Jarum jam berdetak pelan. Begitulah yang dirasakan orang-orang yang sedang resah menunggu sesuatu yang amat penting. Satu menit seperti satu jam dalam penantian. Satu jam seperti seharian yang dibayangkan nya. Begitu lah yang dirasakan Ayumi. Seorang Ibu muda berparas cantik dari kota kembang dan sekarang menetap di Surabaya bersama suaminya. Dan waktu itu jarum jam tersebut baru berputar satu putaran sejak dia menoleh untuk yang kedua kalinya.
Tangan kecil nya memainkan sebuah sendok yang digenggam nya sedari tadi. Sendok yang bergagang panjang dan terbuat dari besi itu di pukulkan ke lemari yang berada di atas kepala nya. Tidak keras memang, tapi cukup untuk menandakan betapa gelisah nya dia.
Ayumi memiliki paras yang sangat cantik. Maksudku semua yang ada di wajah nya terlihat cantik. Matanya yang bulat dan agak meruncing di bagian tepi --dan aku yakin itu bukan eyeliner. Alis nya lurus panjang tertata rapi, dan di ujung nya terdapat sedikit cengkokkan menandakan garis tengkorak wajah nya. Dan keseluruhan itu natural tanpa dibuat-buat. Wajah nya tidak terlalu simetris, maksud ku, ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Dan itu kelihatan menonjol karena ukurannya seperti titik yang dibuat dengan pena dan diperjelas supaya lebih jelas.- kau tau maksudku kawan. Ditambah lagi kulit nya yang putih bening seperti wanita-wanita yang memamerkan kulit mereka di iklan produk kecantikan. Tapi hal yang paling aku suka dari wajah ayumi adalah hidung nya. Bentuk nya unik--cukup unik menurut ku. Bagaimana tidak, semua keindahan yang terpajang rapi di wajah nya seperti dibuyarkan oleh bentuk hidung nya yang mirip paruh elang. Orang-orang yang melihatnya pasti akan langsung memperhatikan hidung nya dan sedikit tertawa geli. Hidung nya tidak jelek tapi menurutku hanya sedikit menonjol. Dan begitu lah, orang-orang akan sibuk mengatakan 'Andai saja..' pada hidung nya karena menginginkan kesempurnaan... Kesempurnaan yang semu.
Ayumi menunggu dua hal yang sangat penting malam itu. Masakan yang belum selesai dimasak dan kepulangan suaminya yang telah lewat dari jam biasanya. Tepat nya telah satu jam berlalu dari kepulangan suaminya yang seharusnya. Dan sekarang sudah menunjukan pukul 10 kurang.
Ayumi benar-benar tampak resah. Ditinggalkannya masakan yang belum matang tersebut dengan api menyala yang kecil, dan dia bergegas menuju kamar tidur nya untuk merapikan kasur tidur nya. Dan ini untuk yang ke tiga kali.
Sudah tiga kali ayumi merapikan kasur yang biasanya menjadi tempat peraduan nya dengan suaminya.Maklum lah, pengantin baru. Ayumi baru menikah sebulan yang lalu. Di Gereja Katredal Santo Petrus tepat nya. Mereka dinikahkan oleh Pastur Jefferson dan disaksikan oleh sekitar 30 orang kerabat anggota keluarga. Hanya satu minggu berselang Ayumi langsung diajak pindah oleh suaminya ke Surabaya dan menetap disana.
Suami Ayumi merupakan pegawai biasa disebuah kantor yang cukup luar biasa dilihat dari bidang pergerakannya. Dia bekerja di bagian logistik. Lebih jelasnya dia mengelola bagian penyediaan. Bagian distribusi, material, dll yang masih menyangkut dalam lingkup logistik dikelola oleh orang yang bekerja dibagian itu juga. karena mereka berkerja di dalam tim. Ada susunan nya disana dan aku tidak terlalu paham.
Namanya Gino. Umurnya 29 tahun. Terpaut delapan tahun dari ayumi. Perawakan nya kaku dan ramah. Mata teduh yang menghiasi wajah nya tak kalah menarik dari senyum yang selalu mengambang ketika berpapasan dengan orang-orang. Rambutnya dipangkas cepak dan sekarang sudah cukup panjang unuk dapat disisir samping. Sangat klimis.
Postur badan Gino lebar dan sedikit kekar. Jika Ayumi memeluknya, tubuh Ayumi bakal tidak kelihatan jika dilihat dari belakng Gino. Dan memang begitulah yang dilakukan Ayumi jika Gino pulang dari kantor. Seperti anak kecil yang menanti ayah nya yang sudah lama tidak pulang dan tiba-tiba pulang dengan membawa sekeranjang penuh kue gandum.
Malam itu Ayumi memakai gaun putih. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi ketika jam sudah menunjukkan pukul 11. Ada butiran keringat muncul di sekitar dahi nya.Kamar tidur yang dirapikan nya sedari tadi sekarang sudah sangat rapi. Lalu Ayumi kembali ke dapur dan mengaduk-aduk masakannya. Entah disadari atau tidak Ayumi memeluk erat sendok yang dipegangnya ke arah dadanya. Dan tangan nya gemetar, kepalanya tertunduk, dan jika ada orang disana memperhatikan raut wajah nya, raut wajah Ayumi benar-benar menyiratkan rasa penyesalan.
Masakan telah dihidangkan Ayumi dalam mangkok kecil berwarna-warni. Sayur asam di mangkok pink, Goreng Cumi di mangkok kuning, beberapa tahu dan tempe goreng di mangkok hijau. Semua nya dihidangkan di meja persegi berukuran 1x1m. Meja tersebut terbuat dari kaca tebal yang bening bagian atas nya dan ditopang oleh kayu jati yang diukir. Pembuatannya dipesan oleh suami Ayumi secara khusus pada pengrajin kayu jati di Jepara langsung.
Entah ini yang keberapa kali tapi kali ini Ayumi terlihat sangat lelah. Jarum panjang jam yang menggantung di dinding yang dicat putih tersebut sekarang menunjuk angka 11 dan jarum pendek nya menunjuk angka 6. Mata Ayumi sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan angka yang ditunjukkan jam tersebut. Sekarang matanya menatap foto yang terpajang masing-masing di sisi jam tersebut. Foto yang terpajang disana adalah foto Ayumi ketika masih sendiri di sebelah kiri dan foto suaminya yang masih sendiri juga di sebelah kanan. Dan foto mereka ketika saling berciuman di pernikahan pada bagian atas jam tersebut. Air mata Ayumi nampak menetes sedikit.
Sekarang tubuh Ayumi telah bersandar ke dinding dekat meja makan. Jam yang menggantung itu terletak disebelah sisi kanan meja makan tersebut. Dan mata Ayumi masih terpaku pada foto-foto yang menggantung disana ketika tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh bunyi pintu bel yang ditekan 2 kali dengan jeda sekitar 5 detik. Bunyi bel tersebut seperti bunyi lonceng gereja.
Ayumi mengusap wajah nya dengan tangan yang sedikit basah oleh keringat. Ikatan rambut nya yang berbentuk kuncir kuda tersebut dirapikan. Alis nya digerak-gerakkan, dan bola mata nya diputar untuk dapat membuat ekspresi sedatar mungkin. Mungkin begitulah yang akan dilakukan orang-orang ketika takut orang yang disayanginya tau kebiasaan buruk nya. Mencoba berpura-pura tidak tau apa-apa dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
Pintu berkusen cat emas tersebut dibuka Ayumi dengan bergegas. Didapati nya sosok suaminya yang tampak acak-acakan. Seperti seseorang yang gerah karena mencoba menyelesaikan suatu persoalan yang tak kunjung menemukan solusinya. Mungkin jika diibaratkan seperti dubuk yang tak makan selama tiga hari. Benar-benar kusut dan acak-acakan.
"kok lama?" kata Ayumi.
"kerjaan menumpuk." kata Gino sambil mengusap hidungnya yang tidak gatal.
"sampai acak-acakan begini?" kata Ayumi heran. Sekarang nadanya seperti menelisik sesuatu.
"begitulah." jawab Gino singkat. Dari kursi depan yang diduduki nya untuk melepas sepatu nya, Gino memperhatikan Ayumi sekilas lalu balik bertanya.
"kamu kok berkeringat?"
"habis masak tadi." kata Ayumi.
"baru selesai jam segini?"
"begitulah." Ayumi membalas Gino dengan sedikit nada kesal.
"baju kamu kok ada noda?" Gino menunjuk dada Ayumi.
"oh... ini tadi gak sengaja meluk sendok masak. kirain tadi bersih haha.." kata Ayumi sambil mendekati Gino dan meraih dasi yang melingkari leher nya. Dengan seketika Gino menepis tangan Ayumi. Tanpa melihat sedikit pun ke arah Ayumi. Sontak Ayumi terperanjat dan kecemasan menjalar kembali disekujur badan nya. Raut wajah Ayumi berubah seketika. Bukan raut kecemasan, tapi raut emosi.
"kamu jujur saja! Habis dari mana kamu?" bentak Ayumi. Mungkin jika hari masih siang, orang-orang yang lalu lalang akan terperanjat kaget mendengar teriakan Ayumi.
Gino beranjak dan meletakkan sepatunya di rak tiga tingkat yang sudah agak lapuk. Lalu Gino meraih sesuatu kedalam saku kemeja putih lengan panjangnya. Gino mengeluarkan sebuah iphone ber-casing hitam dan menyerahkannya ke Ayumi.
"mencari ini sayang?" kata Gino dengan senyuman yang dibuat setulus mungkin. Dia sedikit menunduk seolah-olah memberikan iphone tersebut pada anaknya sendiri lalu pergi ke dalam rumah.
Ayumi berkeringat dingin. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Rasa cemas nya sudah mencapai ubun-ubun. Diterima nya iphone tersebut dengan agak kikuk lalu ditekannya sebuah tombol yang ada pada bagian atas benda persegi panjang tersebut. Jelas, kali ini sangat jelas, air mata Ayumi sudah tidak dapat lagi dibendung oleh berbagai rasa. Ayumi terpaku tak bergerak, tak bersuara, dan tertunduk. Hanya rasa sesal yang tak terungkapkan yang tersisa di malam itu.
