Saat itu tengah malam dan ia melemparkan sebuah batu ke arah jendela. Tepat di tengah, kaca yang menempel disana pecah berderai terpekik. Ia tetap berdiri disana, berkacak pinggang, setelah sang pemilik rumah meracau secara bergantian. Terutama suara pria, yang ia yakin kepala keluarga, Saat ia mendengar pria itu menyumpah serapah dengan bunyi langkah tergesa, ia segera menjangkau sebilah pedang yang ia sandarkan di batang pohon besar berpermukaan kasar. Matanya membelalak menahan getaran tubuhnya. Sebuah senyum yang mengalahkan lengkungan bulan sabit tak ayal menjadi pertanda betapa ia menikmati suasana yang ia buat malam itu. Perlahan, tubuhnya bergidik, dan ia terkekeh menatap pintu yang memunculkan sesosok pria botak bertubuh gempal.
"Bedebah kau sukiman!" pria botak itu menunjuk dari kejauhan. Sebuah golok panjang berayun-ayun ditangan kirinya.
*dalam rangka penerapan 'Show dont tell'.
"Bedebah kau sukiman!" pria botak itu menunjuk dari kejauhan. Sebuah golok panjang berayun-ayun ditangan kirinya.
*dalam rangka penerapan 'Show dont tell'.

0 komentar:
Post a Comment