Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Tuesday, March 17, 2015

Patency of Nothingness

Cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Entah lah, aku tidak tau bagaimana mengutarakan nya. Kadang aku merasa sangat jijik terhadap kata itu. Seperti kadang-kadang aku teringat sesuatu yang benar-benar membuat perut ku mual. Yah, aku tidak pernah tau kapan pertama kali mengenali dan juga kapan pertama kali aku merasa bahwa aku tau dengan kata itu. Semuanya hanya berjalan begitu saja.

Kau tau teman, aku menyayangkan sikap mu yang rela mati konyol karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang rela mengakhiri diri dengan tangannya sendiri
Kau tau teman, aku menangisi sikap mu yang terpuruk karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang selalu murung di sudut kamar di balik jendela di dekat sorot cahaya
Kau tau teman, aku membenci sikap mu yang selalu terbakar karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang menghancurkan meja-meja yang tertata di aula
Kau tau teman... terlalu banyak yang tidak kau ketahui untuk aku ajari.

Aku sudah berada di level ketidakacuhan yang paling tinggi yang pernah aku capai.

Aku tidak acuh pada kata cinta.
Aku tidak acuh pada kata benci.
Aku tidak acuh pada kata peduli.
Aku tidak acuh pada kata mengasihi.

"Apa alasan mu?! kau bahkan tak pernah cukup peduli pada diri mu sendiri!"
"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak meminta mu untuk bertanya!"
"Itu alasan ku. Kau harus lebih tenang."

.............

"Aku tidak bisa tenang melihat diri mu! Kau penuh keterpura-puraan!"
"Aku?"
"Ya, kamu! Iblis kecil yang sekarang sudah besar!"
"Apa aku masih terlihat seperti iblis?"
"Kau menipu ku dengan muslihat mu!"
"Tenanglah kawan.. Ini aku. Aku yang penuh keterpura-puraan."
"Aha!! Akhirnya kau mengakuinya dasar jahanam! Kenapa kau berpura-pura?!"
"Entahlah.. Aku tidak pernah merasa demikian."
"Aku lelah.. sangat lelah," tubuhnya terkulai "Siapa kau?"

.............

"Aku?"
"Hanya kita berdua disini! Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ku?"
".... Kau..."
"Yah, aku tidak pernah berpura-pura. Ini aku."
"Lalu aku ini siapa?"
"Kau adalah Aku. Lihatlah sekeliling mu."

.......

"Semua ini nyata?"
"Bukan. Kau tidak nyata. Aku lah kenyataan."
"Bagaimana bisa kau mengatakan demikian?" suaranya melunak
"Kau sudah pernah hidup dalam tubuh ku. Aku sudah pernah hidup dalam pikiran mu. Dan sekarang semua telah berlalu."
"Lalu siapa orang-orang ini? Mereka tersenyum pada ku."
"Mereka?"
"Aku tidak sanggup lagi..."
"Mereka adalah aku. Bagian diri ku. Bagian yang selama ini kau anggap keterpura-puraan."


Kau tau teman, aku mencintai mu yang mati dalam pangkuan ku karena cinta. - teruntuk bagian diri ku yang telah menjadi masa lalu dalam kedamaian.


Sunday, March 15, 2015

Lenovo A6000 (Personal Review)

Lenovo... Hmm mendengar kata itu gue langsung teringat pada sebuah merek dagang yang berasal dari negeri tirai bambu. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam pembuatan teknologi termasuk pembuatan Smartphone. Dan baru-baru ini Lenovo merilis sebuah smartphone baru yang kece dengan harga worth it banget buat kantong mahasiswa. Smartphone baru ini diberi nama Lenovo A6000. Yap, A6000 awal diluncurkan pertengahan bulan January kemaren di India dan belum masuk ke Indonesia. Tapi gak usah khawatir bro and sist! Karena Lenovo A6000 bakal dirilis di Indonesia pada tanggal 19 Maret bulan ini dan Lazada akan dengan senang hati memberikan 4 unit Lenovo A6000 kepada empat orang yang pengen banget smartphone ajib ini! Caranya hanya dengan ikutan blog contest yang bisa dilihat di sini.

Karena gue juga mahasiswa anggap aja demikian karena kantong gue kurang lebih setara mahasiswa ehem.. ehem.. gue jadi pengen juga nih sama Smartphone yang satu ini. Secara dengan harga yang (kabarnya) 'cuma' satu jutaan, gue udah dapat mengantongi Smartphone yang fiturnya luar biasa keren. Walaupun ada sedikit kekurangan sih kagak ada yang perfect cuy... tapi ya ketutup sama kelebihannya yang emang jago! Apalagi dari segi harga hehe... *senyum mupeng*

Kayak gini nih penampakan Lenovo A6000








Gimana gimana?? Keren kagak?! Menurut gue sih keren.. Simple, Slim, dan Elegant gitu..

Kalau dilihat kelebihannya nih ya, Lenovo A6000 ini mengusung OS Android 4.4.4 aka KitKat dengan User interface Vibe UI 2.0. Jadi gak perlu takut lagi dengan tampilan monoton ala-ala Smartphone China lainnya bawaan langsung dari OS Android. Karena, Vibe UI ini sudah didesain khusus oleh Lenovo untuk membedakan Smartphone besutan mereka dengan Smartphone Android lain yang beredar di pasaran.

Tapi yang paling bikin gue demen banget dengan Smartphone ini adalah processor nya! IYA, PROCESSOR NYA! sengaja diulang biar greget. Kenapa? Karena Lenovo A6000 ini mengusung Processor besutan Qualcomm seri Snapdragon 410! Widiiihhh!!! Kelebihan processor ini adalah sudah mendukung 64-bit OS, jaringan LTE, kamera 13Mpx, GPU Adreno 306, dan CPU Quad-Core 1.4GHz Cortex A53! Dan harga smartphone ini 'cuma' dikisaran satu jutaan.. ehe.. ehe..

Yap, Lenovo A6000 menggunakan processor 64-bit Qualcomm Snapdragon 410 sebagai processor nya sehingga dapat menyematkan beberapa fitur yang cukup handal seperti:


- GPU Adreno 306 dan CPU Quad-Core 1.4Ghz Cortex A53
Berkat GPU dan CPU ini, bro and sist dapat berpindah-pindah membuka kamera, muter lagu, muter video, main game, dll dll dengan cepat. Bukan bro and sist nya yang pindah lho ya..
- Jaringan 4G LTE
Dengan kecepatan transfer data secepat ini, bro and sist semua gak usah takut dengan namanya buffering pada saat streaming online! (tergantung provider jaringan yang dipake juga sih. Kalo provider nya abal-abal, ya sama aja boong)
- Kamera beresolusi 8MP di bagian belakang dengan tambahan autofocus dan LED flash serta 2MP fixed-focus di bagian depan
Pengen Selfie? Bisa!! Pengen hasil selfie nya keren? Bisa!! Pengen foto-foto di tempat yang gelap? Bisaa~~
- Display berukuran 5.0" HD serta IPS touchscreen dengan resolusi 720x1280 pixels (294ppi)
Berkat layar HD, resolusi tinggi, serta ukuran layar yang lebar, tampilan UI A6000 ini akan terlihat jelas dan terang. Serta dengan teknologi IPS bro and sist bisa melihat tampian layar dari semua sisi dengan lebih leluasa.
- Expandable Storage hingga 32Gb
Dengan memori internal yang sudah tertanam berukuran 8Gb, bro and sist masih bisa menambah space memori dengan external micro SD hingga 32Gb jika masih dirasa kurang. Gede banget ya.. Bisa nyimpen video ehem, nyimpen lagu-lagu keren, foto yang banyak, dll.
- Dual Sim (Micro Sim)
Sim yang satu buat pacar dan satu lagi buat gebetan? Bisaaa~~

Fitur tambahan lainnya..


- Dari segi suara, pada Lenovo A6000 ini juga telah disematkan dua speaker berdampingan dengan tambahan Dolby Digital Plus
Secara nih ya, gue itu seorang music addict, dengan tambahan Dolby Digital Plus, gue gak perlu takut dengan suara musik yang jelek dengan menggunakan Lenovo A6000 ini. Bahkan saat bising pun suara yang dikeluarkan Smartphone ini bakal terdengar lebih dalam dan jernih.
 - Guvera music app
Bro and sist doyan musik? Tentu lah ya! belum pernah gue denger ada orang yang phobia sama musik Bro and sist pengen selalu up to date dong sama musik-musik terbaru. Dengan Aplikasi Guvera yang sudah ditanamkan langsung saat pembuatan, bro and sist gak usah takut ketinggalan untuk mendengarkan musik-musik terbaru dan itu bisa didapatkan dengan cuma-cuma alias gratisss!

Kalo kekurangan Lenovo A6000 ini sih menurut gue cuma dari segi RAM yang hanya 1GB. Yang lain gue belum bisa ngasih tau, secara nyobain aja belum.. Tapi dari spesifikasi yang beredar *bisa dilihat di sini, untuk Smartphone low-end dengan harga satu jutaan, jelas, Lenovo A6000 ini sangat patut untuk dicoba. Dan kalian bisa memesan secara langsung di Lazada pada tanggal 19 maret besok!


Referensi: QualcommLenovoGSMarenaLazada



Wednesday, March 11, 2015

Good Vibe

Apalah arti semua ini. Aku bahkan sudah tidak mengingat mu lagi setelah lima menit kita berpisah. Aku terlalu rendah untuk menangisi mu, setidak nya begitulah menurut ku. Bahkan gelas whiskey yang ku genggam ini tidak ada hubungannya dengan mu. Mungkin ada, tapi itu tidak lebih dari sekedar merayakan.. Yah hahaha akhirnya aku berpisah dengan mu. Seseorang yang menjadi kutukan ku sejak awal.

Kau melarang ku untuk melakukan hal yang aku suka dari lima menit kita pacaran. Dan aku sudah merasakan penyesalan pertama saat itu. Dan kau tau, jika aku meminta tambah ke pelayan bar ini untuk satu gelas whiskey lagi, percayalah, itu bukan karena mu. Aku mencintai Whiskey melebihi apa pun. Dan juga musik country yang di putar di bar ini saat ini, mengalahkan rasa cinta ku pada mu.

Aku tidak pernah malu untuk mengakui pada orang-orang disekitar ku jika aku pecandu whiskey. Mereka juga tidak akan peduli. Teman-teman mu, ah sudah lah, kau bahkan tidak pernah membicarakan aku di depan mereka.  Whiskey ini lebih berharga dari mu, asal kau tau. Dan musik Country yang sedang berdendang ini, aahh aku lupa jika kita pernah menjalin hubungan.


Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Mobil untuk Ibu

Aku ingat saat pertama kali menolong mu, Ibu, di kala sore hari di hari minggu. Kau ingat Ibu, aku meminta mobil-mobilan saat itu sebagai imbalan. Dan jika mengingat itu entah lah apa yang harus ku katakan pada mu saat ini.

"Ibu, dani mau mobil-mobilan itu?" kata ku. Aku meminta itu saat Ibu sedang sibuk menumpuk beberapa karton untuk di jual. Aku berdiri di sebelah mu.

"Harganya berapa?" kata mu

"50ribu." kata ku. Lalu kau berhenti mengikat karton-karton tersebut. Kau mengangkat tubuh lemah mu supaya berdiri. Kau menatap aku dengan tatapan iba.

"Bisa ditunda dulu Dani. Ibu akan membelikan mu minggu depan." kata mu

"Aku mau sekarang! Teman-teman ku di sekolah sudah punya mainan itu sejak lama.." kata ku merengek. Dan kau tidak tahan melihat ku menangis lalu menawarkan ku untuk menolong mu.

"Bisa kau bantu Ibu untuk mengepak karton-karton ini? Ibu akan membelikan mu sekarang." kata Mu. Kau tau Ibu, saat itu aku seperti orang baru menemukan tambang emas.

Setelah beberapa saat aku menolong mu baru lah aku tau jika pekerjaan mu tidak lah mudah. Kau mengepak karton demi karton yang kau kumpulkan dari tempat-tempat sampah dan dari rumah ke rumah. Aku mengikuti mu seharian itu dan aku tau betapa rendahnya kau di pandang orang-orang. Saat itu aku tidak berani mengatakannya pada mu. Hingga kau berhasil mendapatkan uang 50ribu itu dan kau memberikannya kepadaku untuk membeli mobil-mobilan seperti yang aku minta, dan aku akhirnya lebih memilih untuk membeli sebuah celengan dan menabung uang yang kau berikan itu. Kau memeluk ku. Dan aku tidak tau apakah kau menangis saat itu karena rasanya hangat.

Dan sekarang aku menjadi pengusaha mobil sesungguhnya ibu dan ku harap kau tersenyum melihat ku dari atas sana. Jika kau masih hidup tentulah aku ingin mengajak mu berkeliling dengan mobil-mobil ku.




Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Mr. Nerd and The Coffee Shop

Listen to this while you are reading to make sense One Direction - Night Changes

Aku tidak tau dari mana cerita ini berawal... Saat itu aku menemukan gadis ini disebuah kedai kopi tua yang ada di tepi jalan M. Yamin. Dia terlihat sangat kalut. Pakaiannya benar-benar formal untuk ukuran seorang gadis muda yang seharusnya menikmati masa-masa "centil". Bedak tebal dengan perona pipi yang tidak merata menempel di wajahnya. Dia memakai sepatu heels yang 'hak nya telah patah. Sepertinya sengaja dipatahkan karena ada bentuk tidak rata di kedua bekas patahan heels tersebut. Dan itu terlihat baru. Heels itu dia letakkan di kursi tepat di sebelah nya.

"Apa yang kau pikirkan gadis muda?" Aku menghampiri si gadis kalut dan duduk disebelahnya. Aku memindahkan letak heels ke bawah. Si Gadis dengan sigap menyambut tangan ku dan mengambil kembali heels nya. Dia meletakkan heels tersebut disebelah kanan nya.

"Jangan sentuh atau ibu ku akan membunuh mu!" Dia seperti sangat ketakutan. Pandangannya tertuju pada gelas kopi yang terisi setengah di hadapannya.

"Aku hanya memindahkan nya. Tidak apa gadis muda." aku memesan kopi dengan sedikit gula pada seorang bapak tua yang seluruh kulitnya sudah tampak keriput. Kira-kira umurnya 70an jika dilihat dari bentuk kulitnya.

"Aku Nerd. Boleh tau nama mu?" aku kembali menatap si gadis muda yang layu.

"Nerd? Nama macam apa itu?" kata si gadis muda. Matanya besar, bulat, dan cekung seperti mendapati sebuah keraguan.

"Orang-orang memanggil ku Nerd dan aku suka itu.." kata ku

"Nama mu?" aku kembali menanyai nya

"Entah lah.. aku tidak tau." badannya dirapatkan seperti mendapati suatu ketakutan. Matanya masih membulat cekung.

"Mungkin aku lancang, tapi tampaknya kau butuh teman berbagi cerita. Kau boleh cerita pada ku, aku akan dengan senang hati mendengarkan." kata ku

"Tidak.. tidak ada yang perlu aku ceritakan.." kata si gadis muda terburu-buru

"kalau begitu kau mau mendengar cerita ku? Aku punya sedikit stok cerita dongeng, mungkin bisa menghibur mu." kata ku. Si gadis muda hanya diam menatap gelas kopi nya.

"Baiklah, aku akan bercerita dengan gelas kopi ku." kata ku menyambut pesanan kopi ku yang telah jadi.

Kedai kopi tersebut hanya berbentuk satu gubuk kecil dengan meja yang membentang di depan gubuk tersebut. Dua buah kursi panjang mengisi sisi-sisi meja. Kami duduk menghadap ke arah gubuk dan hanya ada aku, si gadis kalut, dan pak tua sang penjual kopi disitu. Lampu jalan temaram yang ditutupi pohon jalan yang tumbuh dibawahnya membuat suasana kedai kopi tersebut remang-remang.

"Gelas, kau tau sudah kemana aku melangkah?" aku mengeluarkan sendok yang ada dalam gelas dan memukulkannya ke sisi gelas kopi ku. Hingga bunyi berdenting dan menarik perhatian si penjual kopi dan si gadis muda yang kalut.

"Aku tidak kemana-mana. Aku pergi dari satu daerah ke daerah lain, tapi aku masih di Bumi." kata ku lagi. Aku melihat dengan sudut mata apakah si gadis kalut mendengarkan atau tidak. Jika dia terlihat termenung lagi, aku dengan segera mendentingkan gelas kopi ku.

"jika pun suatu hari nanti aku dapat pergi ke Mars atau Jupiter, aku masih dalam Solar system." kata ku lagi. Aku menatap gelas ku seolah-olah dia mendengarkan ku.

"Jika pun suatu hari nanti aku bisa keluar dari Solar system, aku masih berada di Milky way." kali ini aku meminum kopi ku karena haus.

"Aduh maaf aku menelan mu! Kamu masih bersisa jadi tetap lah dengarkan aku." kata ku. Si gadis muda tampak masih mendengarkan ku. Si pak tua penjual kopi pun masih antusias memperhatikan ku.

"Sebenarnya aku, kau, dan semua yang ada disini dan dimanapun tidak pernah kemana-mana, kau tau?" kata ku menggoyang-goyang gelas kopi tersebut.

"Tidak tau? Tentu saja kau tidak tau! Kau hanya segelas kopi hitam, pekat, dan pahit. Kau hanya melayani orang lain dalam gelas mu!" kata ku masih memandang kopi ku.

"Tapi kau tau, aku sangat suka pada mu.. Kau mebuat ku nyaman. Karena pahit mu kau tidak pernah berharap untuk menjadi gula dan kau tidak pernah membiarkan orang lain mengubah mu menjadi teh. Kau berteman dengan mereka dan menjadi diri mu sendiri."

"Dan ketika kau masuk ke perut ku, itu tanda aku berterima kasih pada mu. Aku sangat menghargai mu karena kau menjadi diri mu sendiri." aku menggoyangkan lagi gelas kopi ku dan meminum nya. Masih tersisa seperempat gelas lagi.

"Aku tau kenapa orang-orang memanggil mu Nerd. Kau memang culun. Kau mengobrol dengan kopi!" kata si gadis kalut masih dengan tampang meragu.

"Bukan kah itu bukan urusan mu?" kata ku lalu menatap lagi gelas kopi ku. Si gadis kalut ternyata tidak mendengarkan perkataan ku yang terakhir.

"Ibu ku selalu memaksaku memakai semua ini.." dia mengembangkan tangannya ingin memperlihatkan apa yang ia pakai. Aku berhasil membuatnya bicara.

"Dia selalu memaksaku untuk tampil cantik dengan pakaian-pakaian sialan ini dan juga alat-alat kosmetik yang aku sudah tidak ingin melihat nya." Air matanya mengalir dan tangannya dengan kasar menggosok-gosok wajahnya yang di tutupi bedak.

"Apa aku terlihat seperti badut?" Dia menanyai ku dengan tatapan putus asa. Aku hanya diam tidak menjawab.

"Aku menginginkan memakai sepatu kets, celanaj jeans, dan baju kaus, dan juga topi.... Aku ingin rambut ku jatuh sebagaimana ada nya.... A..Aku menyukai diri ku apa adanya... Aku tidak suka yang berlebihan dan dia terus memaksa ku." Nada suaranya meninggi dan terbata-bata. Si kakek tua penjual kopi tampak tertegun menatap gadis yang berpakaian formal yang ada di depannya.

"Aku hanya ingin menulis... Aku hanya ingin melukis... Aku hanya inginkan itu.. Aku tidak menginginkan yang lain.. Aku tidak menginginkan semua ini." Dia mengacak-acak rambut nya yang tersanggul rapi dan menutup wajahnya dibalik kedua tangannya. Rambut gadis ini ikal dan lembut. Cantik terjurai cukup panjang.

Aku merangkul si gadis kalut. menepuk pundak nya beberapa kali dan mengusai rambutnya.

"Kenapa kau tidak pergi saja?" kata ku mencoba memberi saran

"Kemana aku harus pergi? Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu ku.." kata nya

Aku mengeluarkan sebuah pemutar musik di saku celana ku dan memilih sebuah lagu "1D - Night Changes". Aku menyuruhnya untuk bangkit dan memasang earphone yang ada di tangan ku.

"Coba dengarkan lagu ini.." kata ku. Si gadis kalut memasang earphone tersebut dan mendengarkan lagu yang ku pilihkan. Kepalanya sudah tegak untuk mendengarkan lagu itu.

Setelah beberapa saat dan beberapa kali dia meminta lagu tersebut untuk di putar ulang, wajahnya terlihat berseri. Rona motivasi muncul di pipinya mengalahkan pewarna yang ada disana.

"Boleh aku ikut dengan mu, Mr Nerd?" kata Si gadis.

"Aku akan pulang mengambil barang-barang ku yang tidak seberapa, meninggalkan surat untuk ibu ku yang mengatakan 'betapa aku menyayangi nya dan akan kembali lagi jika aku sudah cukup dewasa dengan pilihan ku' dan akan kembali kesini. Ibu ku mungkin belum pulang jam segini." kata Si gadis. Matanya tampak berseri-seri

"Kalau boleh tau, apa pekerjaan mu, Mr. Nerd." kata Si gadis muda pada ku.

"Aku tidak pernah bekerja dan tidak pernah memiliki apa-apa. Aku menikmati hidup dalam perjalanan." kata ku

"Kau mau mengajak ku kan?" mata Si gadis kalut sekarang tidak cekung lagi. Matanya berisi dan itu adalah perubahan yang sangat cepat yang pernah aku lihat dalam diri seseorang.

"Aku tidak pernah mengajak siapa pun. Jika kau mau ikut, ayo kita pergi berjalan bersama." kata ku

"Kau tunggu aku disini.. Aku akan kembali.. hanya beberapa menit.." kata si gadis lalu membayar kopinya dan bersiap untuk pergi.

"Oh iya Mr. Nerd, perkenalkan aku Miss Weird." dan Si gadis pergi dengan terburu-buru tanpa alas yang melindungi kaki nya. Sepatu heels yang sedari tadi dijaganya sekarang dia tenteng di kedua belah tangan nya.

Aku meminta tambah kopi satu gelas lagi pada Pak tua penjual kopi. Dia menatap ku tersenyum sembari menunjuk-nunjuk ku dengan telunjuk keriputnya.



Sunday, March 8, 2015

Karavan Musim Gugur

Tulisan ini akan lebih baik dibaca sekiranya sambil mendengarkan lagu ini "One Ok Rock - Wherever You Are"

Senin malam di hampir penghujung bulan September. Di samping Karavan tua yang terparkir di tepi sungai yang berarus deras. Api unggun menyala cukup besar untuk kita nikmati berdua kala itu. Sebuah gitar akustik yang kau mainkan dengan begitu merdu menemani cahaya bulan yang terang. Teko yang di isi air dengan seduhan kopi di dalamnya, menggantung pada dua buah ranting yang kau rangkai disebelah unggun tersebut. Aku ada di sebelah kiri mu memeluk kedua tangan ku yang diselimuti sarung tangan. Kau masih terus bernyanyi untuk menghangatkan suasana malam itu.
Lalu tiba-tiba kau berhenti memainkan gitar mu. Menatap ku yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangan ku menandakan betapa dinginnya udara malam itu. Kau menyandarkan gitar mu pada Karavan tua tempat kita bersandar. Karavan yang selalu membawa kita menikmati perjalanan yang tak berarah ini. Perjalanan yang bertujuan hanya untuk menikmati keindahan alam secara berduaan. Antara aku dan kamu.

Kau merangkul pundak ku dan mendorongnya mendekat kearah pelukan mu. Aku memperbaiki posisi ku agar dapat bersandar di dada mu. Beberapa kali kau mencium kening ku dan tersenyum hangat. Kita hanya diam mendengarkan sungai yang mengalir, menikmati nyanyian jangkrik, dan merasakan desiran angin di bawah bayang-bayang bulan yang sangat terang.

Hanya beberapa saat, kau menggeser tubuh ku lagi dan pergi beranjak menuju kedalam Karavan. Lalu kau keluar membawa dua kaleng Beer yang dingin karena ulah angin. Kau membukakan satu untuk ku dan satu untuk mu. Lalu kau membuka jaket katun yang dilapisi parasut pada bagian luarnya yang menghangatkan tubuh mu sedari tadi. Bahkan hingga topi rajut yang kau pakai pun kau tanggalkan. Aku menatap mu heran dan kau menatap ku balik dengan sebuah senyuman setelah menenggak Beer yang kau buka tadi. Sekarang hanya ada sehelai baju tipis berwarna hitam yang bertuliskan 'Another Life', celana jeans biru pudar, dan sepatu boots yang tapak nya sudah hampir tipis melekat di tubuh mu.

Masih dalam tatapan heran aku menyaksikan mu mengambil gitar mu kembali. Lalu kau mendorong kayu-kayu yang letaknya tidak dapat dijangkau api unggun yang sudah melemah. Kau memperbaiki posisi duduk mu lagi dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memainkan gitar mu.

"I'm telling you 
 I softly whisper..  
Tonight tonight
 You are my angel...
 Aishiteru yo 
 Futari wa hitotsu ni 
 Tonight tonight 
 I just say…"
Kau melantunkan lagu yang menjadi favorite kita ketika malam menjelang dan kita masih dalam Karavan melintasi jalanan. Dentingan dawai gitar mu mebuat ku hampir menangis karena begitu merdunya kau memainkan lagu itu. Petikan-petikan kecil gitar mu yang mengawali nyanyian mu benar-benar sangat membuat ku hangat kala itu.

Aku merebahkan kepala ku di pundak mu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kepala ku. Menikmati kau menyanyikan lagu yang begitu menghangatkan ku di malam yang cukup dingin ini.

"...Wherever you are, I'll always make you smile 
 Wherever you are, I'm always by your side 
 Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
 I promise you "forever" right now..."
Saat bagian itu aku meneteskan air mata haru. Perasaan ku benar-benar hangat kala itu. Aku teringat saat kau pertama kali mengajak ku untuk berkeliling melihat dunia dengan Karavan tua mu, dan aku menganggap mu orang gila. Hingga orang tua ku meninggal dan semua orang menjauhi ku karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi, kau datang menghampiri ku untuk yang entah kesekian berapa kalinya dan menawarkan ajakan yang sama. Dan saat itu aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada ku sampai-sampai aku mengiyakan ajakan mu. Aku hanya mengikuti mu dan merelakan diri ku atas apa yang akan terjadi. Aku benar-benar sangat merasa kosong kala itu. Dan aku sungguh tak pernah menyangka kau akan seserius ini menjaga ku. Sampai saat ini...
"I don't need a reason
 I just want you baby
 Alright alright
 Day after day

 Kono saki nagai koto zutto
 Douka konna boku to zutto
 Shinu made stay with me
 We carry on…"

Api unggun bergerak kian kemari ditiup angin. Teko yang menggantung disebelah unggun ikutan bergoyang dihembus angin. Daun-daun yang gugur berterbangan seolah-olah ikut menikmati lantunan suara mu. Air mata ku benar-benar tidak tertahan kali ini. Aku terisak menahan suara tangis ku. Kenangan pahit antara aku dengan lingkungan ku, hingga dirimu yang selalu menunggu ku, menyeruak hebat dalam pikiran ku saat itu. Dan kau masih terus memainkan gitar mu. Aku menyentuh dadamu dan rasanya sangat hangat.

Kau hanya diam menikmati guncangan tubuh ku yang terisak menahan suara tangis ku. Kau seolah-olah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Kau seolah-olah tau dengan apa yang aku pikirkan. Dan aku merasa kau memang mengerti. Kau hanya tetap terus menyanyikan lagu itu meski sekarang air mata ku sudah membasahi pundak mu. Sedangkan tangan mu masih asik bergerak memainkan melodi lagu itu.

"...Wherever you are, I'll always make you smile 
Wherever you are, I'm always by your side 
Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
I promise you "forever" right now

Wherever you are, I'll never make you cry 
Wherever you are, I'll never say goodbye 
Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
I promise you "forever" right now"

Kau menghentikan petikan dawai gitar mu dengan petikan-petikan kecil di penghujung nyanyian mu. Tangan kanan mu mengusap air mata ku yang hampir kering ditiup angin. Kau menarik dagu ku lalu mengarahkan dahi ku ke bibir mu. Sangat lembut dan pelan kau menyentuh dahi ku.

"Aku mencintai mu, Cinta." kata mu sambil menyodorkan sebuah kotak persegi kecil yang isi nya cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diatasnya kau lilitkan rumput ilalang yang daunnya kau biarkan tegak mengambang. Dan saat itu aku hanya memelukmu erat dan kau mengusap-ngusap kepala ku dengan kedua tangan besar mu hingga aku terlelap dipelukan mu dibawah bayang-bayang bulan yang bulat terang. Dan baru kali itu kita tidur diluar Karavan sepanjang malam dan aku sangat merasa aman tanpa sedikit pun ada rasa kekhawatiran.




Wednesday, March 4, 2015

Ketika di Bukit

Hari itu hari minggu. Dua pemuda tampak memakai pakaian lengkap untuk mendaki beserta tas ransel besar di punggung mereka masing-masing. Kamera digital terlihat menggantung di leher mereka. Mereka berangkat menggunakan kendaraan umum hingga kaki perbukitan tersebut.

"Aku tidak menyukai rerumputan tadi." kata Jeri
"Daunnya terlalu basah?" kata Sean
"Dan tinggi. membuat kaki ku gatal."
"Itu bukan salah rumputnya."
"Tentu saja salah rumputnya. Aku hanya berjalan dan mereka menggigit ku."
"Berjalan dengan celana pendek?" kata Sean menurunkan ransel nya.
"Aku tidak mengira rumputnya akan setinggi ini." Jeri masih membungkuk memukul-mukul kakinya.
"Aku sudah mengingatkan." Sean merebahkan badan di bawah pohon beringin yang rindang tempat mereka berhenti. Akar-akar beringin tersebut sudah sama besarnya dengan cabangnya.
"Untuk memakai sepatu boots? Kau tidak melihat ini?" Jeri mengangkat kakinya
"Untuk melindungi kaki mu. Kau melupakan bagian itu."
"Aku hanya tidak menyangka." Jeri menurunkan ransel nya juga dan merebahkan diri di sebelah Sean.
"Pemandangannya sangat indah." kata Jeri
"Terbayar bukan?" 
"Untuk sesaat. Jika saja sekarang mendung aku tidak akan mau melewati jalan terkutuk itu."
"Berhentilah mengeluh. Aku sudah mengingatkan." Sean mengeluarkan sebuah lensa lebar dari ranselnya.
"Kau menyebalkan." Jeri meninggalkan Sean dan pergi ke ujung tebing. Dia mengembangkan tangan menikmati hembusan angin perbukitan.

Hari sudah hampir siang. Mereka menaki bukit ini dari saat matahari belum terbit. Jalanan yang terjal dan penuh semak belukar menjadi kendala mereka dalam meminimalisir waktu. Ditambah saat Jeri terus mengeluh ketika melewati lahan rumput gajah yang luas. Embun yang masih menempel pada ujung rumput tersebut memang akan terasa lengket dan gatal.

Sean telah mengganti lensa zoom yang sebelumnya terpasang pada kamera nya dengan lensa lebar yang baru saja dia keluarkan. Dia berjalan kearah Jeri dan mengarahkan kameranya pada kawannya tersebut.

"Tahan disana." kata Sean.
"Credit untuk ku jangan lupa." kata Jeri dengan menahan tangan nya agar tetap terkembang.
"Coba lihat hasilnya." Jeri membalikkan badan dan menghampiri Sean.
"Seharusnya puncak gunungnya tidak kau tutupi dengan tubuh ku. kata Jeri.
"Aku ingin menonjolkan dirimu dan lembahnya." kata Sean.
"Aku tidak suka jika aku modelnya dan gambarnya seperti itu."
"Selera mu, bukan selera ku." kata Sean dan meninggalkan Jeri lalu mengamati pemandangan disekitarnya.
"Hey, kalau beitu ganti model nya!" Jeri berseru. Tetapi Sean tidak menoleh sedikitpun.

Pohon beringin tempat mereka berteduh berada diatas gundukan tanah yang agak tinggi. Jaraknya sekitar dua puluh meter dari ujung tebing tempat mereka berdiri tadi. Di sekitar pohon beringin tersebut tumbuh pohon pinus yang tinggi. Tidak sampai ke tebing tempat mereka berdiri tadi. Hanya sekitaran belakang pohon beringin tersebut

Seekor burung terbang di atas kepala Sean. Warnanya hitam dengan belang putih pada bagian perut. Bergerak kian kemari antara tebing dan lepas tebing. Pertama-tama cuma seekor dan sekarang menjadi dua ekor setelah burung tersebut berkicau beberapa kali.

"Kenapa ada burung diatas kepala mu?" Jeri menghampiri Sean yang duduk memandangi sisi tebing yang lainnya dari atas sebuah batu besar.
"Kenapa ada aku dibawah mereka?" kata Sean
"Begitulah.."
"Apa ransel kita aman?" kata Jeri
"Apa kau lihat ada orang lain disini?"
"Seandainya ada yang datang?"
"Mereka hanya akan menikmati pemandangan."
"Dengan oleh-oleh dua tas ransel maksud mu?"
"Mungkin keberuntungan mereka." kata Sean
"Peralatan kamera kita ada disana. Bekal kita juga disana. Segalanya ada disana." kata Jeri sedikit cemas
"lalu?"
"Apa kau tidak cemas?"
"Apa yang harus aku cemaskan?"
"Kau terlalu cuek Sean."
"Aku mempercayai." Sean mengarahkan matanya pada bidikan kamera.
"Imajinasi mu gila. Kau gila."
"lalu?"
"Aku heran kenapa aku harus mengikuti mu."
"Aku tidak mengharuskan mu mengikuti ku. Aku cuma mengatakan pada mu  bahwa aku akan pergi ke tebing dengan pemandangan yang indah. Dan kau mengikuti ku."
"Kau sedikitpun tidak khawatir dengan tas kita?"
"Aku lebih mengkhawatirkan mu." kata Sean setelah mengambil beberapa gambar yang ada dihadapannya. Lalu kepalanya tertunduk utuk melihat bagaimana hasilnya.
"Jika kau ragu, kenapa tidak kau lihat saja kesana?" aku mengatakan itu setelah melihat duduk Jeri tidak lagi tenang.
"Tas mu juga ada disana." kata Jeri.
"Aku tidak khawatir dengan tas ku."

Jeri pergi kearah pohon beringin melalui jalan setapak yang terbentuk oleh batu-batu tebing yang hancur dimakan usia. Langkah nya kasar dan keras. Dia masih tidak menerima cara pandang Sean yang menurutnya terlalu naif.

Sampai disana Jeri mendapati tas ransel nya masih dalam keadaan utuh. Masih ditempat semula. Hanya posisinya yang telah rebah kedepan karena hembusan angin bukit. Dan sekarang sudah hampir tengah hari.

Sean kembali ke pohon beringin. Setelah puas mengambil beberapa gambar lembah dan perbukitan, Sean berencana untuk memakan bekal yang ia bawa. Hanya beberapa wafer dan snack ringan. Sesampai di pohon beringin, dia mendapati Jeri telah tertidur dibawah rindangnya pohon tersebut. Bantal busa yang terlipat di saku luar yang menggantung pada ransel Jeri telah terkambang dan menyandar di akar pohon beringin. Jeri terkapar disana.

"Mungkin sekarang dia dapat menikmati alam." Sean berbicara sendiri dan bersandar pada batang beringin tersebut sambil menikmati bekal yang ia bawa. Hembusan angin benar-benar sejuk dikala itu.