Kura-kura
muda itu telah mempersiapkan segala perlengkapannya. Telah lama ia berlatih
secara sembunyi-sembunyi. Ditiap malam, disaat semua terlelap dan tak ada lagi yang
peduli karena kelelahan. Dia telah berlatih cara bagaimana untuk hidup tanpa
tempurung yang menyelubunginya. Hasratnya adalah untuk berlari menembus hutan
dengan cepat dan melihat keindahan dunia dengan kedua matanya.
Dia telah memutuskan untuk berangkat malam ini secara
diam-diam agar keluarganya tidak menghentikan keputusannya. Dia telah sering
menyampaikan kepada keluarganya perihal keinginannya ini namun keluarga nya
sering menganggap ia mengada-ada. Terutama saudara nya yang mengira bahwa dia
sudah gila.
Alasannya adalah karena keluarga nya sangat takut dengan
rubah, walau para rubah selalu berlaku baik kepada mereka. Dia sering
diingatkan oleh ibu nya bahwa para rubah hanya berpura-pura. Mereka selalu
berhasrat ingin mencicip daging kura-kura, begitulah yang sering disampaikan
ibu nya.
Namun ia tidak percaya. Yang ia ketahui adalah dia
memiliki teman rubah yang sangat baik kepadanya. Ia sering diceritakan rubah tentang hal-hal
baru ketika rubah pulang berkelana dari dalam hutan belantara. Teman terbaik
yang pernah aku punya, pikirnya.
Awal keinginannya muncul ketika rubah menceritakan
warna-warni dunia kepadanya. Pikiran liarnya membayangkan tiap gambar yang
disampaikan rubah dalam bentuk kata-kata. Dan tidak hanya itu saja, rubah
selalu menceritakan dirinya akan predator yang selalu mengintai setiap
perjalanan. Namun rubah berjanji akan mengajarinya bagaimana cara membaca
pertanda dan menyembunyikan diri ketika predator datang jika ia ingin berkelana.
Ia telah membuat keputusan. Ia menghampiri rubah yang
menunggu di dekat pohon besar. Dia masih memakai tempurung dan memutuskan untuk
keluar dari sana di hadapan rubah. Dia ingin rubah melihat betapa besar
keinginannya sehingga rela meninggalkan tempat teraman nya.
Kura-kura itu sekarang telanjang. Lepas dari sesuatu yang
selalu mengamankan dirinya. Baik itu tempurung maupun keluarganya.
Rubah tak bergeming menatap kura-kura. Baru kali ini ia
melihat tubuh kura-kura dan sepertinya ia menikmatinya. Lalu dengan segera rubah
mengajak kura-kura untuk segera berlari ke dalam hutan. Tak seperti yang dibayangkannya,
kura-kura ternyata mampu mengimbangi lari nya.
Berhari-hari mereka berlari dan tidak ada sesuatu yang
mengganggu terjadi. Seperti yang diceritakan rubah, Kura-kura melihat sisi-sisi
terindah yang disembunyikan hutan yang belum pernah sama sekali dilihatnya. Dia
merasa begitu berbeda mengetahui hal-hal baru yang selama ini hanya bisa
dibayangkannya saja.
Namun suatu hari, ketika mereka sedang
beristirahat di tepi sungai, rubah secara mendadak menancapkan kuku nya ke
tubuh kura-kura yang sedang berbaring. Air liur Rubah menetes sehingga
kura-kura menjadi sangat gemetaran. Rubah mengatakan bahwa ia telah
merencanakan semua ini dan sengaja mengajak kura-kura untuk terus berlari agar
otot kura-kura menjadi semakin padat dan dagingnya akan menjadi semakin lezat.
Dalam
ketakutan, kura-kura mencoba melawan. Lehernya yang panjang dan lentur bergerak
mengantarkan mulutnya untuk menggit jemari rubah yang mencengkramnya. Dia
terlepas dan segera pergi jauh untuk menyelamatkan diri. Larinya menjadi sangat
kencang sehingga rubah tak sanggup mengejar lalu kehilangan jejak.
Kura-kura
sudah lupa jalan pulang dan memutuskan untuk terus berkelana. Dia mengingat
pelajaran dari rubah untuk terus membaca pertanda. Dan semakin jauh ia berjalan,
ia berjumpa lebih banyak penduduk hutan, juga semakin banyak yang ia ketahui
akan kebenaran.
