Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Friday, July 31, 2015

Kura-kura tanpa tempurung

Kura-kura muda itu telah mempersiapkan segala perlengkapannya. Telah lama ia berlatih secara sembunyi-sembunyi. Ditiap malam, disaat semua terlelap dan tak ada lagi yang peduli karena kelelahan. Dia telah berlatih cara bagaimana untuk hidup tanpa tempurung yang menyelubunginya. Hasratnya adalah untuk berlari menembus hutan dengan cepat dan melihat keindahan dunia dengan kedua matanya.
            Dia telah memutuskan untuk berangkat malam ini secara diam-diam agar keluarganya tidak menghentikan keputusannya. Dia telah sering menyampaikan kepada keluarganya perihal keinginannya ini namun keluarga nya sering menganggap ia mengada-ada. Terutama saudara nya yang mengira bahwa dia sudah gila.
            Alasannya adalah karena keluarga nya sangat takut dengan rubah, walau para rubah selalu berlaku baik kepada mereka. Dia sering diingatkan oleh ibu nya bahwa para rubah hanya berpura-pura. Mereka selalu berhasrat ingin mencicip daging kura-kura, begitulah yang sering disampaikan ibu nya.
            Namun ia tidak percaya. Yang ia ketahui adalah dia memiliki teman rubah yang sangat baik kepadanya.  Ia sering diceritakan rubah tentang hal-hal baru ketika rubah pulang berkelana dari dalam hutan belantara. Teman terbaik yang pernah aku punya, pikirnya.
            Awal keinginannya muncul ketika rubah menceritakan warna-warni dunia kepadanya. Pikiran liarnya membayangkan tiap gambar yang disampaikan rubah dalam bentuk kata-kata. Dan tidak hanya itu saja, rubah selalu menceritakan dirinya akan predator yang selalu mengintai setiap perjalanan. Namun rubah berjanji akan mengajarinya bagaimana cara membaca pertanda dan menyembunyikan diri ketika predator datang jika ia ingin berkelana.
            Ia telah membuat keputusan. Ia menghampiri rubah yang menunggu di dekat pohon besar. Dia masih memakai tempurung dan memutuskan untuk keluar dari sana di hadapan rubah. Dia ingin rubah melihat betapa besar keinginannya sehingga rela meninggalkan tempat teraman nya.
            Kura-kura itu sekarang telanjang. Lepas dari sesuatu yang selalu mengamankan dirinya. Baik itu tempurung maupun keluarganya.
            Rubah tak bergeming menatap kura-kura. Baru kali ini ia melihat tubuh kura-kura dan sepertinya ia menikmatinya. Lalu dengan segera rubah mengajak kura-kura untuk segera berlari ke dalam hutan. Tak seperti yang dibayangkannya, kura-kura ternyata mampu mengimbangi lari nya.
            Berhari-hari mereka berlari dan tidak ada sesuatu yang mengganggu terjadi. Seperti yang diceritakan rubah, Kura-kura melihat sisi-sisi terindah yang disembunyikan hutan yang belum pernah sama sekali dilihatnya. Dia merasa begitu berbeda mengetahui hal-hal baru yang selama ini hanya bisa dibayangkannya saja.
 Namun suatu hari, ketika mereka sedang beristirahat di tepi sungai, rubah secara mendadak menancapkan kuku nya ke tubuh kura-kura yang sedang berbaring. Air liur Rubah menetes sehingga kura-kura menjadi sangat gemetaran. Rubah mengatakan bahwa ia telah merencanakan semua ini dan sengaja mengajak kura-kura untuk terus berlari agar otot kura-kura menjadi semakin padat dan dagingnya akan menjadi semakin lezat.
Dalam ketakutan, kura-kura mencoba melawan. Lehernya yang panjang dan lentur bergerak mengantarkan mulutnya untuk menggit jemari rubah yang mencengkramnya. Dia terlepas dan segera pergi jauh untuk menyelamatkan diri. Larinya menjadi sangat kencang sehingga rubah tak sanggup mengejar lalu kehilangan jejak.

Kura-kura sudah lupa jalan pulang dan memutuskan untuk terus berkelana. Dia mengingat pelajaran dari rubah untuk terus membaca pertanda. Dan semakin jauh ia berjalan, ia berjumpa lebih banyak penduduk hutan, juga semakin banyak yang ia ketahui akan kebenaran.
Wednesday, July 29, 2015

Paradoks


Dia menyeduh kopi untuk kali ketiga. Setelah sebelumnya dua kali menjadi dingin karena terlalu lama dibiarkan, terlupakan karena kesibukan. Kali ini ia berjanji tak akan melupakan bagian terbaik dari penikmatan secangkir kopi. Ketika kepulan yang masih menggelora memanggil-manggil melalui aroma.
Dikali pertama, ia menghidangkan kopi disuatu pagi, saat matahari di ufuk timur muncul berseri-seri. Kopi itu penuh semangat sedangkan matanya terlalu lemas untuk sekedar membuka. Dia menunggu, membiarkan kopi itu kehilangan panas; sayangnya terlalu lama. Kopi itu masih enak tapi sudah tidak nikmat. Lalu ia berjanji akan memperhatikan; menunggu hingga menyentuh suhu yang tepat.
Kali kedua, disaat kertas-kertas bertumpukan di meja kerja. Dia menyeduh kopi dengan panas yang sama, menunggu, dan tidak memalingkan mata. Namun sayangnya, kertas-kertas itu terus menggoda untuk digoresi tinta. Pekerjaan membuat dia terlena hingga ia lupa ada secangkir kopi yang butuh perhatian. Lalu ia berjanji tidak akan pernah membiarkan lagi; tidak lagi peduli pada panas.
Ini lah kali ketiga. Sebagai penebusan untuk hari ini, dia pergi ke kedai kopi dan membiarkan orang lain yang meracik kenikmatannya. Ia terus memperhatikan kepulan yang tak berhenti-henti di permukaan gelas. Dia tidak ingin lagi kenikmatan nya direnggut oleh keteledoran nya sendiri. Sudah terlalu banyak janji yang ia ingkari tetapi dia tidak pernah mau berhenti; ia terlalu mencintai kopi. Diangkatnya gelas kopi, dirasakannya panas yang menari, lidahnya terasa terbakar karena memang belum saatnya menyentuh kopi.
Gelas itu ia dorong secepat kilat, menyebabkan sebagian kopi tumpah membasahi meja. Ada apa dengan kopi, pikirnya. Dia tau bahwa ia sangat mencintai kopi, namun kali ini, untuk hari ini, dia tidak bisa bersentuhan sama sekali; dalam kerangka penikmatan secangkir kopi.
“Aku sudah berusaha.. tapi ada apa ini?” dia terlihat putus asa. Dia pandangi kopi yang menggenang, pikirannya menghadirkan segelas teh sebagai pengganti.
“Aku mencintai kopi!” dia menegaskan diri dan menghilangkan bayangan segelas teh yang menari-nari.
Kopi tak mau berkompromi. Dia terlalu sakit hati karena telah dikecewakan dua kali. Ia lantas mengalirkan bagian dirinya yang menggenang diatas meja. Penikmatnya itu mendorong meja, mengusap pahanya; akibat ditumpahi kopi yang panas. Membuat kopi bergoyang-goyang di dalam gelas; kegirangan.
Kopi itu sekarang berada di suhu ternikmat ‘penikmatan secangkir kopi’. Setelah pembalasan, ia menghilangkan kepulan yang menyelubunginya. Ia tidak lagi bergoyang dan terlihat damai memanggil penikmatnya untuk segera mencicipi nya.
Namun penikmatnya telah kehilangan selera. Dia marah sekaligus kecewa. Mungkin aku harus menjauhi kopi dulu untuk beberapa lama, pikirnya. Dia lantas mencari meja kosong dan membiarkan kopi itu membeku sendirian disana. Ia melambaikan tangan memanggil barista dan memesan teh manis sebagai penggantinya.
Monday, July 27, 2015

Satu kisah dari rumah

Ingatan itu seperti runtuh satu persatu. Setiap bagian istana yang telah aku bangun hancur diterjang badai. Perlahan namun pasti aku seperti tidak mengingat apa-apa lagi. Siapa aku? Kemana aku? Dimana aku? Hanya tiang-tiang pondasi itu kokoh berdiri menjulang, komposisi yang aku tancapkan dalam dengan sangat hati-hati.

Aku mencoba menggali puing-puing kenangan itu. Namun timbunan yang menumpuk menyuratkan jika aku harus berusaha menggali lebih kuat lagi. Saat aku mencapai batas timbunan itu, aku hanya menemukan tumpukan bagian bangunan yang sudah tak berbentuk. Air mata ku menetes, membasahi sisa bangunan, tempat dimana ketika aku lelah dapat menentramkan hati ku.

Lama aku meratap. Menyaksikan istana indah yang selalu menampungku sekarang hancur menjadi debu. Aku seperti kehilangan sebagian diri ku. Aku merasa jika bagian terdalam diri ku saat itu ikut diporak-porandakan oleh badai. Tiap hari aku mencoba mengingat bagaimana bentuk bangunan itu seutuhnya namun sia sia. Istana itu benar-benar telah direnggut dari ku.

Sempat terpikirkan jika aku lebih baik tidak pernah membangun istana itu. Namun aku tau sesal tak akan pernah mampu memundurkan waktu untuk merubah apa yang telah ditetapkan. Untuk badai agar tidak menyerang istana indah ku. Lagi pula istana itu pernah melindungi ku dari panas dan hujan dan aku sangat berterimakasih untuk masa-masa indah yang lama itu.

Aku masih memandangi puing-puing itu. Memikirkan apa yang salah terhadap rancangan istana ku. Aku telah membangunnya sekian lama dengan sangat teliti. Memberikan setiap warna pada setiap bagiannya sehingga istana itu tampak indah berseri-seri. Tapi aku tak pernah memperhatikan bahan-bahan penyusunnya. Aku terlalu sibuk memikirkan keindahannya. Dan aku tiba-tiba menjadi resah menyangkut hal itu.

Aku mengamati tempat berdiri nya, berani di bibir jurang yang menghadap hamparan lautan. Aku memilih tempat itu karena disanalah aku dapat menikmati kehidupan. Menikmati keindahan laut dari ketinggian. Aku tidak pernah memikirkan jika laut akan menghembuskan angin sekuat itu. Yang selama ini aku tau hanya segala hal tentang keindahan sehingga aku melupakan beberapa kejelekan.

Aku menggali lagi bagian-bagian penyusun istana ku. Aku pandangi dan aku menyadari jika selama ini aku tidak pernah menyentuh dinding-dinding yang hancur itu. Lalu aku menyentuh puing-puing tak berbentuk, berupa sepetak kecil utuh yang masih menyatu, dengan ujung jari ku. Sangat rapuh. Bagian itu hancur seketika.

Aku tersadar jika selama ini yang aku bangun adalah sebuah gubuk yang seolah-olah berbentuk istana. Gubuk dengan tampilan indah yang dinding-dinding nya begitu rapuh. Walaupun begitu aku tidak pernah menyesalinya. Karena sekarang aku menjadi tau jika selama ini tempat ku berpulang hanya sebuah gubuk indah yang begitu rapuh.

Diatas tumpukan bagian-bagian itu aku tertawa dalam tangisan ku, menyadari betapa bodoh dan konyol nya diri ku. Aku menelentangkan tubuh ku diatas kehancuran itu dan kepala ku terkulai menyaksikan pondasi ku yang tak sedikitpun goyah. Aku tertawa lebih keras lagi namun mata ku terus mengeluarkan cairan. Aku merasa sesuatu didalam diri ku baru saja sedang dibangun sesuatu dan itu sangat melegakan.

Setelah berhari-hari aku menghindari angin karena membenci sekarang aku berterimakasih pada nya yang telah memperingatkan ku. Kali ini aku membiarkan ia menerpa wajah ku, terasa lembut dan sangat berarti. Aku juga berterima kasih kepada gubuk yang selama ini melindungi ku karena telah membiarkan aku menikmati keindahannya. Dan aku sangat berterima kasih kepada konspirasi alam yang telah mengajari ku beberapa pelajaran. Itu semua sungguh pengalaman berarti.

Sekarang aku ingin membangun sebuah rumah. Dengan pondasi yang sama dengan pembentuk gubuk ku yang indah. Hanya rumah mungil dengan dinding penuh warna dan jendela kaca yang terbuka. Dan bagian-bagian penyusun nya kali ini harus ku perhatikan dengan seksama. Agar kelak angin yang berhembus dapat menyegarkan ku dan tidak merusak sedikit pun keindahannya.
Thursday, July 23, 2015

Time Traveler

Diego meratap melihat anak-anak yang sedang asik bermain kelereng di pojokan gang sempit yang dilaluinya. Jalan tersebut membelah kiri dan kanan dan dia berdiri berhadapan dengan anak-anak tersebut. Ada sesuatu yang kosong merasuki dadanya saat ini. Dilihat nya anak-anak tersebut lamat-lamat --tanpa bergeming, dia hanya terpaku pada dua kakinya yang sejajar. Hingga salah seorang dari mereka menyadarinya, Diego lantas memalingkan wajah untuk menghilangkan kegetirannya.

Sudah berapa jauh aku berjalan, pikir nya. Satu tahun lagi dia akan berusia dua puluh dan ia hampir tidak menyadarinya. Dia lalu berjalan menghampiri anak-anak tersebut. Kira-kira umur mereka antara lima sampai tujuh tahun. Betapa naif nya anak-anak ini, ia bergumam. Semakin dekat ia berjalan semakin jelas bagaimana wajah anak-anak tersebut terlihat. Wajah-wajah penuh semangat dengan mata berseri-seri.

Lalu dia berhenti ketika melewati sebuah rumah berjendela kaca hitam yang memantulkan bayangan nya secara sekilas. Entah apa yang dia pikirkan, ia merasa jika kaki nya tidak mau lagi untuk berjalan kedepan. Sudah lama memang dia tidak bercermin karena ia merasa memang tidak perlu.

Dia lalu berbalik. Hanya selangkah lalu sekarang dia sudah berdiri dihadapan kaca tersebut.

Kaca itu tinggi hampir menyentuh atap rumah. Bagian bawah nya hanya setinggi pinggang Diego. Bingkai nya timbul terbuat dari kayu yang diamplas kasar tanpa dicat. Walaupun begitu, kaca tersebut terlihat cukup mewah dengan warna hitam. Untuk ukuran rumah yang berada di gang sempit, kaca itu memberikan Diego kesan yang baik terhadap pemilik rumah.

Diego lalu mengamati apa yang dipantulkan oleh kaca tersebut. Sesosok anak muda dengan rambut cepak acak-acakan. Leher kurus dengan tampilan tulang yang menonjol menopang wajah yang terlihat tirus dan kusam. Sudah tiga hari dia tidak mandi. Bekas-bekas asap knalpot dan debu dari kulit orang kota yang berterbangan, menempel memperjelas garis-garis wajahnya.

Betapa menyedihkan anak ini, pikirnya. Sorakan anak-anak yang kegirangan kini merayap melalui dinding-dinding telinganya. Menggema melantun-lantun hingga menyentuh gendang telinganya sehingga dia dapat mengerti bagaimana perasaan yang dibawa oleh suara tersebut. Lagi, ia mengulang apa yang ia pikirkan namun sekarang pikiran itu berubah menjadi sebuah bisikan tipis yang ditujukan kepada anak yang berada dibalik kaca. 'Betapa menyedihkan anak ini'.

Dia lalu memperhatikan matanya. Mata itu terlihat sayu dengan kelopak menghitam yang menutupi hampir sebagian matanya. Dibawahnya bola berwarna coklat terlihat jernih diatas bagian putih yang memerah karena urat mata yang menonjol. Lama ia menatap bulatan tersebut. Ia tidak menangkap kesan apa-apa akan tetapi dia terus menatap tanpa berkedip.

'Kemana aku akan pergi?' kembali pertanyaan itu terus mengingatkan dirinya atas perjalanan nya. Dia sadar jika perjalanan nya yang sudah menginjak tahun kesepuluh, tidak menemukan apa pun yang selama ini mengganggu pikirannya. Lalu untuk sejenak dia terdiam. Kembali memperhatikan matanya namun kali ini mata itu disipitkan dengan alis dibuat membentuk garis diagonal yang hampir beradu ditengah-tengah.

'Aku akan pergi kemana?!' kali ini dia merasa cemas. Baru kali ini dia merasa secemas ini sehingga dia dapat merasakan tekanan di dada nya. Mulutnya terbuka dan dia merasa jika harapannya telah pupus seiring berjalannya waktu.

'Harapan? apa yang aku harapkan?!' suasana hatinya berganti seketika. Seolah sebuah benturan keras menghantam kepalanya disaat dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan nya sendiri.

Diego memutar kepala. Kembali menatap anak-anak yang masih bermain kelereng dipojokan. Salah satu dari mereka terlihat sedang mengambil ancang-ancang untuk menembakkan kelereng. Arah tembakan tersebut menuju ke tumpukan kelereng yang disusun rapat. Sedangkan anak-anak yang lain terlihat berdiri dibelakang anak yang sedang bersiap-siap; mereka tampak fokus memperhatikan jemari si anak meregang seperti katapult yang siap dilontarkan.

Dia memperhatikan lagi kaca yang masih menampilkan bayangan dirinya. Tas punggung besar dengan penyandang yang sudah robek menggantung di bahunya. Bayangan kaca itu tidak sejelas bayangan sebuah cermin asli namun masih cukup jelas untuk memaparkan penampilannya yang jauh dari kata bersih. Jika saja baju yang dipakainya tidak berwarna hitam, mungkin dia tidak ada bedanya dengan orang-orang yang hidup disekitaran tempat sampah.

Diego sudah pernah bekerja sebagai penyemir sepatu. Mengamati sisi jalan raya memperhatikan jenis orang yang lalu disana. Dia terbiasa duduk di bagian terbawah sebuah tangga karena disanalah orang-orang akan mengangkat kaki dan melihat kotoran di sepatu mereka sendiri.

Dilain waktu ia pernah duduk disebuah emperan yang terletak dekat gedung-gedung tinggi. Tidak hanya dirinya yang berada disana; ada penjual minuman dan makanan. Beberapa kali ia duduk disana, kebanyakan pelanggannya sering menyambilkan antara menghabiskan makan siang dengan membersihkan sepatu mereka.

Disuatu ketika dia tidak tahan untuk bertanya terhadap salah seorang pelanggannya. Pelanggannya tersebut baru saja memesan sebuah burger dan hotdog yang terbungkus dalam kantong kertas. Ketika dia menyemir sepatu, pelanggannya tersebut dengan tergesa mengunyah makan siangnya. Lalu masih dengan mulut penuh, pelanggannya tersebut mengatakan kepadanya untuk menyemir secepat mungkin. Lebih cepat dari makanan yang harus dia habiskan.
"kenapa begitu tergesa tuan?" Diego bertanya tanpa menoleh. Tangan kecilnya terus bergerak memoles sepatu kantor berwarna hitam.
"Waktu adalah segala-galanya. Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu berkata dengan cepat. Menganggap jika setiap kata yang dia keluarkan harus dapat meminimalisir waktu pengucapan. Lalu ia mengeluarkan hotdog setelah menyesap cairan dalam gelas plastik melalui penyedot. Tangan kirinya masih memegang burger yang tersisa satu gigitan.
"Kalau boleh tau, apa pekerjaan tuan? Aku baru sepuluh tahun dan aku tidak begitu kenal dengan waktu." Diego lalu menyentuh pasangan sepatu tersebut. Seperti pesanan pelanggannya, ia menyemir dengan sangat cepat. Bukan berarti dia menyemir dengan asal-asalan; dia selalu mengutamakan hasil pekerjaannya, walaupun untuk kali ini dia tidak dapat memastikan hasil semiran nya.
"Aku pegawai kantoran. Berangkat jam lima pagi agar dapat kereta yang sepi dan pulang hampir larut malam agar aku dapat bonus yang besar. Istilah nya lembur." Pria itu berkata masih dengan mulut terisi yang sesekali harus berhenti mengunyah untuk meneruskan ucapannya.
"Aku tidak mengerti.. aku melihat tuan begitu tergesa-gesa bahkan untuk sekedar membersihkan sepatu dan menghabiskan santapan makan siang." Diego hampir selesai dengan semirannya. Sedangkan pria itu baru menghabiskan setengah dari hotdog berukuran jumbo yang berada digenggamannya.
"Berapa penghasilan mu sebulan? aku bisa mendapatkan penghasilan perbulan mu hanya dengan satu hari bekerja." Seolah tidak peduli --memang tidak peduli; pria itu terus mengunyah makanannya tanpa henti. Rahangnya yang besar namun tidak berbentuk persegi tak henti-hentinya bergerak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan sebesar itu?" Diego memberikan sentuhan terakhir dengan cara menepak sepatu tersebut agar mengkilap. Pria itu masih duduk disana dengan sisa hotdog yang dipaksakan untuk dikunyah.
"Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu tersedak dan ia kembali menyedot minumannya. Gelas plastik tempat minumannya bernaung sekarang sudah kosong dan ia memasukkan sisa hotdog yang masih cukup besar kedalam mulutnya. Pipi pria itu terlihat sesak dan bibirnya secara susah payah terus mencoba untuk mengatup.

Hanya satu tahun Diego bekerja sebagai penyemir sepatu. Dihari terakhir dia menyemir, salah satu pelanggannya --seorang pria paruh baya dengan rambut sebagian memutih, menawarkan ia untuk kembali bersekolah. Pria tua itu berjanji akan membiayai keperluan dan kelengkapan sekolahnya, lalu Diego dengan segera mengiyakan tawaran itu. Keinginannya untuk bersekolah sangat besar; walau sekarang dia sadar bahwa yang diinginkannya adalah untuk belajar bukan untuk pergi ke sekolah.
"Dimana kau tinggal?" pria tua itu berujar dibalik koran besar yang ia bentangkan. Sepatu yang melindungi kakinya sekarang sedang dibersihkan Diego. Dia tidak tergesa-gesa sehingga tidak meminta anak tersebut untuk melakukan pekerjaannya dengan terburu-buru.
Sadar jika pertanyaannya tidak mendapati tanggapan, pria tua itu lalu melipat korannya lantas menyentuh kepala Diego yang tertunduk dengan ujung jari telunjuknya. Diego lalu tersentak dan ia mengangkat kepalanya untuk memberikan perhatian.
"Dimana kau tinggal?" pria itu mengulangi pertanyaan nya. Kini tatapannya diarahkan kepada anak yang duduk dilantai yang sedang membersihkan sepatunya.
"Dimana saja. Kadang aku menginap di rumah teman ku." Diego kembali mencermati sepatu yang sedang dibersihkannya. Tanpa rasa takut ia menjawab pertanyaan orang asing dengan santai.
"Orang tua mu?" dahi pria tua itu mengernyit.
"Tidak tau." suara nya yang keluar datar bertolak belakang dengan kelincahan tangan nya membersihkan sepatu. Pria tua itu mulai menduga-duga apa yang terjadi dikehidupan Diego. 
"Maksud mu, kau belum pernah berjumpa orang tua mu?" pria tua itu menetaskan telur yang berisi rasa penasaran. Entah apa yang terlintas dipikiran nya, dia langsung bertanya seperti itu. Mungkin dia telah sering berbincang-bincang dengan anak-anak yang mencari penghidupan di pinggir jalan.
"Tentu saja pernah." Diego tampak tidak menikmati pertanyaan yang diajukan pria tua itu. Gaya dia berkata seolah-olah dia bukan bocah sepuluh tahun. Kata yang dia keluarkan terkesan tegas dan diucapkan oleh orang yang sudah memiliki arah tujuan.
Pria tua itu tidak meneruskan pertanyaan nya. Dia seolah-olah mengerti dengan apa yang telah dialami bocah yang sedang membersihkan sepatunya ini; memang begitu lah seharusnya, pria itu adalah pria tua. Dia telah melewati banyak perjalanan dan melihat dunia jauh lebih lama dari Diego.

Menyadari jika pria tua itu tidak bersuara lagi, Diego menolehkan wajah sekali lagi. Pria tua itu terlihat mendekap tangan dengan perhatian ke arah tangannya yang masih terus bergerak. Hanya sekilas, Diego menunduk lagi.
"Aku belum pernah berjumpa dengan orang tua asli ku." Diego memecah keheningan.
"Aku dibesarkan orang lain yang selama ini aku anggap orang tua." tangannya membentuk gestur yang berkesan 'aku tidak peduli'.
Pria tua itu masih diam. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Diego, untuk kali ketiga, menolehkan wajah nya dan yang dia dapati adalah posisi pria tua itu yang masih sama. Ia lalu menjauhkan tangannya dari sepatu pria tua itu serta mendorong tubuhnya untuk duduk tegak dikursi kecil yang menopangnya.
"Aku kira bapak ingin tau tentang orang tua ku?" Diego kembali membentuk gestur yang sama. Alisnya ia angkat sehingga bola matanya jernih terlihat jelas.
"Aku masih mendengarkan.." balas pria tua itu.
"Aku menemukan dokumen kelahiran ku dan mendapati foto orang tua yang berada disana berbeda dengan wujud nyata nya." Diego melanjutkan pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi.
"Aku sering menanyakan kenapa aku memiliki wajah serta kulit berbeda dengan kakak ku. Mereka semua tidak pernah benar-benar menjawab dan hanya menganggap jika pertanyaan ku itu lelucon..." Diego berhenti lagi lalu ia menggelengkan kepala seolah tak percaya.
"Hingga suatu ketika, seekor tikus menuntun ku ke dalam kamar orang tua ku, lalu aku menemukan dokumen itu dalam tumpukan karton yang berisi banyak kertas." Kepala nya melemah dan tundukannya begitu tak bertenaga.
"Berapa  

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 

on going...
Wednesday, July 22, 2015

Curhat temen


R: "bro, ane mau curhat nih.."

T: "curhat apa bro? tumben bener..."

R: "gini, lu tau kan sama karyawan baru tetangga gue?"

T: "gak tau.. cowok ya? cakep?"

R: "cewek e e k.."

T: "oh.. trus?"

R: "gini.. gue curiga kalau itu cewek suka sama gue."

T: *hening*

R: "gue kan udah punya cewek.."

T: *masih hening*

R: "gue galau bro.."

T: *mati*

R: "dia cantik bro.. cantikan dari cewek gue yang sekarang.. gue juga suka sih sama dia tapi gue kan udah ada cewek. gue pacarin keduanya gue takut ketauan.."

T: "ya udah pilih satu." *poker face*

R: "gue pusing mau pilih yang mana.. gue gak tega mutusin cewek gue yang sekarang.. gue udah terlanjur sayang. buat nolak cewek tetangga gue juga gak kuat bro.."

T: "eh bentar... lu tau cewek itu suka sama lu gimana?"

R: "kemaren temen cewek tetangga yang tinggal di paling ujung jalan mintain no hp gue.. katanya cewek tetangga yang ini yang minta.. trus kemarin itu cewek main kerumah gue trus dia bahas-bahas nikah sambil ngangkat satu alis pas liat kearah gue.."

T: *tuhan... cobaan macam apa ini*

R:  "kemaren dia menelpon gue.. gak diangkat ntar dia kecewa.. diangkat, gue takut keterusan trus ntar kalo gue lagi jalan sama cewek gue dia kebetulan nelpon, cewek gue bisa curiga..

T: "lu pengen nya apaan sih?" *siap-siap pengen nampol*

R: "Gue pengen macarin dua dua nya.."

T: *lemes* *gregetan* *diem dipojokan*

R: "eh bro.. kok jadi diem.. bantuin gue."

T: "yang pengen selingkuh siapa yang pusing siapa.. gue gak tau."

R: "sama temen gitu amat lu." *ngambek*

T: "lu maunya solusi yang gimana?"

R: "gue maunya tetep kontak kontakan sama cewek tetangga tanpa cewek gue marah.. gue seneng, cewek tetangga seneng, cewek gue juga seneng.."

T: "mending lu tidur.. mimpi sono."

R: "trus gue harus gimana dong? itu cewek gangguin gue terus.."

T: "yah lu tinggal bilang kalo lu udah punya cewek.. jangan ganggu. gampang beudh bro.." *masih dipojokan*

R: "ntar dia sakit hati dong.. ntar dia gak mau ngobrol lagi dong sama gue? gue kan juga suka sama dia.."

T: *diam*

R: "bro.. lu tau kan gue gak pernah dikejar-kejar cewek.. udah dua puluh satu tahun gue hidup, baru kali ini gue dikejar cewek.. udah lah baik, cantik lagi.. gue gak bisa nolak tapi sayangnya gue udah punya cewek.. gue pusing."

T: *numb* "eh gimana tadi? yang diawal coba diulang..."

R: "gue belum pernah dikejar cewek.. ini baru pertama kali ada cewek yang suka gue.."

T: "FAK!!" *ngakak* *kejang* "ngenes eek hidup lu bro.." :))))) *lalu ketawa gak berenti-berenti*

R: "jangan diketawain ah.. kasih gue solusi.."

T: "oke.. kalo lu pengen setia, lu harus ngomong sama cewek tetangga. jangan kasih dia harapan. makin lama lu biarin, dianya ntar makin sakit. Kalo lu suka sama cewek tetangga ya lu harus putusin dong cewek lu yang sekarang.. Cewek itu butuh kejelasan bro.. pilihan ditangan elu.."

R: "atau gue kasih aja nomor lu sama cewek tetangga gimana? biar elu yang dia godain."

T: "ogah! awas aja kalo lu kasih."

R: "kenapa sih dia datang disaat gue udah punya cewek?"

T: "mana gue tau.. mungkin ya mungkin,, jika elu beneran sayang sama cewek lu yang sekarang, itu cobaan. 'lu setia gak?' tapi kalo seandainya hati lu lebih milih cewek tetangga, itu mungkin jalan lain supaya elu gak pacaran kelamaan sama cewek lu yang sekarang.. Ntar kalo lu udah pacaran 6 atau 7 tahun dan ternyata cewek lu yang sekarang bukan jodoh lu, itu bakal bikin dia lebih nyesek ketika putus. Mending lu kasih penjelasan jelas-jelas.. dengerin kata hati lu deh."

R: "sok bijak ah lu.."

T: *cobaan apa lagi ini tuhan* *nangis*

R: "lu ngapain nangis? gue yang pusing elu yang nangis.."

T: "MENURUT LO?" *guling guling*

Btw temen gue ini cancer.. no doubt :))))

Saturday, July 18, 2015

Bangku Taman

"Jika kau mati, aku akan tertawa. Sangat keras. Aku akan mengadakan pesta dan merayakan dengan semua orang yang mengenal mu. Tidak satupun diantara kami yang akan menangis." Hens berkata tiba-tiba. Mereka baru saja sampai ke tempat ini setelah mengikuti tur sejarah yang diadakan oleh suatu pemandu wisata. Tur tersebut membahas bagaimana orang-orang dahulu dari berbagai zaman, berbagai agama, melakukan eksekusi dan proses penguburan.

"Itu bagus! Sama persis dengan keinginan ku. Bagaimana kau bisa tau?" Kiev mengernyitkan wajah untuk melawan panas.

"oh tentu, aku tidak sadar jika kita telah saling mengenal cukup lama." mata Kiev berbinar menatap Hens yang tengah duduk di bangku panjang yang tidak memiliki sandaran.

"Itu ejekan dasar idiot!" Hens kehilangan minat setelah gagal membuat pria itu kehilangan selera. Hari ini cuaca memang sangat panas dan mereka sekarang sedang berteduh di bawah pohon yang memang difungsikan sebagai peneduh kursi taman. Pohon-pohon rindang berbatang besar berjejer sepanjang kursi dan hanya dipisah oleh jalan kecil. Bangku-bangku panjang itu dicat warna warni mengikuti urutan warna pelangi. Dan sekarang mereka duduk di kursi berwarna hijau.

"Tidak, aku serius! Pernah kah kau memikirkan tentang kematian?" tanya Kiev.

"Kematian hanya gerbang penentu kemana kau akan dibawa. Neraka atau surga. Tidak ada pilihan lain." Hens menyahut pertanyaan tersebut dengan enteng. Dipanggilnya pak tua yang duduk di depan pagar pembatas lalu dia menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral dingin ukuran sedang. Lapak pak tua itu terlindungi oleh payung yang mengambang di atas kepala nya. Pegangan payung tersebut diikatkan pada pagar pembatas dengan tali plastik berwarna merah. Ikatannya tampak kacau namun terlihat cukup kuat untuk menopang berat payung.

"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa 'kematian' itu hanya ilusi?" Kiev melakukan hal yang sama, tetapi dia menukar dengan segelas kopi hitam. Di bawah payung nya, pak tua itu lalu mengangkat termos yang sudah tampak buruk keluar dari keranjang. Setelah itu gelas plastik berukuran kecil menyusul. Di sebelah keranjang pak tua itu ada fiber kecil sebagai penyimpan minuman botol agar tetap dingin. Dan semuanya masih terlindung dibawah payung berwarna dengan pola melingkar serupa urutan warna bangku-bangku taman.

"Ilusi bagaimana?" Hens membuka tutup botol, lalu membiarkan air dalam botol tersebut mengalir melalui tenggorokannya. Butiran air yang menempel didahinya perlahan mulai terasa sejuk dihembus angin. Tiap bagian tubuhnya yang dari tadi terasa terbakar dan mengering, kini tidak lagi.

"Ketika kau mati, orang-orang tidak menangis karena kehilangan mu. Mereka menangisi kenangan tentang mu." Kiev menyambut gelas berisi kopi hitam yang sudah jadi. Badan gelas tersebut masih terasa panas, dan dia menopang bagian kepala gelas yang tak tersentuh oleh air. "Terima kasih." Kiev menyimpulkan senyum lalu pak tua itu kembali kebawah payungnya setelah berjalan beberapa langkah. Kiev lalu melanjutkan penjelasan nya.

"Dan dalam beberapa hari setelah kau pergi, orang-orang akan melupakan bahwa kau pernah berjalan di bumi ini. Namun bagi orang-orang terdekat, kenangan itu akan terus melekat dan akan selalu menjadi pengingat..." Kiev menahan perkataannya dan memperhatikan Hens dengan cermat. Begitu pula dengan Hens, dia mengangkat satu alis memaksa Kiev untuk terus melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.

"Kau paham maksud ku?" tanya Kiev. Sebelah tangannya menopang gelas kopi dan sebelah lagi bergerak memunculkan bagian telapak tangan. Pinggulnya bergeser dan badannya dicondongkan menghadap ke arah Hens. Satu dengan semangat dan satu penuh penasaran. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Hens lantas membuka mulutnya membentuk huruf 'O'.

"Sedikit... Sekarang aku mulai bertanya 'Lalu untuk apa kita hidup?' tunggu.. 'mengapa kita hidup?'" Hens masih menatap Kiev dengan satu alis terangkat. Ada satu perasaan gantung yang kini menghinggapi kepala nya. Perlahan perasaan itu  menjalar keseluruh tubuhnya, lalu berdiam di dadanya untuk menimbulkan tekanan. Alisnya semakin tinggi terangkat seiring semakin menggantungnya pertanyaan yang dia lontarkan.

"Kehidupan ini sudah turun temurun dari beberapa generasi. Dimulai dari adam... Kau tau sudah berapa banyak kematian yang terjadi? Lalu apakah dunia orang-orang yang mengalami atau merasa kehilangan terhenti?" Kiev meniup permukaan gelas beberapa kali, lantas mengarahkan kopi yang sekarang sudah tidak cukup panas untuk beradu dengan ujung lidahnya. Bunyi kopi yang disruput pelan menandakan jika dia sedang menunggu jawaban dari Hens.

"Dunia ini terus berlanjut, memang... Tapi ada beberapa orang yang diingat karena apa yang mereka lakukan, dan yah.. seperti yang kau bilang, orang-orang tidak menangisi kepergian mereka.. Orang-orang merayakan kelahiran mereka. Bersyukur jika mereka pernah terlahir ke bumi." Hens mengangguk pelan dan tatapannya diarahkan ke balik pak tua penjual minuman, ke genangan air yang luas dibalik pagar pembatas. Air tersebut mengalir sejauh mata memandang. Namun karena permukaannya yang tenang, genangan air yang luas itu terlihat seperti danau jika dilihat dari jarak tempat mereka menghindari panas.

"Itu poin nya! Kelahiran dan apa yang kita lakukan. Dua hal yang harus kita cari tahu. Kenapa kita dilahirkan dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Kematian? sebagaimana maknanya, kematian adalah akhir dari perjalanan."

Untuk sesaat mereka saling terdiam. Kepala mereka memunculkan pertanyaan yang mungkin mencoba mencerna panas. Udara yang dihembuskan pohon masih terasa sejuk walakin tidak lagi senikmat saat pertama mereka mulai berteduh. Panas yang semakin terik sekarang memantul menerpa mereka melalui permukaan jalanan. Namun masih terasa cukup menyegarkan untuk membuat bola pikiran meliuk-liuk menelusuri labirin.

"Jadi kau sudah mendapatkan jawaban mu?" Hens balik bertanya. Dia kemudian menuangkan kembali air botol di genggamannya yang tersisa setengah kedalam mulutnya. Tanpa terputus, isi botol tersebut sekarang berganti dengan udara. Hens kemudian meremas botol tersebut dan melempar ke arah tong sampah berwarna kuning. Suara denting antara botol yang masuk tidak sempurna ke dalam wadah sampah seolah mempertegas keraguan dalam pertanyaan Hens.

"Entahlah.. tapi menurutku disaat kau menemukan jawaban mu, disaat itu lah kematian menjemput mu." Kiev menghela nafas pendek. Lagi, kopinya dia minum. Kopi tersebut masih terlihat berisi air hitam pekat beserta ampas yang sudah terlihat jelas. Namun Kiev terlihat sudah bosan. Lalu dia berjalan ke arah tempat sampah dan memasukkan gelas tersebut ke wadah yang sama dengan lemparan Hens. Setelah itu dia berjalan ke arah pak tua dan menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral. Dia sadar jika memilih kopi hitam, disaat kelelahan, dan hari yang panas, adalah pilihan yang konyol.

"Dengan fakta bahwa aku masih bisa bernafas dan minum kopi di tepi sungai bersama orang paling menjijikan di dunia, aku rasa aku belum menemukan jawaban ku." Kiev melanjutkan setelah kembali ke tempat duduk sebagaimana posisi nya sebelumnya. Yang membedakan hanyalah jenis minuman yang digenggamannya.

"satu pertanyaan lagi.. apa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" Hens memandang Kiev penuh dengan penantian.

"Jika dikatakan 'iya', sejujurnya aku tidak tau.. Jika dikatan 'tidak', aku tidak bisa bilang begitu. Aku hanya memandu diriku dengan apa yang pikiran pertama ku ingin melakukan. Seperti, ketika saat ini tiba-tiba pikiran ku memberikan perintah untuk beranjak, aku akan segera beranjak. Aku tidak ingin menunda-nunda apa pun. Karena menurut ku, apa yang pikiran pertama ku katakan, itu adalah pemberitahuan dari sang pencipta. Itu seperti sinyal, alarm, atau alert system yang sudah tertanam didalam setiap diri manusia. Yang perlu kau lakukan adalah mendengarkan." Kiev berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Lalu dia membuka tutup botol dan menelan cairan didalam nya.

"Sekarang aku tau kenapa kau begitu terlihat impulsif." Hens berdecak dan ujung bibir nya terangkat. Disekitar matanya terbentuk kerutan seiring senyuman itu. Kiev membalas tersenyum dan melanjutkan perkataannya.

"Tapi ada kalanya aku membatasi diri. Jika yang hendak aku lakukan mengusik kehidupan orang lain secara langsung, aku selalu mengatakan tidak pada diri ku sendiri. Yah.. semacam itu lah."

Hens menguap lebar setelah beberapa saat mereka berhenti sejenak untuk menikmati keheningan yang hinggap secara tiba-tiba.

"Aku masih ingin berpesta setelah kematian mu, kau tau. Bahkan dengan tambahan party sex akan membuat ku semakin bersemangat. Aku juga akan menuangkan Romanee Conti di atas batu nisan mu agar kau menyesal telah mati, idiot."

"Lakukan saja sesuka mu." Kiev tertawa lalu berdiri dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan kearah taman yang membelakangi sungai. Hens mengikuti dari belakang setelah membeli satu botol air mineral lagi dari pak tua yang masih duduk menyandar di pagar pembatas.
Friday, July 10, 2015

Eager of the Winds (2)

Aroma pantai yang lengket dan asin menyeringai dibawa hembusan angin. Udara yang mulai memipih menembus celah tiap-tiap yang berpori dalam kecepatan yang mampu membuat pohon kelapa bernyanyi. Bola yang merupakan sumber cahaya kemilau yang menghiasi batas cakrawala kini telah tiada dan hanya menyisakan sisa-sisa warna yang terus memudar disetiap detik nya. Begitulah sensasi yang dikecap Jack dan Houlier saat ini. Terutama Houlier, dia tampak melipat erat kedua tangannya dengan leher yang dibenamkan.

Wanita penuh lemak serta kerutan yang jelas disekitar garis hidungnya sekarang sudah berada disisi meja mereka. Cangkir-cangkir yang terbuat dari tanah liat lalu diturunkan wanita tersebut.
"Macchiato dan Espresso tuan." suara datar yang tertahan keluar, serentak dengan tangan berat si wanita meletakkan cangkir-cangkir tersebut. Tidak ada garis semu yang  mengambang terpancar diwajah itu untuk sekedar beramah tamah.
"Terima kasih nyonya Mundi. Bagaimana hari ini?" Houlier menggeser cangkir yang berisi Espresso Macchiato ke arah Jack.
"Sama saja tuan. Tidak ada yang berbeda selain panggung-panggung yang sudah hampir selesai diujung sana." nyonya Mundi menelengkan kepala dengan bibir dimajukan. Bibir tebal yang penuh tersebut membentuk seperti bunga kecubung. 
"Tidak, maksudku, bagaimana cafe hari ini? Apa seperti kemaren?" Houlier menggeser gula serbuk yang ada disebelah gelas. Dia memang lebih menyukai espresso tanpa tambahan apa pun. Rasa pahit dari aroma kopi sesungguhnya adalah kesenangan baginya.
"Ya, hanya beberapa orang yang datang dan kebanyakan turis --seperti biasanya." nyonya Mundi mendekap baki yang sedari tadi dibiarkannya menggantung diujung tangannya. Bentuk tangan yang berlipat-lipat tersebut bisa dibilang mirip dengan kaki gajah saat ditekuk.
 "Yah mungkin kita harus mengadakan promosi. Nanti akan aku pikirkan nyonya Mundi." Houlier mengembangkan sedikit senyum tipis. Hanya bibir tersimpul yang ada disana tanpa gigi-gigi yang muncul. Dan itu juga merupakan sebentuk isyarat untuk nyonya Mundi jika obrolan mereka telah usai. Lalu nyonya Mundi pergi berlalu ke dalam cafe dan seketika lampu cafe menyala terang menggantikan sinar matahari yang telah hilang.
Bulan yang malu-malu telah tampak merona setelah kepergian matahari. Kilaunya yang lembut memancar seiring hempasan ombak yang sekarang telah sampai ke bibir pantai. Burung-burung yang terbang beriringan mengeluarkan suara berisik yang merdu. Mungkin dentingan piano schumann cocok digambarkan dengan suara burung-burung yang berisik ini.
"Apakah dia benar-benar akan datang hari ini?" Houlier menatap jam ditangan nya. Jarum-jarum pada jam yang terbuat dari kayu juniper yang dipesan khusus pada pengrajin kayu ternama Valerii Danevych, serta kulit pada bagian pengikat nya itu sekarang telah menunjuk pada angka tujuh dan tiga. Ukiran-ukiran pada jam tersebut tampak sangat mengesankan.
"Bersabarlah.. Nyura selalu tepat janji." Jack mengangkat cangkir macchiato nya. Susu yang mengapung diatas  cairan hitam pekat espresso tersebut sekarang tidak lagi berbentuk. Sebagian telah masuk kedalam mulut nya.
"Yah selalu tepat janji.." Houlier mendesah.
"Maksud mu?" Jack menelengkan kepala. Cangkir macchiato nya diletakkan dengan agak kasar sehingga menimbulkan bunyi dentingan yang tersedak.
"Kau tidak ingat saat dia menyuruh mu menunggu.. maksud ku, cincin itu.. ayo lah." Houlier menatap Jack lekat-lekat. Seolah-olah ingin menyampaikan 'Hei, berhentilah terlalu berharap'.
"Yah, mungkin ini lah waktu nya. akhir penantian.." Badan Jack bergoyang terkekeh. Kepalanya tertunduk. Jack sadar jika dirinya terlalu lemah terhadap wanita itu. Nyura. Ya, wanita yang memiliki warna bola mata yang sama dengan nya.
"Bisa kah kau memberi ku sedikit kata-kata positif? Maksudku, kau tau, dia lah yang membuat ku luluh." Jack mengeluarkan kata-kata puitis nya. Membuat Houlier hampir tersedak karena menahan gelak tawa.
"Ok.. baik lah aku menemani mu." kata Houlier sembari meluruskan posisi duduknya. "Dan jangan pernah memohon seperti itu lagi di depan ku. itu menggelikan." Houiler mengalihkan tatapan nya kearah sinar bulan. Sekarang dirasakannya kaki nya telah cukup penat karena terlalu lama duduk menunggu. Tidak seperti yang dirasakannya ketika sedang sibuk menatap kertas-kertas kusam penuh coretan seperti yang biasa dilakukannya.
Dari kejauhan searah dengan tempat panggung-panggung berdiri tampak seorang wanita berjalan menenteng koper besar. Syal berenda berwarna coklat melingkari lehernya. Baju dalaman putih yang dikenakannya tampak ketat dibungkus jacket jeans yang kancingnya dibiarkan terbuka. Celana jeans biru langit yang menggantung ketat setinggi betis membuat penampilan wanita tersebut tampak trendi. Dikakinya sepatu boots berwarna coklat menapaki tanah dengan langkah yang lebar. Wanita tersebut adalah Nyura. Kekasih Jack.
"Lihat.." Jack bergumam. Kepalanya digoyangkan ke arah wanita tersebut.
"Yah akhir penantian.." Houlier kembali menelan cairan hitam pekat yang ada didekatnya.
***
"Aku tidak punya alasan untuk ini.." Nyura menempelkan pipi nya pada Jack dan Houlier secara bergilir. Rambut panjang nya yang diikat membentuk kuncir kuda bergoyang-goyang seiring pergerakan kepala nya.
"Yah.. seharusnya kau memberi alasan yang cukup kuat. Kalau bukan karena desakan Jack aku tak akan sudi menunggu. Terus terang saja." Timpal Houlier memalingkan tatapannya ke arah lampu-lampu besar yang berjejer di sepanjang pagar pembatas pantai.
Tanpa ada pemberitahuan apa-apa, Nyura sekarang sudah berada dihadapan Houlier dengan kedua kaki ditekuk. Lutut-lutut nya bersentuhan dengan lantai papan yang tebal. Kepala nya ditundukan dan tangannya didekapkan sejajar dengan kepala tersebut.
"Maafkan aku Ayah. Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud melukai perasaan mu." Nyura mengatakan permohonan itu lamat-lamat dengan suara yang dibuat terisak-isak.
"Aku tidak tau lagi harus berbuat apa putri ku. Jika itu pilihan mu..." Houlier menggemgam tangan Nyura dengan sebelah tangannya. Tangannya yang satu lagi disembunyikan di belakang punggung nya. Kalau saja itu pertunjukan opera, orang-orang pasti akan terkesima dengan akting yang ditampilkan mereka.
 "Oh tuhan.. jangan mulai lagi.." Jack mengeram dengan tangan yang dilemparkan menggantung setinggi dada lantas berjalan pelan kearah pagar yang membatasi cafe tersebut. Tidak sampai sepuluh langkah, Jack sekarang sudah berada di sisi pagar lalu menopangkan tangan nya pada balok penyusun pagar tersebut... tbc