Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Friday, October 30, 2015

Kesturi

Ada apa dengan kesturi
Dia tak lagi mau menangis malam ini
Kantong mata nya ia usap berkali-kali
Takut jika tamunya tau bahwa tangis hendak ia peri

Ada apa dengan kesturi
Dia merapikan rambut berkali-kali
Menatap cermin memperhatikan diri
Apakah aku terlihat sudah rapi?

Kesturi memperhatikan jam sekali lagi
Sudah tengah malam dan dia terlihat resah menanti
Apakah tamu nya kali ini cukup jeli
Seperti tamu sebelumnya yang batal menidurinya hanya karena ia termenung terpatri

Kesturi
Apa kau tau jalan yang hendak kau hadapi
Apalah arti semua yang telah kau lalui
Kenapa dunia begitu membuat mu tuli
Apa kau tak lagi mendengar panggilan dari hati

Oh Kesturi

Friday, October 23, 2015

Tangkai bunga

"Bagai mana rasanya berkembang?" Aku bertanya pada bunga yang mekar dengan kelopak ranum berseri di puncak ku. Aku hanya sekedar bertanya tanpa mengharapkan jawaban. Bukan pertanyaan retorikal, karena aku memang tidak pernah merasakan berkembang. Aku hanya lah tangki yang menopang tiap kelopak yang ingin mekar. Tidak, aku tidak pernah bermaksud untuk berkembang. Jika aku mau, bagaimana dengan bunga? Dimana dia akan menopang? Dimana dia akan bergelantungan? Dia tidak akan terlihat indah jika bersatu dengan dedaunan. Lagian, walaupun aku mau, bagaimana caranya? Haha aku hanya tangkai..

Aku memiliki beberapa teman yang mati kesakitan. Dipatahkan, disayat, dipijak, hanya untuk orang-orang dapat menikmati bunga. Aku tidak tau giliran ku kapan. Sekarang aku berada di dalam rumah kaca yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan, dan akan datang masanya untuk ku mengalami kesakitan itu.

Aku heran.. kenapa orang-orang tidak pernah memajang kami para tangkai di dalam vas. Maksud ku hanya kami, tanpa bunga. Apa kah kami tidak memiliki keindahan? Apa kah karena bentuk kami hanya lurus, tegak, dan serupa semua? Aku yakin jika di belahan dunia lain ada tangkai yang memiliki warna lain, atau bentuk lain, atau ukuran lain, namun masih saja tetap tidak diperhatikan.

Kami juga memiliki keindahan setau ku. Bukan kah indah itu tidak diukur hanya dari kecantikan saja. Kami mengantar makanan pada bunga, kami menopang bunga, mempertahankan bunga dari badai, dan disaat bersamaan kami juga menjaga diri agar tetap kokoh dan mencoba terlihat indah. Keindahan kami bukan kecantikan, aku tak tau pasti, tapi aku yakin jika kami juga indah.

Sepertinya cukup segitu, pemilik rumah kaca ini datang menghampiri area ku. Seperti nya giliran ku. Mudah-mudahan saja tidak, tapi bunga yang mekar diatas ku sudah sangat indah dan ranum. Kalau saja ini giliran ku, setidak nya kalian sudah tau, jika kami para tangkai tidak begitu buruk.

Tuesday, October 20, 2015

Nostalgia Gramedia

Saat itu kami hanya ingin sekedar pergi jalan-jalan sore. Menikmati hari libur dengan menghabiskan sore bersama kawan lama. Rencana awal kami akan menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai, memesan minuman, dan menghabiskan waktu bercengkrama menikmati senja.

Semuanya berjalan lancar. Kami pergi jalan-jalan, bercengkrama, tertawa haha hihi, hingga tiba saatnya menghabiskan senja di pantai. Dalam perjalanan, seorang teman menoleh lama ke sebelah kiri memperhatikan sebuah banner yang terpajang besar dan tinggi. Dia lalu berhenti dan nyeletuk, "Jadi kangen baca buku. Buku baru yang bagus apaan ya?" Dia menatap banner pada sebuah gedung berlantai tiga yang bertuliskan gramedia.

Kami semua menoleh ke arah banner itu. Cukup lama terdiam, seolah semua saling memahami, kami semua serempak pergi kesana. Maklum semuanya bisa dibilang penggemar buku. Sewaktu masih di sekolah kami sering menghabiskan waktu pulang sekolah dengan pergi ke gramedia, membaca buku yang tidak diselimuti plastik, dan jika salah satu dari kami tabungan perminggunya sudah penuh, kami akan membeli satu buku dengan usulan bersama-sama. Sudah seperti kebiasaan, kami hanya membeli buku yang kami berlima sepakati. Dan "tabungan perminggu" adalah salah satu ritual kami yang begitu kami senangi untuk menikmati acara membaca buku. Satu buku dibaca secara bergilir dan dibeli secara bergilir juga.

Kali ini, kami rindu akan hal itu dan tanpa ba bi bu, kami langsung saja melangkah ke dalam toko buku itu. Tertawa mengingat masa-masa sekolah. Kami kembali melakukan ritual yang sama, tertawa sambil membaca hingga membuat lantai tiga gedung buku itu berisik karena ulah kami. Apasih yang bisa menghentikan kebisingan dari sebuah acara nostalgia? Bahkan orang tua yang uzur pun tak akan kalah berisik dibanding kami saat ini.


NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti gramedia blogger competition #GBCoktober