Saat itu mereka baru saja diusir oleh Mr Hyde karena
Pudge terlihat melamun, jauh menatap bukit yang ditumbuhi pohon pinus. Alaska –yang-entahlah-lebih-baik-baca-sendiri-untuk-mendeskripsikan-karakter-nya-
yang membela Pudge –entah untuk permintaan maaf atau karena memang untuk
menegaskan karakternya- dan karena itu mereka sama-sama diusir mengajak Pudge
pergi ke bukit yang ditatap Pudge sedari tadi. Disana mereka mencari clover.
Clover yang memiliki empat helai daun.
Beberapa saat setelah pencariannya, Alaska menemukan
setangkai clover yang memiliki empat helai daun. Sementara Pudge masih
berdiri terkesima memperhatikan belahan dada Alaska yang menunduk mencari
clover tersebut. Alaska lalu memperlihatkan clover yang ia temukan. Clover yang
memiliki empat helai daun namun dengan helai keempat yang kerdil.
“Walaupun kau
jelas-jelas tidak mengambil peran dalam pencarian ini, otak mesum,” katanya
masam, “Aku sungguh ingin memberi mu daun ini. Tapi nasib baik hanya untuk
orang payah.” Ia menjepit kelopak yang kerdil itu diantara kuku dan jari
jempol, lalu mencabutnya. “Nah,” dia berkata pada si daun semanggi sambil
menjatuhkannya ke tanah “sekarang kau tak lagi berkelainan genetik.”
Satu kutipan
paragraf dari novel John Green – Looking for Alaska. Baru baca beberapa halaman
sih. Efeknya sama kayak baca Alchemist nya Paulo Coelho. Bukan berarti sama
dalam penceritaan lho ya..
Novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama dengan
Pudge (Miles) sebagai tokoh utama. Gaya penceritaan yang santai dengan karakter Pudge yang selow membuat novel ini gak bikin capek buat dibaca.

0 komentar:
Post a Comment