Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Showing posts with label Short story. Show all posts
Showing posts with label Short story. Show all posts
Tuesday, March 17, 2015

Patency of Nothingness

Cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Entah lah, aku tidak tau bagaimana mengutarakan nya. Kadang aku merasa sangat jijik terhadap kata itu. Seperti kadang-kadang aku teringat sesuatu yang benar-benar membuat perut ku mual. Yah, aku tidak pernah tau kapan pertama kali mengenali dan juga kapan pertama kali aku merasa bahwa aku tau dengan kata itu. Semuanya hanya berjalan begitu saja.

Kau tau teman, aku menyayangkan sikap mu yang rela mati konyol karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang rela mengakhiri diri dengan tangannya sendiri
Kau tau teman, aku menangisi sikap mu yang terpuruk karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang selalu murung di sudut kamar di balik jendela di dekat sorot cahaya
Kau tau teman, aku membenci sikap mu yang selalu terbakar karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang menghancurkan meja-meja yang tertata di aula
Kau tau teman... terlalu banyak yang tidak kau ketahui untuk aku ajari.

Aku sudah berada di level ketidakacuhan yang paling tinggi yang pernah aku capai.

Aku tidak acuh pada kata cinta.
Aku tidak acuh pada kata benci.
Aku tidak acuh pada kata peduli.
Aku tidak acuh pada kata mengasihi.

"Apa alasan mu?! kau bahkan tak pernah cukup peduli pada diri mu sendiri!"
"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak meminta mu untuk bertanya!"
"Itu alasan ku. Kau harus lebih tenang."

.............

"Aku tidak bisa tenang melihat diri mu! Kau penuh keterpura-puraan!"
"Aku?"
"Ya, kamu! Iblis kecil yang sekarang sudah besar!"
"Apa aku masih terlihat seperti iblis?"
"Kau menipu ku dengan muslihat mu!"
"Tenanglah kawan.. Ini aku. Aku yang penuh keterpura-puraan."
"Aha!! Akhirnya kau mengakuinya dasar jahanam! Kenapa kau berpura-pura?!"
"Entahlah.. Aku tidak pernah merasa demikian."
"Aku lelah.. sangat lelah," tubuhnya terkulai "Siapa kau?"

.............

"Aku?"
"Hanya kita berdua disini! Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ku?"
".... Kau..."
"Yah, aku tidak pernah berpura-pura. Ini aku."
"Lalu aku ini siapa?"
"Kau adalah Aku. Lihatlah sekeliling mu."

.......

"Semua ini nyata?"
"Bukan. Kau tidak nyata. Aku lah kenyataan."
"Bagaimana bisa kau mengatakan demikian?" suaranya melunak
"Kau sudah pernah hidup dalam tubuh ku. Aku sudah pernah hidup dalam pikiran mu. Dan sekarang semua telah berlalu."
"Lalu siapa orang-orang ini? Mereka tersenyum pada ku."
"Mereka?"
"Aku tidak sanggup lagi..."
"Mereka adalah aku. Bagian diri ku. Bagian yang selama ini kau anggap keterpura-puraan."


Kau tau teman, aku mencintai mu yang mati dalam pangkuan ku karena cinta. - teruntuk bagian diri ku yang telah menjadi masa lalu dalam kedamaian.


Wednesday, March 11, 2015

Good Vibe

Apalah arti semua ini. Aku bahkan sudah tidak mengingat mu lagi setelah lima menit kita berpisah. Aku terlalu rendah untuk menangisi mu, setidak nya begitulah menurut ku. Bahkan gelas whiskey yang ku genggam ini tidak ada hubungannya dengan mu. Mungkin ada, tapi itu tidak lebih dari sekedar merayakan.. Yah hahaha akhirnya aku berpisah dengan mu. Seseorang yang menjadi kutukan ku sejak awal.

Kau melarang ku untuk melakukan hal yang aku suka dari lima menit kita pacaran. Dan aku sudah merasakan penyesalan pertama saat itu. Dan kau tau, jika aku meminta tambah ke pelayan bar ini untuk satu gelas whiskey lagi, percayalah, itu bukan karena mu. Aku mencintai Whiskey melebihi apa pun. Dan juga musik country yang di putar di bar ini saat ini, mengalahkan rasa cinta ku pada mu.

Aku tidak pernah malu untuk mengakui pada orang-orang disekitar ku jika aku pecandu whiskey. Mereka juga tidak akan peduli. Teman-teman mu, ah sudah lah, kau bahkan tidak pernah membicarakan aku di depan mereka.  Whiskey ini lebih berharga dari mu, asal kau tau. Dan musik Country yang sedang berdendang ini, aahh aku lupa jika kita pernah menjalin hubungan.


Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Mobil untuk Ibu

Aku ingat saat pertama kali menolong mu, Ibu, di kala sore hari di hari minggu. Kau ingat Ibu, aku meminta mobil-mobilan saat itu sebagai imbalan. Dan jika mengingat itu entah lah apa yang harus ku katakan pada mu saat ini.

"Ibu, dani mau mobil-mobilan itu?" kata ku. Aku meminta itu saat Ibu sedang sibuk menumpuk beberapa karton untuk di jual. Aku berdiri di sebelah mu.

"Harganya berapa?" kata mu

"50ribu." kata ku. Lalu kau berhenti mengikat karton-karton tersebut. Kau mengangkat tubuh lemah mu supaya berdiri. Kau menatap aku dengan tatapan iba.

"Bisa ditunda dulu Dani. Ibu akan membelikan mu minggu depan." kata mu

"Aku mau sekarang! Teman-teman ku di sekolah sudah punya mainan itu sejak lama.." kata ku merengek. Dan kau tidak tahan melihat ku menangis lalu menawarkan ku untuk menolong mu.

"Bisa kau bantu Ibu untuk mengepak karton-karton ini? Ibu akan membelikan mu sekarang." kata Mu. Kau tau Ibu, saat itu aku seperti orang baru menemukan tambang emas.

Setelah beberapa saat aku menolong mu baru lah aku tau jika pekerjaan mu tidak lah mudah. Kau mengepak karton demi karton yang kau kumpulkan dari tempat-tempat sampah dan dari rumah ke rumah. Aku mengikuti mu seharian itu dan aku tau betapa rendahnya kau di pandang orang-orang. Saat itu aku tidak berani mengatakannya pada mu. Hingga kau berhasil mendapatkan uang 50ribu itu dan kau memberikannya kepadaku untuk membeli mobil-mobilan seperti yang aku minta, dan aku akhirnya lebih memilih untuk membeli sebuah celengan dan menabung uang yang kau berikan itu. Kau memeluk ku. Dan aku tidak tau apakah kau menangis saat itu karena rasanya hangat.

Dan sekarang aku menjadi pengusaha mobil sesungguhnya ibu dan ku harap kau tersenyum melihat ku dari atas sana. Jika kau masih hidup tentulah aku ingin mengajak mu berkeliling dengan mobil-mobil ku.




Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Mr. Nerd and The Coffee Shop

Listen to this while you are reading to make sense One Direction - Night Changes

Aku tidak tau dari mana cerita ini berawal... Saat itu aku menemukan gadis ini disebuah kedai kopi tua yang ada di tepi jalan M. Yamin. Dia terlihat sangat kalut. Pakaiannya benar-benar formal untuk ukuran seorang gadis muda yang seharusnya menikmati masa-masa "centil". Bedak tebal dengan perona pipi yang tidak merata menempel di wajahnya. Dia memakai sepatu heels yang 'hak nya telah patah. Sepertinya sengaja dipatahkan karena ada bentuk tidak rata di kedua bekas patahan heels tersebut. Dan itu terlihat baru. Heels itu dia letakkan di kursi tepat di sebelah nya.

"Apa yang kau pikirkan gadis muda?" Aku menghampiri si gadis kalut dan duduk disebelahnya. Aku memindahkan letak heels ke bawah. Si Gadis dengan sigap menyambut tangan ku dan mengambil kembali heels nya. Dia meletakkan heels tersebut disebelah kanan nya.

"Jangan sentuh atau ibu ku akan membunuh mu!" Dia seperti sangat ketakutan. Pandangannya tertuju pada gelas kopi yang terisi setengah di hadapannya.

"Aku hanya memindahkan nya. Tidak apa gadis muda." aku memesan kopi dengan sedikit gula pada seorang bapak tua yang seluruh kulitnya sudah tampak keriput. Kira-kira umurnya 70an jika dilihat dari bentuk kulitnya.

"Aku Nerd. Boleh tau nama mu?" aku kembali menatap si gadis muda yang layu.

"Nerd? Nama macam apa itu?" kata si gadis muda. Matanya besar, bulat, dan cekung seperti mendapati sebuah keraguan.

"Orang-orang memanggil ku Nerd dan aku suka itu.." kata ku

"Nama mu?" aku kembali menanyai nya

"Entah lah.. aku tidak tau." badannya dirapatkan seperti mendapati suatu ketakutan. Matanya masih membulat cekung.

"Mungkin aku lancang, tapi tampaknya kau butuh teman berbagi cerita. Kau boleh cerita pada ku, aku akan dengan senang hati mendengarkan." kata ku

"Tidak.. tidak ada yang perlu aku ceritakan.." kata si gadis muda terburu-buru

"kalau begitu kau mau mendengar cerita ku? Aku punya sedikit stok cerita dongeng, mungkin bisa menghibur mu." kata ku. Si gadis muda hanya diam menatap gelas kopi nya.

"Baiklah, aku akan bercerita dengan gelas kopi ku." kata ku menyambut pesanan kopi ku yang telah jadi.

Kedai kopi tersebut hanya berbentuk satu gubuk kecil dengan meja yang membentang di depan gubuk tersebut. Dua buah kursi panjang mengisi sisi-sisi meja. Kami duduk menghadap ke arah gubuk dan hanya ada aku, si gadis kalut, dan pak tua sang penjual kopi disitu. Lampu jalan temaram yang ditutupi pohon jalan yang tumbuh dibawahnya membuat suasana kedai kopi tersebut remang-remang.

"Gelas, kau tau sudah kemana aku melangkah?" aku mengeluarkan sendok yang ada dalam gelas dan memukulkannya ke sisi gelas kopi ku. Hingga bunyi berdenting dan menarik perhatian si penjual kopi dan si gadis muda yang kalut.

"Aku tidak kemana-mana. Aku pergi dari satu daerah ke daerah lain, tapi aku masih di Bumi." kata ku lagi. Aku melihat dengan sudut mata apakah si gadis kalut mendengarkan atau tidak. Jika dia terlihat termenung lagi, aku dengan segera mendentingkan gelas kopi ku.

"jika pun suatu hari nanti aku dapat pergi ke Mars atau Jupiter, aku masih dalam Solar system." kata ku lagi. Aku menatap gelas ku seolah-olah dia mendengarkan ku.

"Jika pun suatu hari nanti aku bisa keluar dari Solar system, aku masih berada di Milky way." kali ini aku meminum kopi ku karena haus.

"Aduh maaf aku menelan mu! Kamu masih bersisa jadi tetap lah dengarkan aku." kata ku. Si gadis muda tampak masih mendengarkan ku. Si pak tua penjual kopi pun masih antusias memperhatikan ku.

"Sebenarnya aku, kau, dan semua yang ada disini dan dimanapun tidak pernah kemana-mana, kau tau?" kata ku menggoyang-goyang gelas kopi tersebut.

"Tidak tau? Tentu saja kau tidak tau! Kau hanya segelas kopi hitam, pekat, dan pahit. Kau hanya melayani orang lain dalam gelas mu!" kata ku masih memandang kopi ku.

"Tapi kau tau, aku sangat suka pada mu.. Kau mebuat ku nyaman. Karena pahit mu kau tidak pernah berharap untuk menjadi gula dan kau tidak pernah membiarkan orang lain mengubah mu menjadi teh. Kau berteman dengan mereka dan menjadi diri mu sendiri."

"Dan ketika kau masuk ke perut ku, itu tanda aku berterima kasih pada mu. Aku sangat menghargai mu karena kau menjadi diri mu sendiri." aku menggoyangkan lagi gelas kopi ku dan meminum nya. Masih tersisa seperempat gelas lagi.

"Aku tau kenapa orang-orang memanggil mu Nerd. Kau memang culun. Kau mengobrol dengan kopi!" kata si gadis kalut masih dengan tampang meragu.

"Bukan kah itu bukan urusan mu?" kata ku lalu menatap lagi gelas kopi ku. Si gadis kalut ternyata tidak mendengarkan perkataan ku yang terakhir.

"Ibu ku selalu memaksaku memakai semua ini.." dia mengembangkan tangannya ingin memperlihatkan apa yang ia pakai. Aku berhasil membuatnya bicara.

"Dia selalu memaksaku untuk tampil cantik dengan pakaian-pakaian sialan ini dan juga alat-alat kosmetik yang aku sudah tidak ingin melihat nya." Air matanya mengalir dan tangannya dengan kasar menggosok-gosok wajahnya yang di tutupi bedak.

"Apa aku terlihat seperti badut?" Dia menanyai ku dengan tatapan putus asa. Aku hanya diam tidak menjawab.

"Aku menginginkan memakai sepatu kets, celanaj jeans, dan baju kaus, dan juga topi.... Aku ingin rambut ku jatuh sebagaimana ada nya.... A..Aku menyukai diri ku apa adanya... Aku tidak suka yang berlebihan dan dia terus memaksa ku." Nada suaranya meninggi dan terbata-bata. Si kakek tua penjual kopi tampak tertegun menatap gadis yang berpakaian formal yang ada di depannya.

"Aku hanya ingin menulis... Aku hanya ingin melukis... Aku hanya inginkan itu.. Aku tidak menginginkan yang lain.. Aku tidak menginginkan semua ini." Dia mengacak-acak rambut nya yang tersanggul rapi dan menutup wajahnya dibalik kedua tangannya. Rambut gadis ini ikal dan lembut. Cantik terjurai cukup panjang.

Aku merangkul si gadis kalut. menepuk pundak nya beberapa kali dan mengusai rambutnya.

"Kenapa kau tidak pergi saja?" kata ku mencoba memberi saran

"Kemana aku harus pergi? Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu ku.." kata nya

Aku mengeluarkan sebuah pemutar musik di saku celana ku dan memilih sebuah lagu "1D - Night Changes". Aku menyuruhnya untuk bangkit dan memasang earphone yang ada di tangan ku.

"Coba dengarkan lagu ini.." kata ku. Si gadis kalut memasang earphone tersebut dan mendengarkan lagu yang ku pilihkan. Kepalanya sudah tegak untuk mendengarkan lagu itu.

Setelah beberapa saat dan beberapa kali dia meminta lagu tersebut untuk di putar ulang, wajahnya terlihat berseri. Rona motivasi muncul di pipinya mengalahkan pewarna yang ada disana.

"Boleh aku ikut dengan mu, Mr Nerd?" kata Si gadis.

"Aku akan pulang mengambil barang-barang ku yang tidak seberapa, meninggalkan surat untuk ibu ku yang mengatakan 'betapa aku menyayangi nya dan akan kembali lagi jika aku sudah cukup dewasa dengan pilihan ku' dan akan kembali kesini. Ibu ku mungkin belum pulang jam segini." kata Si gadis. Matanya tampak berseri-seri

"Kalau boleh tau, apa pekerjaan mu, Mr. Nerd." kata Si gadis muda pada ku.

"Aku tidak pernah bekerja dan tidak pernah memiliki apa-apa. Aku menikmati hidup dalam perjalanan." kata ku

"Kau mau mengajak ku kan?" mata Si gadis kalut sekarang tidak cekung lagi. Matanya berisi dan itu adalah perubahan yang sangat cepat yang pernah aku lihat dalam diri seseorang.

"Aku tidak pernah mengajak siapa pun. Jika kau mau ikut, ayo kita pergi berjalan bersama." kata ku

"Kau tunggu aku disini.. Aku akan kembali.. hanya beberapa menit.." kata si gadis lalu membayar kopinya dan bersiap untuk pergi.

"Oh iya Mr. Nerd, perkenalkan aku Miss Weird." dan Si gadis pergi dengan terburu-buru tanpa alas yang melindungi kaki nya. Sepatu heels yang sedari tadi dijaganya sekarang dia tenteng di kedua belah tangan nya.

Aku meminta tambah kopi satu gelas lagi pada Pak tua penjual kopi. Dia menatap ku tersenyum sembari menunjuk-nunjuk ku dengan telunjuk keriputnya.



Sunday, March 8, 2015

Karavan Musim Gugur

Tulisan ini akan lebih baik dibaca sekiranya sambil mendengarkan lagu ini "One Ok Rock - Wherever You Are"

Senin malam di hampir penghujung bulan September. Di samping Karavan tua yang terparkir di tepi sungai yang berarus deras. Api unggun menyala cukup besar untuk kita nikmati berdua kala itu. Sebuah gitar akustik yang kau mainkan dengan begitu merdu menemani cahaya bulan yang terang. Teko yang di isi air dengan seduhan kopi di dalamnya, menggantung pada dua buah ranting yang kau rangkai disebelah unggun tersebut. Aku ada di sebelah kiri mu memeluk kedua tangan ku yang diselimuti sarung tangan. Kau masih terus bernyanyi untuk menghangatkan suasana malam itu.
Lalu tiba-tiba kau berhenti memainkan gitar mu. Menatap ku yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangan ku menandakan betapa dinginnya udara malam itu. Kau menyandarkan gitar mu pada Karavan tua tempat kita bersandar. Karavan yang selalu membawa kita menikmati perjalanan yang tak berarah ini. Perjalanan yang bertujuan hanya untuk menikmati keindahan alam secara berduaan. Antara aku dan kamu.

Kau merangkul pundak ku dan mendorongnya mendekat kearah pelukan mu. Aku memperbaiki posisi ku agar dapat bersandar di dada mu. Beberapa kali kau mencium kening ku dan tersenyum hangat. Kita hanya diam mendengarkan sungai yang mengalir, menikmati nyanyian jangkrik, dan merasakan desiran angin di bawah bayang-bayang bulan yang sangat terang.

Hanya beberapa saat, kau menggeser tubuh ku lagi dan pergi beranjak menuju kedalam Karavan. Lalu kau keluar membawa dua kaleng Beer yang dingin karena ulah angin. Kau membukakan satu untuk ku dan satu untuk mu. Lalu kau membuka jaket katun yang dilapisi parasut pada bagian luarnya yang menghangatkan tubuh mu sedari tadi. Bahkan hingga topi rajut yang kau pakai pun kau tanggalkan. Aku menatap mu heran dan kau menatap ku balik dengan sebuah senyuman setelah menenggak Beer yang kau buka tadi. Sekarang hanya ada sehelai baju tipis berwarna hitam yang bertuliskan 'Another Life', celana jeans biru pudar, dan sepatu boots yang tapak nya sudah hampir tipis melekat di tubuh mu.

Masih dalam tatapan heran aku menyaksikan mu mengambil gitar mu kembali. Lalu kau mendorong kayu-kayu yang letaknya tidak dapat dijangkau api unggun yang sudah melemah. Kau memperbaiki posisi duduk mu lagi dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memainkan gitar mu.

"I'm telling you 
 I softly whisper..  
Tonight tonight
 You are my angel...
 Aishiteru yo 
 Futari wa hitotsu ni 
 Tonight tonight 
 I just say…"
Kau melantunkan lagu yang menjadi favorite kita ketika malam menjelang dan kita masih dalam Karavan melintasi jalanan. Dentingan dawai gitar mu mebuat ku hampir menangis karena begitu merdunya kau memainkan lagu itu. Petikan-petikan kecil gitar mu yang mengawali nyanyian mu benar-benar sangat membuat ku hangat kala itu.

Aku merebahkan kepala ku di pundak mu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kepala ku. Menikmati kau menyanyikan lagu yang begitu menghangatkan ku di malam yang cukup dingin ini.

"...Wherever you are, I'll always make you smile 
 Wherever you are, I'm always by your side 
 Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
 I promise you "forever" right now..."
Saat bagian itu aku meneteskan air mata haru. Perasaan ku benar-benar hangat kala itu. Aku teringat saat kau pertama kali mengajak ku untuk berkeliling melihat dunia dengan Karavan tua mu, dan aku menganggap mu orang gila. Hingga orang tua ku meninggal dan semua orang menjauhi ku karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi, kau datang menghampiri ku untuk yang entah kesekian berapa kalinya dan menawarkan ajakan yang sama. Dan saat itu aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada ku sampai-sampai aku mengiyakan ajakan mu. Aku hanya mengikuti mu dan merelakan diri ku atas apa yang akan terjadi. Aku benar-benar sangat merasa kosong kala itu. Dan aku sungguh tak pernah menyangka kau akan seserius ini menjaga ku. Sampai saat ini...
"I don't need a reason
 I just want you baby
 Alright alright
 Day after day

 Kono saki nagai koto zutto
 Douka konna boku to zutto
 Shinu made stay with me
 We carry on…"

Api unggun bergerak kian kemari ditiup angin. Teko yang menggantung disebelah unggun ikutan bergoyang dihembus angin. Daun-daun yang gugur berterbangan seolah-olah ikut menikmati lantunan suara mu. Air mata ku benar-benar tidak tertahan kali ini. Aku terisak menahan suara tangis ku. Kenangan pahit antara aku dengan lingkungan ku, hingga dirimu yang selalu menunggu ku, menyeruak hebat dalam pikiran ku saat itu. Dan kau masih terus memainkan gitar mu. Aku menyentuh dadamu dan rasanya sangat hangat.

Kau hanya diam menikmati guncangan tubuh ku yang terisak menahan suara tangis ku. Kau seolah-olah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Kau seolah-olah tau dengan apa yang aku pikirkan. Dan aku merasa kau memang mengerti. Kau hanya tetap terus menyanyikan lagu itu meski sekarang air mata ku sudah membasahi pundak mu. Sedangkan tangan mu masih asik bergerak memainkan melodi lagu itu.

"...Wherever you are, I'll always make you smile 
Wherever you are, I'm always by your side 
Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
I promise you "forever" right now

Wherever you are, I'll never make you cry 
Wherever you are, I'll never say goodbye 
Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
I promise you "forever" right now"

Kau menghentikan petikan dawai gitar mu dengan petikan-petikan kecil di penghujung nyanyian mu. Tangan kanan mu mengusap air mata ku yang hampir kering ditiup angin. Kau menarik dagu ku lalu mengarahkan dahi ku ke bibir mu. Sangat lembut dan pelan kau menyentuh dahi ku.

"Aku mencintai mu, Cinta." kata mu sambil menyodorkan sebuah kotak persegi kecil yang isi nya cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diatasnya kau lilitkan rumput ilalang yang daunnya kau biarkan tegak mengambang. Dan saat itu aku hanya memelukmu erat dan kau mengusap-ngusap kepala ku dengan kedua tangan besar mu hingga aku terlelap dipelukan mu dibawah bayang-bayang bulan yang bulat terang. Dan baru kali itu kita tidur diluar Karavan sepanjang malam dan aku sangat merasa aman tanpa sedikit pun ada rasa kekhawatiran.




Wednesday, March 4, 2015

Ketika di Bukit

Hari itu hari minggu. Dua pemuda tampak memakai pakaian lengkap untuk mendaki beserta tas ransel besar di punggung mereka masing-masing. Kamera digital terlihat menggantung di leher mereka. Mereka berangkat menggunakan kendaraan umum hingga kaki perbukitan tersebut.

"Aku tidak menyukai rerumputan tadi." kata Jeri
"Daunnya terlalu basah?" kata Sean
"Dan tinggi. membuat kaki ku gatal."
"Itu bukan salah rumputnya."
"Tentu saja salah rumputnya. Aku hanya berjalan dan mereka menggigit ku."
"Berjalan dengan celana pendek?" kata Sean menurunkan ransel nya.
"Aku tidak mengira rumputnya akan setinggi ini." Jeri masih membungkuk memukul-mukul kakinya.
"Aku sudah mengingatkan." Sean merebahkan badan di bawah pohon beringin yang rindang tempat mereka berhenti. Akar-akar beringin tersebut sudah sama besarnya dengan cabangnya.
"Untuk memakai sepatu boots? Kau tidak melihat ini?" Jeri mengangkat kakinya
"Untuk melindungi kaki mu. Kau melupakan bagian itu."
"Aku hanya tidak menyangka." Jeri menurunkan ransel nya juga dan merebahkan diri di sebelah Sean.
"Pemandangannya sangat indah." kata Jeri
"Terbayar bukan?" 
"Untuk sesaat. Jika saja sekarang mendung aku tidak akan mau melewati jalan terkutuk itu."
"Berhentilah mengeluh. Aku sudah mengingatkan." Sean mengeluarkan sebuah lensa lebar dari ranselnya.
"Kau menyebalkan." Jeri meninggalkan Sean dan pergi ke ujung tebing. Dia mengembangkan tangan menikmati hembusan angin perbukitan.

Hari sudah hampir siang. Mereka menaki bukit ini dari saat matahari belum terbit. Jalanan yang terjal dan penuh semak belukar menjadi kendala mereka dalam meminimalisir waktu. Ditambah saat Jeri terus mengeluh ketika melewati lahan rumput gajah yang luas. Embun yang masih menempel pada ujung rumput tersebut memang akan terasa lengket dan gatal.

Sean telah mengganti lensa zoom yang sebelumnya terpasang pada kamera nya dengan lensa lebar yang baru saja dia keluarkan. Dia berjalan kearah Jeri dan mengarahkan kameranya pada kawannya tersebut.

"Tahan disana." kata Sean.
"Credit untuk ku jangan lupa." kata Jeri dengan menahan tangan nya agar tetap terkembang.
"Coba lihat hasilnya." Jeri membalikkan badan dan menghampiri Sean.
"Seharusnya puncak gunungnya tidak kau tutupi dengan tubuh ku. kata Jeri.
"Aku ingin menonjolkan dirimu dan lembahnya." kata Sean.
"Aku tidak suka jika aku modelnya dan gambarnya seperti itu."
"Selera mu, bukan selera ku." kata Sean dan meninggalkan Jeri lalu mengamati pemandangan disekitarnya.
"Hey, kalau beitu ganti model nya!" Jeri berseru. Tetapi Sean tidak menoleh sedikitpun.

Pohon beringin tempat mereka berteduh berada diatas gundukan tanah yang agak tinggi. Jaraknya sekitar dua puluh meter dari ujung tebing tempat mereka berdiri tadi. Di sekitar pohon beringin tersebut tumbuh pohon pinus yang tinggi. Tidak sampai ke tebing tempat mereka berdiri tadi. Hanya sekitaran belakang pohon beringin tersebut

Seekor burung terbang di atas kepala Sean. Warnanya hitam dengan belang putih pada bagian perut. Bergerak kian kemari antara tebing dan lepas tebing. Pertama-tama cuma seekor dan sekarang menjadi dua ekor setelah burung tersebut berkicau beberapa kali.

"Kenapa ada burung diatas kepala mu?" Jeri menghampiri Sean yang duduk memandangi sisi tebing yang lainnya dari atas sebuah batu besar.
"Kenapa ada aku dibawah mereka?" kata Sean
"Begitulah.."
"Apa ransel kita aman?" kata Jeri
"Apa kau lihat ada orang lain disini?"
"Seandainya ada yang datang?"
"Mereka hanya akan menikmati pemandangan."
"Dengan oleh-oleh dua tas ransel maksud mu?"
"Mungkin keberuntungan mereka." kata Sean
"Peralatan kamera kita ada disana. Bekal kita juga disana. Segalanya ada disana." kata Jeri sedikit cemas
"lalu?"
"Apa kau tidak cemas?"
"Apa yang harus aku cemaskan?"
"Kau terlalu cuek Sean."
"Aku mempercayai." Sean mengarahkan matanya pada bidikan kamera.
"Imajinasi mu gila. Kau gila."
"lalu?"
"Aku heran kenapa aku harus mengikuti mu."
"Aku tidak mengharuskan mu mengikuti ku. Aku cuma mengatakan pada mu  bahwa aku akan pergi ke tebing dengan pemandangan yang indah. Dan kau mengikuti ku."
"Kau sedikitpun tidak khawatir dengan tas kita?"
"Aku lebih mengkhawatirkan mu." kata Sean setelah mengambil beberapa gambar yang ada dihadapannya. Lalu kepalanya tertunduk utuk melihat bagaimana hasilnya.
"Jika kau ragu, kenapa tidak kau lihat saja kesana?" aku mengatakan itu setelah melihat duduk Jeri tidak lagi tenang.
"Tas mu juga ada disana." kata Jeri.
"Aku tidak khawatir dengan tas ku."

Jeri pergi kearah pohon beringin melalui jalan setapak yang terbentuk oleh batu-batu tebing yang hancur dimakan usia. Langkah nya kasar dan keras. Dia masih tidak menerima cara pandang Sean yang menurutnya terlalu naif.

Sampai disana Jeri mendapati tas ransel nya masih dalam keadaan utuh. Masih ditempat semula. Hanya posisinya yang telah rebah kedepan karena hembusan angin bukit. Dan sekarang sudah hampir tengah hari.

Sean kembali ke pohon beringin. Setelah puas mengambil beberapa gambar lembah dan perbukitan, Sean berencana untuk memakan bekal yang ia bawa. Hanya beberapa wafer dan snack ringan. Sesampai di pohon beringin, dia mendapati Jeri telah tertidur dibawah rindangnya pohon tersebut. Bantal busa yang terlipat di saku luar yang menggantung pada ransel Jeri telah terkambang dan menyandar di akar pohon beringin. Jeri terkapar disana.

"Mungkin sekarang dia dapat menikmati alam." Sean berbicara sendiri dan bersandar pada batang beringin tersebut sambil menikmati bekal yang ia bawa. Hembusan angin benar-benar sejuk dikala itu. 



Sunday, February 22, 2015

Kamu tidak Buta. Aku Bisu!

        Jarum jam berdetak pelan. Begitulah yang dirasakan orang-orang yang sedang resah menunggu sesuatu yang amat penting. Satu menit seperti satu jam dalam penantian. Satu jam seperti seharian yang dibayangkan nya. Begitu lah yang dirasakan Ayumi. Seorang Ibu muda berparas cantik dari kota kembang dan sekarang menetap di Surabaya bersama suaminya. Dan waktu itu jarum jam tersebut baru berputar satu putaran sejak dia menoleh untuk yang kedua kalinya.
          Tangan kecil nya memainkan sebuah sendok yang digenggam nya sedari tadi. Sendok yang bergagang panjang dan terbuat dari besi itu di pukulkan ke lemari yang berada di atas kepala nya. Tidak keras memang, tapi cukup untuk menandakan betapa gelisah nya dia.
        Ayumi memiliki paras yang sangat cantik. Maksudku semua yang ada di wajah nya terlihat cantik. Matanya yang bulat dan agak meruncing di bagian tepi --dan aku yakin itu bukan eyeliner. Alis nya lurus panjang tertata rapi, dan di ujung nya terdapat sedikit cengkokkan menandakan garis tengkorak wajah nya. Dan keseluruhan itu natural tanpa dibuat-buat. Wajah nya tidak terlalu simetris, maksud ku, ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Dan itu kelihatan menonjol karena ukurannya seperti titik yang dibuat dengan pena dan diperjelas supaya lebih jelas.- kau tau maksudku kawan. Ditambah lagi kulit nya yang putih bening seperti wanita-wanita yang memamerkan kulit mereka di iklan produk kecantikan. Tapi hal yang paling aku suka dari wajah ayumi adalah hidung nya. Bentuk nya unik--cukup unik menurut ku. Bagaimana tidak, semua keindahan yang terpajang rapi di wajah nya seperti dibuyarkan oleh bentuk hidung nya yang mirip paruh elang. Orang-orang yang melihatnya pasti akan langsung memperhatikan hidung nya dan sedikit tertawa geli. Hidung nya tidak jelek tapi menurutku hanya sedikit menonjol. Dan begitu lah, orang-orang akan sibuk mengatakan 'Andai saja..' pada hidung nya karena menginginkan kesempurnaan... Kesempurnaan yang semu.
          Ayumi menunggu dua hal yang sangat penting malam itu. Masakan yang belum selesai dimasak dan kepulangan suaminya yang telah lewat dari jam biasanya. Tepat nya telah satu jam berlalu dari kepulangan suaminya yang seharusnya. Dan sekarang sudah menunjukan pukul 10 kurang.
             Ayumi benar-benar tampak resah. Ditinggalkannya masakan yang belum matang tersebut dengan api menyala yang kecil, dan dia bergegas menuju kamar tidur nya untuk merapikan kasur tidur nya. Dan ini untuk yang ke tiga kali.
        Sudah tiga kali ayumi merapikan kasur  yang biasanya menjadi tempat peraduan nya dengan suaminya.Maklum lah, pengantin baru. Ayumi baru menikah sebulan yang lalu. Di Gereja Katredal Santo Petrus tepat nya. Mereka dinikahkan oleh Pastur Jefferson dan disaksikan oleh sekitar 30 orang kerabat anggota keluarga. Hanya satu minggu berselang Ayumi langsung diajak pindah oleh suaminya ke Surabaya dan menetap disana.
           Suami Ayumi merupakan pegawai biasa disebuah kantor yang cukup luar biasa dilihat dari bidang pergerakannya. Dia bekerja di bagian logistik. Lebih jelasnya dia mengelola bagian penyediaan. Bagian distribusi, material, dll yang masih menyangkut dalam lingkup logistik dikelola oleh orang yang bekerja dibagian itu juga. karena mereka berkerja di dalam tim. Ada susunan nya disana dan aku tidak terlalu paham.
           Namanya Gino. Umurnya 29 tahun. Terpaut delapan tahun dari ayumi. Perawakan nya kaku dan ramah. Mata teduh yang menghiasi wajah nya tak kalah menarik dari senyum yang selalu mengambang ketika berpapasan dengan orang-orang. Rambutnya dipangkas cepak dan sekarang sudah cukup panjang unuk dapat disisir samping. Sangat klimis.
         Postur badan Gino lebar dan sedikit kekar. Jika Ayumi memeluknya, tubuh Ayumi bakal tidak kelihatan jika dilihat dari belakng Gino. Dan memang begitulah yang dilakukan Ayumi jika Gino pulang dari kantor. Seperti anak kecil yang menanti ayah nya yang sudah lama tidak pulang dan tiba-tiba pulang dengan membawa sekeranjang penuh kue gandum.
        Malam itu Ayumi memakai gaun putih. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi ketika jam sudah menunjukkan pukul 11. Ada butiran keringat muncul di sekitar dahi nya.Kamar tidur yang dirapikan nya sedari tadi sekarang sudah sangat rapi. Lalu Ayumi kembali ke dapur dan mengaduk-aduk masakannya. Entah disadari atau tidak Ayumi memeluk erat sendok yang dipegangnya ke arah dadanya. Dan tangan nya gemetar, kepalanya tertunduk, dan jika ada orang disana memperhatikan raut wajah nya, raut wajah Ayumi benar-benar menyiratkan rasa penyesalan.
        Masakan telah dihidangkan Ayumi dalam mangkok kecil berwarna-warni. Sayur asam di mangkok pink, Goreng Cumi di mangkok kuning, beberapa tahu dan tempe goreng di mangkok hijau. Semua nya dihidangkan di meja persegi berukuran 1x1m. Meja tersebut terbuat dari kaca tebal yang bening bagian atas nya dan ditopang oleh kayu jati yang diukir. Pembuatannya dipesan oleh suami Ayumi secara khusus pada pengrajin kayu jati di Jepara langsung.
      Entah ini yang keberapa kali tapi kali ini Ayumi terlihat sangat lelah. Jarum panjang jam yang menggantung di dinding yang dicat putih tersebut sekarang menunjuk angka 11 dan jarum pendek nya menunjuk angka 6. Mata Ayumi sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan angka yang ditunjukkan jam tersebut. Sekarang matanya menatap foto yang terpajang masing-masing di sisi jam tersebut. Foto yang terpajang disana adalah foto Ayumi ketika masih sendiri di sebelah kiri dan foto suaminya yang masih sendiri juga di sebelah kanan. Dan foto mereka ketika saling berciuman di pernikahan pada bagian atas jam tersebut. Air mata Ayumi nampak menetes sedikit.
        Sekarang tubuh Ayumi telah bersandar ke dinding dekat meja makan. Jam yang menggantung itu terletak disebelah sisi kanan meja makan tersebut. Dan mata Ayumi masih terpaku pada foto-foto yang menggantung disana ketika tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh bunyi pintu bel yang ditekan 2 kali dengan jeda sekitar 5 detik. Bunyi bel tersebut seperti bunyi lonceng gereja.
         Ayumi mengusap wajah nya dengan tangan yang sedikit basah oleh keringat. Ikatan rambut nya yang berbentuk kuncir kuda tersebut dirapikan. Alis nya digerak-gerakkan, dan bola mata nya diputar untuk dapat membuat ekspresi sedatar mungkin. Mungkin begitulah yang akan dilakukan orang-orang ketika takut orang yang disayanginya tau kebiasaan buruk nya. Mencoba berpura-pura tidak tau apa-apa dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
        Pintu berkusen cat emas tersebut dibuka Ayumi dengan bergegas. Didapati nya sosok suaminya yang tampak acak-acakan. Seperti seseorang yang gerah karena mencoba menyelesaikan suatu persoalan yang tak kunjung menemukan solusinya. Mungkin jika diibaratkan seperti dubuk yang tak makan selama tiga hari. Benar-benar kusut dan acak-acakan.
                     "kok lama?" kata Ayumi.
                     "kerjaan menumpuk." kata Gino sambil mengusap hidungnya yang tidak gatal.
                     "sampai acak-acakan begini?" kata Ayumi heran. Sekarang nadanya seperti menelisik sesuatu.
                    "begitulah." jawab Gino singkat. Dari kursi depan yang diduduki nya untuk melepas sepatu nya, Gino memperhatikan Ayumi sekilas lalu balik bertanya.
                     "kamu kok berkeringat?"
                     "habis masak tadi." kata Ayumi.
                     "baru selesai jam segini?"
                     "begitulah." Ayumi membalas Gino dengan sedikit nada kesal.
                     "baju kamu kok ada noda?" Gino menunjuk dada Ayumi.
                "oh... ini tadi gak sengaja meluk sendok masak. kirain tadi bersih haha.." kata Ayumi sambil mendekati Gino dan meraih dasi yang melingkari leher nya. Dengan seketika Gino menepis tangan Ayumi. Tanpa melihat sedikit pun ke arah Ayumi. Sontak Ayumi terperanjat dan kecemasan menjalar kembali disekujur badan nya. Raut wajah Ayumi berubah seketika. Bukan raut kecemasan, tapi raut emosi.
              "kamu jujur saja! Habis dari mana kamu?" bentak Ayumi. Mungkin jika hari masih siang, orang-orang yang lalu lalang akan terperanjat kaget mendengar teriakan Ayumi.
 
Gino beranjak dan meletakkan sepatunya di rak tiga tingkat yang sudah agak lapuk. Lalu Gino meraih sesuatu kedalam saku kemeja putih lengan panjangnya. Gino mengeluarkan sebuah iphone ber-casing hitam dan menyerahkannya ke Ayumi.
                "mencari ini sayang?" kata Gino dengan senyuman yang dibuat setulus mungkin. Dia sedikit menunduk seolah-olah memberikan iphone tersebut pada anaknya sendiri lalu pergi ke dalam rumah.
   
Ayumi berkeringat dingin. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Rasa cemas nya sudah mencapai ubun-ubun. Diterima nya iphone tersebut dengan agak kikuk lalu ditekannya sebuah tombol yang ada pada bagian atas benda persegi panjang tersebut. Jelas, kali ini sangat jelas, air mata Ayumi sudah tidak dapat lagi dibendung oleh berbagai rasa. Ayumi terpaku tak bergerak, tak bersuara, dan tertunduk. Hanya rasa sesal yang tak terungkapkan yang tersisa di malam itu.
               
  

    
Tuesday, January 13, 2015

Draft

Kereta malam membunyikan siualan nya. Tanda bahwa kereta hampir sampai dan itu juga kereta yg terakhir. di sudut gerbong dua aku duduk tertunduk membaca buku. sesekali memerhatikan jam. Entah apa yang aku kejar, entah apa yg aku tuju, dari tadi aku selalu resah memperhatikan jam. Mungkin karena ini telah terlalu larut. walau biasanya juga pulang malam, aku tidak pernah naik kereta berangkat jam 11 malam. paling lama biasanya jam 8. itu pun kalau ada kerja lembur atau ada teman yg ngajak ngobrol hingga keasyikan.

Hari ini aku menemuinya. teman lama. teman cukup mesra dalam waktu yg lama dan pada masa yang lama. hari ini dia baru pulang dari amerika. aku diminta untuk menjemputnya.

Rumah

          Suami nya sekarang di luar kota. Sudah dua bulan berpisah semenjak suaminya berangkat ke jambi untuk urusan kerja. Sesekali dia terlihat murung dan tiba-tiba marah. Anak nya yang pertama sekarang duduk di kelas satu sekolah dasar. Sedangkan yang nomor dua tiga tahun jarak nya dengan anak yang pertama. Begitupun nomor tiga terhadap nomor dua.

          Berkali-kali dia terlihat menyibukkan diri. Mencuci piring yang menumpuk, menyapu ruang tengah yang berserakan, hingga merapikan mainan anak-anaknya --yang dirapikan setiap saat. Seperti ibu rumah tangga kebanyakan tapi tidak seperti ibu rumah tangga kebanyakan. Suaranya yang rendah dan lemah memantul dengan nada tinggi di antara perabotan dan dinding rumah. "Plak!" Tiba-tiba anak nomor satu meraung sambil memeluk dirinya sendiri. "Plak!" Anak nomor dua terpaku disudut pintu sambil memperhatikan sekeliling rumah dari balik jemari kecil nya. Tak bersuara.

          "Aku mau dibelikan rumah!" Pintanya melalui telfon genggam. Suaranya memenuhi seisi rumah. Lagi. Rambut nya yang kusut dan wajah yang berminyak sesekali diusap pelan sambil tetap berbicara. Sekarang nada nya melemah. "Kamu pelit!" Kata terakhir yang keluar sebelum dia meletakkan telfon genggam nya di sebelah televisi.

Insp: Ernest Hemingway - Cat in the rain (writing style)
Saturday, May 17, 2014

Renungan Sore

"Jika kita memang manusia, lantas mengapa kita harus saling hina?"
Pertanyaan diatas menumbuk kepala gue keras sekali. iya, gue jalan gak liat-liat, terus kejedug deh sama plang yg bertuliskan kata-kata itu.
Pertama gue cuek aja sih. gue anggap itu sebagai kalimat nasehat atau sindiran aja. Tapi tiba-tiba gue kepikiran lagi. Memang sudah hukum alam manusia itu saling hina. saling kritik, saling puji, saling caci, saling mengasihi.
Kenapa coba kita merasa terhina? karena apa yg disampaikan orang lain tersebut memang nyata 'kan ada pada diri kita. kita menganggap itu sebagai suatu hal yang hina, lalu merasa terhina ketika ada orang yg berani jujur menyampaikan pada kita. Jika itu enggak ada, toh, kita nya pasti cuek bebek aja. bener gak?
Dan kejujuran itu memang menyakitkan. Mimpi-mimpi ilusi yg kita bangun untuk membohongi diri sendiri bahwa diri kita baik-baik saja, hancur seketika ketika ada orang yg berani jujur terhadap kita. Lantas kita membenci. bukan berbenah. itu lah kenyataan yg ada pada setiap orang.
Tuesday, November 12, 2013

Happy Father's Day! (Selamat Hari Abak!)

Sekarang tanggal 12 november ya? Ada yang tau sekarang hari apa? Enggak? Sekarang 'hari ayah' lho. *Lu tau nya juga dari postingan orang rick -_-! #Hammer

Iyap 'hari ayah'. Gue juga barusan ingat (tepatnya: tau) kalo sekarang 'hari ayah'. Anak durhaka banget ya gue? Enggak lah. Secara, gak ingat itu bukan berarti gue enggak sayang sama ayah gue. Kan rasa sayang bukan hanya sekedar dari ingat tanggal perayaan :)

Karena sekarang 'hari ayah', gue mau share sedikit cerita nih. Enggak panjang kok. Panjangan dikit dari kenti gue paling #eh

Alhamdulillah ayah gue masih diberi umur sama tuhan sampai sekarang. Umur beliau sudah kepala lima. Tepatnya 56th. Dan 30 desember besok umur ayah gue akan memijak angka 57. Enggak tau musti senang atau sedih. Senang karena ayah gue masih dipercaya tuhan untuk hidup dan sedih karena ayah gue semakin tua.

Gue manggil ayah gue dengan sebutan 'abak'. Abak itu bahasa minang lama. Karena gue dari pasaman, bahasa minang nya masih minang lama. Sama dengan english USA, masih menggunakan kosakata english lama.

Abak gue lahir di kapar. Nama desa di pasaman barat. Abak gue lahir dengan kondisi ayah nya meninggal saat beliau masih dalam kandungan. Dan saat beliau berumur 6th, ibunya meninggal. Jadilah abak gue diasuh oleh tante nya. Perjalanan hidup abak gue enggak mulus. Yang mengahadang jalan beliau bukan lagi kerikil, tapi batu karang.

Dengan jalan hidup yang keras, abak gue menjadi orang yang keras dan tegas. Abak gue tegas tetapi hanya diam. Beliau tidak mengutarakan kesalahan anak-anak nya. Beliau lebih memilih membiarkan anak-anak nya berpikir. *Sekarang gue tau kenapa gue pintar :p* #diludahinmasal

Walau begitu, gue tetap sayang abak gue. Semakin bertambahnya umur gue, gue selalu berpikir tentang jalan hidup abak gue. Membuat gue lebih mengerti dengan posisi beliau :')

Abak, walau sekarang anak laki-laki mu ini belum kaya secara finansial, tapi mudah-mudahan abak masih diberi umur panjang untuk menikmati hasil usaha ku kelak.

I LOVE YOU, ABAK! :'D

Happy father's day!