sebelah tangannya. Tangannya yang satu lagi disembunyikan di belakang punggung nya. Kalau saja itu pertunjukan opera, orang-orang pasti akan terkesima dengan akting yang ditampilkan mereka.
"Oh tuhan.. jangan mulai lagi.." Jack mengeram dengan tangan yang dilemparkan menggantung setinggi dada lantas berjalan pelan kearah pagar yang membatasi cafe tersebut. Tidak sampai sepuluh langkah, Jack sekarang sudah berada di sisi pagar lalu menopangkan tangan nya pada balok penyusun pagar tersebut... tbc
Eager of the Winds (1)
"Kegilaan ini benar-benar membuat mu bergairah pak tua?" Suara keras dan berat menggema dari balik belakang telinga Houlier. Dia hampir terjungkal dari kursi kayu yang sudah mulai goyah karena sering bertumpu dengan dua kaki oleh ulah Houlier. Sekarang kursi tersebut melakukan kebiasaannya lagi dan Houlier benar-benar terjungkal dari kursi yang menjerit muak tersebut.
"Sialan kau Jack! Tidak bisakah kau sekedar menghempaskan lemari tua ku untuk memberi tanda?!" Houlier mengeluarkan nada-nada sumbang yang beraroma busuk dari mulutnya yang kering karena lupa untuk minum. Masih dari posisinya yang terjungkal dan ditutupi oleh tubuh jack yang membungkuk dengan ekspresi mengejek lantas Houlier mencoba meraih wajah mencibir yang menggodanya tersebut. Gerak tangan nya cepat tetapi perpindahan tubuh Jack pun tak kalah cepat. Diiringi tawa yang menggema Jack mengacak-acak kertas-kertas kusam yang sedari tadi dipatut Houlier. Urutannya sekarang sudah tidak benar. Dan itulah tujuan Jack. Dia sangat suka untuk menggoda sahabat gila nya tersebut.
"Kau benar-benar sialan! Aku baru selesai menyusun kertas-kertas tersebut kemaren!" Suara Houlier terdengar sayup-sayup. Diiringi rengekan layaknya anak kecil yang sudah terlalu lelah menangis.
"Baru tiga hari yang lalu kau melakukan ini... oh tuhan! Dasar kau bajingan!" Houlier mengerang. Jack menghentikan ulahnya lalu mengubah posisi arah berdirinya. Dia memutar badan dan sekarang dia berhadapan dengan Houlier yang sekarang terlentang dengan tangan mengambang. Jack menatap rambut temannya yang tergerai kembang membentuk mahkota serupa mahkota penyihir yang terbuat dari kotoran kelelawar yang ditumpuk asal.
Jack mengulurkan tangan. Telapak tangan besar khas tangan pelaut menggantung tepat dihadapan wajah Houlier. Dan Jack bukanlah seorang pelaut. Jack adalah seorang sastrawan --walaupun dia sendiri tidak pernah mengakui jika dia seorang sastrawan, karya nya yang berupa cerpen-cerpen singkat dan puisi banyak dibahas media-media ternama. Telapak tangan besarnya dia dapat dari warisan kedua orang tuanya yang berdarah gipsi.
Houlier diam mematung. Tak ada ekspresi apapun yang terpancar diwajahnya yang sudah penuh dengan kerutan. Bahkan matanya berkedip pun tidak.
"ayolah pak tua! Kadang kau seperti anak-anak!" Houlier menelengkan wajah. Mata yang dihiasi bola kecil berwarna biru bergerak mengikuti arah wajahnya menghianati langit-langit yang sedari tadi ditatap nya. Untuk sejenak Houlier hanya menatap Jack dengan tatapan yang sama dengan saat dia menatap langit-langit yang temaram karena cahaya lampu pijar yang tidak sepenuhnya terang.
Menyaksikan itu Jack berdecak sembari menggoyangkan kepala memberi pertanda untuk segera meraih tangannya yang sudah mulai terasa berat karena hasrat gravitasi yang diburu waktu.
Houlier menyambut tangan Jack yang dengan sigap menarik tubuh Houlier untuk berada dalam posisi tegak. Bukan karena Houlier tidak mampu berdiri sendiri, Jack tau itu, hanya Jack sudah cukup mengerti dengan Houlier. Jack tau jika drama yang terpendam didalam jiwa temannya --hingga menjadi karakter, harus tersalurkan. Jika saja Jack tidak membantu temannya yang terjungkal tersebut untuk berdiri, mereka pasti akan bertengkar. Houlier begitu mau diperbudak jiwanya yang sangat melankolis itu, pikir Jack.
"Bagaimana bisa kau tidak bersuara setiap kali masuk ke kediaman ku?" Houlier merapikan rambut nya.
"Telinga mu mungkin sebaiknya diajak berkunjung ke tempat Miss Gringer. Dia pasti tau solusi nya." Jack berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat disebuah bingkai tua dan mendapati diri nya samar-samar dibalik cermin yang menempel pada bingkai tersebut.
"Dan lampu yang sudah muak itu, sebaiknya kau beri dia kesempatan untuk beristirahat. Saatnya percaya pada generasi baru." tangan-tangan besar Jack menyapu bagian atas bingkai yang diukir gaya tahun 1500-an tersebut.
"Miss Gringer.. Dokter muda cantik yang penuh pesona. Suatu saat kami pasti akan menikah. Dia menunggu ku." Houlier tampak telah selesai memasukkan kertas-kertas yang berserakan ke dalam bilik kecil dibagian bawah dekat kaki meja tempat dia biasa merenung.
"Menunggu kata mu?! Hei! Kau sudah kepala tiga! Seharusnya kau nikahi dia sekarang jika kau memang tertarik kepadanya!" Jack terkesan tidak senang mendengar pernyataan temannya tersebut. Tangan nya masih dengan hati-hati membersihkan debu-debu yang sudah mulai mengeras. Kali ini dua jarinya dililit oleh kain yang dia dapati tertumpuk disebuah kursi disebelah nya.
"Bisa kita keluar sekarang? Aku sudah selesai." Houlier menghampiri Jack dengan gontai. Kakinya terayun dengan lembut namun terdengar pasti disetiap pijakannya.Jack berhenti melakukan usahanya untuk menyelamatkan cermin tua antik nan cantik dari sepasukan debu lalu berpaling dan menatap Houlier yang berjalan menghampirinya. Dia mengamati Houlier dengan seksama yang memakai celana katun warna merah yang dilipat, polo hitam dengan kancing yang tidak terpasang, serta sepatu kets putih yang sudah memudar. Jack lalu mengamati rambut yang kata Houlier sudah dirapikannya, tetapii Jack mendapati rambut tersebut mirip kumpulan liur burung walet yang sudah mengeras membentuk sarang. Jack mendesah pelan lalu tanpa sepatah kata mereka keluar dari sarang Houlier yang merupakan neraka bagi Jack.
"Untuk memeluk sesuatu yang besar memang sudah seharusnya secara perlahan-lahan." Houlier berbicara lalu begitu saja. Pandangan nya lurus menatap kemilau cahaya keemasan yang dibalut garis-garis kemerahan yang mengambang dihadapannya. Tangan kanannya berpangku pada meja putih yang terbuat dari besi yang sepertinya sangat terawat. Tidak ada bekas-bekas karatan di kaki meja tersebut. Houlier selalu mengecek setiap tempat yang dia singgahi --kecuali benda-benda di rumahnya tentu saja.
"Jika datang dengan tergesa-gesa sesuatu yang kecil akan hancur tak berbentuk. Lebih buruk dari kotoran burung yang sedang terbang." Jack menimpali. Rayban hitam menutupi matanya dan menggantung pas pada hidungnya yang mancung dengan gumpalan daging kecil di ujung nya. Kaki nya yang ditumbuhi rambut-rambut kasar yang keriting saling menyilang. Sepatu Crocs tideline kanvas berwarna krem begitu padu dengan celana pendek yang dipakainya dengan warna yang sama. Bagian atas Jack memakai polo berwarna putih.
"Terus bergerak dan membiarkan waktu menyatukan ruang kelihatannya pilihan yang cukup bijak." Houlier menelengkan wajah kearah Jack. "Aku melakukan pengkajian terhadap gravitasi Newton." kata Houlier tiba-tiba.
"Lantas?" Jack melepas Rayban nya. Matanya yang tajam ikut berpaling dari cahaya keemasan yang sudah memudar. Bola mata hitam yang pekat seperti biji lengkeng sekarang menatap Houlier sebelum akhirnya berganti ke arah sosok wanita paruh baya yang menenteng baki dengan ujung-ujung sendok yang mencuat, berjalan kearah mereka.
"Aku sempat terpikir jika saja gaya tidak ada, lalu apa yang menggerakkan benda-benda?"
"Lalu kenapa lalat masih angkuh terbang dari tiap-tiap sampah dan mengira jika sayap merekalah yang menolong mereka?" Jack menimpali lagi dan kembali membuat Houlier tersenyum --senyum yang disembunyikan.Houlier terlalu angkuh untuk memunculkan emosi positif nya terhadap temannya tersebut. Dia tau jika obrolan seperti ini lah yang membuat dia dan Jack menjadi teman sejak pertama kali mereka berjumpa pada sebuah pekan ilmiah. Kala itu mereka sama-sama mahasiswa baru yang tertarik dengan bagaimana bentuk kegiatan yang bersifat ilmiah. Dan Houlier tidak pernah bertanya kepada Jack apakah dia berpikiran sama --tentang alasan mereka berteman, Houlier hanya menerka-nerka di kepala nya saja tanpa pernah menyampaikan... to be continued
Patency of Nothingness
Kau tau teman, aku menyayangkan sikap mu yang rela mati konyol karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang rela mengakhiri diri dengan tangannya sendiri
Kau tau teman, aku menangisi sikap mu yang terpuruk karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang selalu murung di sudut kamar di balik jendela di dekat sorot cahaya
Kau tau teman, aku membenci sikap mu yang selalu terbakar karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang menghancurkan meja-meja yang tertata di aula
Kau tau teman... terlalu banyak yang tidak kau ketahui untuk aku ajari.
Aku sudah berada di level ketidakacuhan yang paling tinggi yang pernah aku capai.
Aku tidak acuh pada kata cinta.
Aku tidak acuh pada kata benci.
Aku tidak acuh pada kata peduli.
Aku tidak acuh pada kata mengasihi.
"Apa alasan mu?! kau bahkan tak pernah cukup peduli pada diri mu sendiri!"
"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak meminta mu untuk bertanya!"
"Itu alasan ku. Kau harus lebih tenang."
.............
"Aku tidak bisa tenang melihat diri mu! Kau penuh keterpura-puraan!"
"Aku?"
"Ya, kamu! Iblis kecil yang sekarang sudah besar!"
"Apa aku masih terlihat seperti iblis?"
"Kau menipu ku dengan muslihat mu!"
"Tenanglah kawan.. Ini aku. Aku yang penuh keterpura-puraan."
"Aha!! Akhirnya kau mengakuinya dasar jahanam! Kenapa kau berpura-pura?!"
"Entahlah.. Aku tidak pernah merasa demikian."
"Aku lelah.. sangat lelah," tubuhnya terkulai "Siapa kau?"
.............
"Aku?"
"Hanya kita berdua disini! Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ku?"
".... Kau..."
"Yah, aku tidak pernah berpura-pura. Ini aku."
"Lalu aku ini siapa?"
"Kau adalah Aku. Lihatlah sekeliling mu."
.......
"Semua ini nyata?"
"Bukan. Kau tidak nyata. Aku lah kenyataan."
"Bagaimana bisa kau mengatakan demikian?" suaranya melunak
"Kau sudah pernah hidup dalam tubuh ku. Aku sudah pernah hidup dalam pikiran mu. Dan sekarang semua telah berlalu."
"Lalu siapa orang-orang ini? Mereka tersenyum pada ku."
"Mereka?"
"Aku tidak sanggup lagi..."
"Mereka adalah aku. Bagian diri ku. Bagian yang selama ini kau anggap keterpura-puraan."
Kau tau teman, aku mencintai mu yang mati dalam pangkuan ku karena cinta. - teruntuk bagian diri ku yang telah menjadi masa lalu dalam kedamaian.
Lenovo A6000 (Personal Review)
Gimana gimana?? Keren kagak?! Menurut gue sih keren.. Simple, Slim, dan Elegant gitu..
Yap, Lenovo A6000 menggunakan processor 64-bit Qualcomm Snapdragon 410 sebagai processor nya sehingga dapat menyematkan beberapa fitur yang cukup handal seperti:
Berkat GPU dan CPU ini, bro and sist dapat berpindah-pindah membuka kamera, muter lagu, muter video, main game, dll dll dengan cepat. Bukan bro and sist nya yang pindah lho ya..
Dengan kecepatan transfer data secepat ini, bro and sist semua gak usah takut dengan namanya buffering pada saat streaming online! (tergantung provider jaringan yang dipake juga sih. Kalo provider nya abal-abal, ya sama aja boong)
Pengen Selfie? Bisa!! Pengen hasil selfie nya keren? Bisa!! Pengen foto-foto di tempat yang gelap? Bisaa~~
Berkat layar HD, resolusi tinggi, serta ukuran layar yang lebar, tampilan UI A6000 ini akan terlihat jelas dan terang. Serta dengan teknologi IPS bro and sist bisa melihat tampian layar dari semua sisi dengan lebih leluasa.- Expandable Storage hingga 32Gb
Dengan memori internal yang sudah tertanam berukuran 8Gb, bro and sist masih bisa menambah space memori dengan external micro SD hingga 32Gb jika masih dirasa kurang. Gede banget ya.. Bisa nyimpen videoehem, nyimpen lagu-lagu keren, foto yang banyak, dll.
Sim yang satu buat pacar dan satu lagi buat gebetan? Bisaaa~~
Fitur tambahan lainnya..
- Dari segi suara, pada Lenovo A6000 ini juga telah disematkan dua speaker berdampingan dengan tambahan Dolby Digital Plus
Secara nih ya, gue itu seorang music addict, dengan tambahan Dolby Digital Plus, gue gak perlu takut dengan suara musik yang jelek dengan menggunakan Lenovo A6000 ini. Bahkan saat bising pun suara yang dikeluarkan Smartphone ini bakal terdengar lebih dalam dan jernih.- Guvera music app
Bro and sist doyan musik? Tentu lah ya!belum pernah gue denger ada orang yang phobia sama musikBro and sist pengen selalu up to date dong sama musik-musik terbaru. Dengan Aplikasi Guvera yang sudah ditanamkan langsung saat pembuatan, bro and sist gak usah takut ketinggalan untuk mendengarkan musik-musik terbaru dan itu bisa didapatkan dengan cuma-cuma alias gratisss!
Kalo kekurangan Lenovo A6000 ini sih menurut gue cuma dari segi RAM yang hanya 1GB. Yang lain gue belum bisa ngasih tau, secara nyobain aja belum.. Tapi dari spesifikasi yang beredar *bisa dilihat di sini, untuk Smartphone low-end dengan harga satu jutaan, jelas, Lenovo A6000 ini sangat patut untuk dicoba. Dan kalian bisa memesan secara langsung di Lazada pada tanggal 19 maret besok!
Referensi: Qualcomm, Lenovo, GSMarena, Lazada
Good Vibe
Kau melarang ku untuk melakukan hal yang aku suka dari lima menit kita pacaran. Dan aku sudah merasakan penyesalan pertama saat itu. Dan kau tau, jika aku meminta tambah ke pelayan bar ini untuk satu gelas whiskey lagi, percayalah, itu bukan karena mu. Aku mencintai Whiskey melebihi apa pun. Dan juga musik country yang di putar di bar ini saat ini, mengalahkan rasa cinta ku pada mu.
Aku tidak pernah malu untuk mengakui pada orang-orang disekitar ku jika aku pecandu whiskey. Mereka juga tidak akan peduli. Teman-teman mu, ah sudah lah, kau bahkan tidak pernah membicarakan aku di depan mereka. Whiskey ini lebih berharga dari mu, asal kau tau. Dan musik Country yang sedang berdendang ini, aahh aku lupa jika kita pernah menjalin hubungan.
Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Mobil untuk Ibu
"Ibu, dani mau mobil-mobilan itu?" kata ku. Aku meminta itu saat Ibu sedang sibuk menumpuk beberapa karton untuk di jual. Aku berdiri di sebelah mu.
"Harganya berapa?" kata mu
"50ribu." kata ku. Lalu kau berhenti mengikat karton-karton tersebut. Kau mengangkat tubuh lemah mu supaya berdiri. Kau menatap aku dengan tatapan iba.
"Bisa ditunda dulu Dani. Ibu akan membelikan mu minggu depan." kata mu
"Aku mau sekarang! Teman-teman ku di sekolah sudah punya mainan itu sejak lama.." kata ku merengek. Dan kau tidak tahan melihat ku menangis lalu menawarkan ku untuk menolong mu.
"Bisa kau bantu Ibu untuk mengepak karton-karton ini? Ibu akan membelikan mu sekarang." kata Mu. Kau tau Ibu, saat itu aku seperti orang baru menemukan tambang emas.
Setelah beberapa saat aku menolong mu baru lah aku tau jika pekerjaan mu tidak lah mudah. Kau mengepak karton demi karton yang kau kumpulkan dari tempat-tempat sampah dan dari rumah ke rumah. Aku mengikuti mu seharian itu dan aku tau betapa rendahnya kau di pandang orang-orang. Saat itu aku tidak berani mengatakannya pada mu. Hingga kau berhasil mendapatkan uang 50ribu itu dan kau memberikannya kepadaku untuk membeli mobil-mobilan seperti yang aku minta, dan aku akhirnya lebih memilih untuk membeli sebuah celengan dan menabung uang yang kau berikan itu. Kau memeluk ku. Dan aku tidak tau apakah kau menangis saat itu karena rasanya hangat.
Dan sekarang aku menjadi pengusaha mobil sesungguhnya ibu dan ku harap kau tersenyum melihat ku dari atas sana. Jika kau masih hidup tentulah aku ingin mengajak mu berkeliling dengan mobil-mobil ku.
Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Mr. Nerd and The Coffee Shop
Listen to this while you are reading to make sense One Direction - Night Changes
Aku tidak tau dari mana cerita ini berawal... Saat itu aku menemukan gadis ini disebuah kedai kopi tua yang ada di tepi jalan M. Yamin. Dia terlihat sangat kalut. Pakaiannya benar-benar formal untuk ukuran seorang gadis muda yang seharusnya menikmati masa-masa "centil". Bedak tebal dengan perona pipi yang tidak merata menempel di wajahnya. Dia memakai sepatu heels yang 'hak nya telah patah. Sepertinya sengaja dipatahkan karena ada bentuk tidak rata di kedua bekas patahan heels tersebut. Dan itu terlihat baru. Heels itu dia letakkan di kursi tepat di sebelah nya.
"Apa yang kau pikirkan gadis muda?" Aku menghampiri si gadis kalut dan duduk disebelahnya. Aku memindahkan letak heels ke bawah. Si Gadis dengan sigap menyambut tangan ku dan mengambil kembali heels nya. Dia meletakkan heels tersebut disebelah kanan nya.
"Jangan sentuh atau ibu ku akan membunuh mu!" Dia seperti sangat ketakutan. Pandangannya tertuju pada gelas kopi yang terisi setengah di hadapannya.
"Aku hanya memindahkan nya. Tidak apa gadis muda." aku memesan kopi dengan sedikit gula pada seorang bapak tua yang seluruh kulitnya sudah tampak keriput. Kira-kira umurnya 70an jika dilihat dari bentuk kulitnya.
"Aku Nerd. Boleh tau nama mu?" aku kembali menatap si gadis muda yang layu.
"Nerd? Nama macam apa itu?" kata si gadis muda. Matanya besar, bulat, dan cekung seperti mendapati sebuah keraguan.
"Orang-orang memanggil ku Nerd dan aku suka itu.." kata ku
"Nama mu?" aku kembali menanyai nya
"Entah lah.. aku tidak tau." badannya dirapatkan seperti mendapati suatu ketakutan. Matanya masih membulat cekung.
"Mungkin aku lancang, tapi tampaknya kau butuh teman berbagi cerita. Kau boleh cerita pada ku, aku akan dengan senang hati mendengarkan." kata ku
"Tidak.. tidak ada yang perlu aku ceritakan.." kata si gadis muda terburu-buru
"kalau begitu kau mau mendengar cerita ku? Aku punya sedikit stok cerita dongeng, mungkin bisa menghibur mu." kata ku. Si gadis muda hanya diam menatap gelas kopi nya.
"Baiklah, aku akan bercerita dengan gelas kopi ku." kata ku menyambut pesanan kopi ku yang telah jadi.
Kedai kopi tersebut hanya berbentuk satu gubuk kecil dengan meja yang membentang di depan gubuk tersebut. Dua buah kursi panjang mengisi sisi-sisi meja. Kami duduk menghadap ke arah gubuk dan hanya ada aku, si gadis kalut, dan pak tua sang penjual kopi disitu. Lampu jalan temaram yang ditutupi pohon jalan yang tumbuh dibawahnya membuat suasana kedai kopi tersebut remang-remang.
"Gelas, kau tau sudah kemana aku melangkah?" aku mengeluarkan sendok yang ada dalam gelas dan memukulkannya ke sisi gelas kopi ku. Hingga bunyi berdenting dan menarik perhatian si penjual kopi dan si gadis muda yang kalut.
"Aku tidak kemana-mana. Aku pergi dari satu daerah ke daerah lain, tapi aku masih di Bumi." kata ku lagi. Aku melihat dengan sudut mata apakah si gadis kalut mendengarkan atau tidak. Jika dia terlihat termenung lagi, aku dengan segera mendentingkan gelas kopi ku.
"jika pun suatu hari nanti aku dapat pergi ke Mars atau Jupiter, aku masih dalam Solar system." kata ku lagi. Aku menatap gelas ku seolah-olah dia mendengarkan ku.
"Jika pun suatu hari nanti aku bisa keluar dari Solar system, aku masih berada di Milky way." kali ini aku meminum kopi ku karena haus.
"Aduh maaf aku menelan mu! Kamu masih bersisa jadi tetap lah dengarkan aku." kata ku. Si gadis muda tampak masih mendengarkan ku. Si pak tua penjual kopi pun masih antusias memperhatikan ku.
"Sebenarnya aku, kau, dan semua yang ada disini dan dimanapun tidak pernah kemana-mana, kau tau?" kata ku menggoyang-goyang gelas kopi tersebut.
"Tidak tau? Tentu saja kau tidak tau! Kau hanya segelas kopi hitam, pekat, dan pahit. Kau hanya melayani orang lain dalam gelas mu!" kata ku masih memandang kopi ku.
"Tapi kau tau, aku sangat suka pada mu.. Kau mebuat ku nyaman. Karena pahit mu kau tidak pernah berharap untuk menjadi gula dan kau tidak pernah membiarkan orang lain mengubah mu menjadi teh. Kau berteman dengan mereka dan menjadi diri mu sendiri."
"Dan ketika kau masuk ke perut ku, itu tanda aku berterima kasih pada mu. Aku sangat menghargai mu karena kau menjadi diri mu sendiri." aku menggoyangkan lagi gelas kopi ku dan meminum nya. Masih tersisa seperempat gelas lagi.
"Aku tau kenapa orang-orang memanggil mu Nerd. Kau memang culun. Kau mengobrol dengan kopi!" kata si gadis kalut masih dengan tampang meragu.
"Bukan kah itu bukan urusan mu?" kata ku lalu menatap lagi gelas kopi ku. Si gadis kalut ternyata tidak mendengarkan perkataan ku yang terakhir.
"Ibu ku selalu memaksaku memakai semua ini.." dia mengembangkan tangannya ingin memperlihatkan apa yang ia pakai. Aku berhasil membuatnya bicara.
"Dia selalu memaksaku untuk tampil cantik dengan pakaian-pakaian sialan ini dan juga alat-alat kosmetik yang aku sudah tidak ingin melihat nya." Air matanya mengalir dan tangannya dengan kasar menggosok-gosok wajahnya yang di tutupi bedak.
"Apa aku terlihat seperti badut?" Dia menanyai ku dengan tatapan putus asa. Aku hanya diam tidak menjawab.
"Aku menginginkan memakai sepatu kets, celanaj jeans, dan baju kaus, dan juga topi.... Aku ingin rambut ku jatuh sebagaimana ada nya.... A..Aku menyukai diri ku apa adanya... Aku tidak suka yang berlebihan dan dia terus memaksa ku." Nada suaranya meninggi dan terbata-bata. Si kakek tua penjual kopi tampak tertegun menatap gadis yang berpakaian formal yang ada di depannya.
"Aku hanya ingin menulis... Aku hanya ingin melukis... Aku hanya inginkan itu.. Aku tidak menginginkan yang lain.. Aku tidak menginginkan semua ini." Dia mengacak-acak rambut nya yang tersanggul rapi dan menutup wajahnya dibalik kedua tangannya. Rambut gadis ini ikal dan lembut. Cantik terjurai cukup panjang.
Aku merangkul si gadis kalut. menepuk pundak nya beberapa kali dan mengusai rambutnya.
"Kenapa kau tidak pergi saja?" kata ku mencoba memberi saran
"Kemana aku harus pergi? Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu ku.." kata nya
Aku mengeluarkan sebuah pemutar musik di saku celana ku dan memilih sebuah lagu "1D - Night Changes". Aku menyuruhnya untuk bangkit dan memasang earphone yang ada di tangan ku.
"Coba dengarkan lagu ini.." kata ku. Si gadis kalut memasang earphone tersebut dan mendengarkan lagu yang ku pilihkan. Kepalanya sudah tegak untuk mendengarkan lagu itu.
Setelah beberapa saat dan beberapa kali dia meminta lagu tersebut untuk di putar ulang, wajahnya terlihat berseri. Rona motivasi muncul di pipinya mengalahkan pewarna yang ada disana.
"Boleh aku ikut dengan mu, Mr Nerd?" kata Si gadis.
"Aku akan pulang mengambil barang-barang ku yang tidak seberapa, meninggalkan surat untuk ibu ku yang mengatakan 'betapa aku menyayangi nya dan akan kembali lagi jika aku sudah cukup dewasa dengan pilihan ku' dan akan kembali kesini. Ibu ku mungkin belum pulang jam segini." kata Si gadis. Matanya tampak berseri-seri
"Kalau boleh tau, apa pekerjaan mu, Mr. Nerd." kata Si gadis muda pada ku.
"Aku tidak pernah bekerja dan tidak pernah memiliki apa-apa. Aku menikmati hidup dalam perjalanan." kata ku
"Kau mau mengajak ku kan?" mata Si gadis kalut sekarang tidak cekung lagi. Matanya berisi dan itu adalah perubahan yang sangat cepat yang pernah aku lihat dalam diri seseorang.
"Aku tidak pernah mengajak siapa pun. Jika kau mau ikut, ayo kita pergi berjalan bersama." kata ku
"Kau tunggu aku disini.. Aku akan kembali.. hanya beberapa menit.." kata si gadis lalu membayar kopinya dan bersiap untuk pergi.
"Oh iya Mr. Nerd, perkenalkan aku Miss Weird." dan Si gadis pergi dengan terburu-buru tanpa alas yang melindungi kaki nya. Sepatu heels yang sedari tadi dijaganya sekarang dia tenteng di kedua belah tangan nya.
Aku meminta tambah kopi satu gelas lagi pada Pak tua penjual kopi. Dia menatap ku tersenyum sembari menunjuk-nunjuk ku dengan telunjuk keriputnya.





