Angka-angka menari-nari di dalam kepala Houlier. Matanya dengan cermat meniti barisan angka-angka yang tersusun bak akor-akor yang siap digubah. Pikirannya liar tidak seperti biasanya. Di hadapannya tercecer beberapa lembar kertas-kertas putih panjang yang telah menghitam oleh tinta yang membentuk teorema-teorema serta coretan percobaan kalkulasinya; juga teori-teori relativitas khusus serta umum Einsten dan galvitron tertulis di tumpukan kertas bagian atas. Dan ini sudah hari ke 43 sejak hari pertama dia memulai melakukan uji silang terhadap teori gravitasi Newton.
Jack mengulurkan tangan. Telapak tangan besar khas tangan pelaut menggantung tepat dihadapan wajah Houlier. Dan Jack bukanlah seorang pelaut. Jack adalah seorang sastrawan --walaupun dia sendiri tidak pernah mengakui jika dia seorang sastrawan, karya nya yang berupa cerpen-cerpen singkat dan puisi banyak dibahas media-media ternama. Telapak tangan besarnya dia dapat dari warisan kedua orang tuanya yang berdarah gipsi.
Houlier diam mematung. Tak ada ekspresi apapun yang terpancar diwajahnya yang sudah penuh dengan kerutan. Bahkan matanya berkedip pun tidak.
Menyaksikan itu Jack berdecak sembari menggoyangkan kepala memberi pertanda untuk segera meraih tangannya yang sudah mulai terasa berat karena hasrat gravitasi yang diburu waktu.
Houlier menyambut tangan Jack yang dengan sigap menarik tubuh Houlier untuk berada dalam posisi tegak. Bukan karena Houlier tidak mampu berdiri sendiri, Jack tau itu, hanya Jack sudah cukup mengerti dengan Houlier. Jack tau jika drama yang terpendam didalam jiwa temannya --hingga menjadi karakter, harus tersalurkan. Jika saja Jack tidak membantu temannya yang terjungkal tersebut untuk berdiri, mereka pasti akan bertengkar. Houlier begitu mau diperbudak jiwanya yang sangat melankolis itu, pikir Jack.
"Kegilaan ini benar-benar membuat mu bergairah pak tua?" Suara keras dan berat menggema dari balik belakang telinga Houlier. Dia hampir terjungkal dari kursi kayu yang sudah mulai goyah karena sering bertumpu dengan dua kaki oleh ulah Houlier. Sekarang kursi tersebut melakukan kebiasaannya lagi dan Houlier benar-benar terjungkal dari kursi yang menjerit muak tersebut.
"Sialan kau Jack! Tidak bisakah kau sekedar menghempaskan lemari tua ku untuk memberi tanda?!" Houlier mengeluarkan nada-nada sumbang yang beraroma busuk dari mulutnya yang kering karena lupa untuk minum. Masih dari posisinya yang terjungkal dan ditutupi oleh tubuh jack yang membungkuk dengan ekspresi mengejek lantas Houlier mencoba meraih wajah mencibir yang menggodanya tersebut. Gerak tangan nya cepat tetapi perpindahan tubuh Jack pun tak kalah cepat. Diiringi tawa yang menggema Jack mengacak-acak kertas-kertas kusam yang sedari tadi dipatut Houlier. Urutannya sekarang sudah tidak benar. Dan itulah tujuan Jack. Dia sangat suka untuk menggoda sahabat gila nya tersebut.
"Kau benar-benar sialan! Aku baru selesai menyusun kertas-kertas tersebut kemaren!" Suara Houlier terdengar sayup-sayup. Diiringi rengekan layaknya anak kecil yang sudah terlalu lelah menangis.
"Baru tiga hari yang lalu kau melakukan ini... oh tuhan! Dasar kau bajingan!" Houlier mengerang. Jack menghentikan ulahnya lalu mengubah posisi arah berdirinya. Dia memutar badan dan sekarang dia berhadapan dengan Houlier yang sekarang terlentang dengan tangan mengambang. Jack menatap rambut temannya yang tergerai kembang membentuk mahkota serupa mahkota penyihir yang terbuat dari kotoran kelelawar yang ditumpuk asal.
Jack mengulurkan tangan. Telapak tangan besar khas tangan pelaut menggantung tepat dihadapan wajah Houlier. Dan Jack bukanlah seorang pelaut. Jack adalah seorang sastrawan --walaupun dia sendiri tidak pernah mengakui jika dia seorang sastrawan, karya nya yang berupa cerpen-cerpen singkat dan puisi banyak dibahas media-media ternama. Telapak tangan besarnya dia dapat dari warisan kedua orang tuanya yang berdarah gipsi.
Houlier diam mematung. Tak ada ekspresi apapun yang terpancar diwajahnya yang sudah penuh dengan kerutan. Bahkan matanya berkedip pun tidak.
"ayolah pak tua! Kadang kau seperti anak-anak!" Houlier menelengkan wajah. Mata yang dihiasi bola kecil berwarna biru bergerak mengikuti arah wajahnya menghianati langit-langit yang sedari tadi ditatap nya. Untuk sejenak Houlier hanya menatap Jack dengan tatapan yang sama dengan saat dia menatap langit-langit yang temaram karena cahaya lampu pijar yang tidak sepenuhnya terang.
Menyaksikan itu Jack berdecak sembari menggoyangkan kepala memberi pertanda untuk segera meraih tangannya yang sudah mulai terasa berat karena hasrat gravitasi yang diburu waktu.
Houlier menyambut tangan Jack yang dengan sigap menarik tubuh Houlier untuk berada dalam posisi tegak. Bukan karena Houlier tidak mampu berdiri sendiri, Jack tau itu, hanya Jack sudah cukup mengerti dengan Houlier. Jack tau jika drama yang terpendam didalam jiwa temannya --hingga menjadi karakter, harus tersalurkan. Jika saja Jack tidak membantu temannya yang terjungkal tersebut untuk berdiri, mereka pasti akan bertengkar. Houlier begitu mau diperbudak jiwanya yang sangat melankolis itu, pikir Jack.
"Bagaimana bisa kau tidak bersuara setiap kali masuk ke kediaman ku?" Houlier merapikan rambut nya.
"Telinga mu mungkin sebaiknya diajak berkunjung ke tempat Miss Gringer. Dia pasti tau solusi nya." Jack berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat disebuah bingkai tua dan mendapati diri nya samar-samar dibalik cermin yang menempel pada bingkai tersebut.
"Dan lampu yang sudah muak itu, sebaiknya kau beri dia kesempatan untuk beristirahat. Saatnya percaya pada generasi baru." tangan-tangan besar Jack menyapu bagian atas bingkai yang diukir gaya tahun 1500-an tersebut.
"Miss Gringer.. Dokter muda cantik yang penuh pesona. Suatu saat kami pasti akan menikah. Dia menunggu ku." Houlier tampak telah selesai memasukkan kertas-kertas yang berserakan ke dalam bilik kecil dibagian bawah dekat kaki meja tempat dia biasa merenung.
"Menunggu kata mu?! Hei! Kau sudah kepala tiga! Seharusnya kau nikahi dia sekarang jika kau memang tertarik kepadanya!" Jack terkesan tidak senang mendengar pernyataan temannya tersebut. Tangan nya masih dengan hati-hati membersihkan debu-debu yang sudah mulai mengeras. Kali ini dua jarinya dililit oleh kain yang dia dapati tertumpuk disebuah kursi disebelah nya.
"Bisa kita keluar sekarang? Aku sudah selesai." Houlier menghampiri Jack dengan gontai. Kakinya terayun dengan lembut namun terdengar pasti disetiap pijakannya.Jack berhenti melakukan usahanya untuk menyelamatkan cermin tua antik nan cantik dari sepasukan debu lalu berpaling dan menatap Houlier yang berjalan menghampirinya. Dia mengamati Houlier dengan seksama yang memakai celana katun warna merah yang dilipat, polo hitam dengan kancing yang tidak terpasang, serta sepatu kets putih yang sudah memudar. Jack lalu mengamati rambut yang kata Houlier sudah dirapikannya, tetapii Jack mendapati rambut tersebut mirip kumpulan liur burung walet yang sudah mengeras membentuk sarang. Jack mendesah pelan lalu tanpa sepatah kata mereka keluar dari sarang Houlier yang merupakan neraka bagi Jack.
***
"Untuk memeluk sesuatu yang besar memang sudah seharusnya secara perlahan-lahan." Houlier berbicara lalu begitu saja. Pandangan nya lurus menatap kemilau cahaya keemasan yang dibalut garis-garis kemerahan yang mengambang dihadapannya. Tangan kanannya berpangku pada meja putih yang terbuat dari besi yang sepertinya sangat terawat. Tidak ada bekas-bekas karatan di kaki meja tersebut. Houlier selalu mengecek setiap tempat yang dia singgahi --kecuali benda-benda di rumahnya tentu saja.
"Jika datang dengan tergesa-gesa sesuatu yang kecil akan hancur tak berbentuk. Lebih buruk dari kotoran burung yang sedang terbang." Jack menimpali. Rayban hitam menutupi matanya dan menggantung pas pada hidungnya yang mancung dengan gumpalan daging kecil di ujung nya. Kaki nya yang ditumbuhi rambut-rambut kasar yang keriting saling menyilang. Sepatu Crocs tideline kanvas berwarna krem begitu padu dengan celana pendek yang dipakainya dengan warna yang sama. Bagian atas Jack memakai polo berwarna putih.
"Terus bergerak dan membiarkan waktu menyatukan ruang kelihatannya pilihan yang cukup bijak." Houlier menelengkan wajah kearah Jack. "Aku melakukan pengkajian terhadap gravitasi Newton." kata Houlier tiba-tiba.
"Lantas?" Jack melepas Rayban nya. Matanya yang tajam ikut berpaling dari cahaya keemasan yang sudah memudar. Bola mata hitam yang pekat seperti biji lengkeng sekarang menatap Houlier sebelum akhirnya berganti ke arah sosok wanita paruh baya yang menenteng baki dengan ujung-ujung sendok yang mencuat, berjalan kearah mereka.
"Aku sempat terpikir jika saja gaya tidak ada, lalu apa yang menggerakkan benda-benda?"
"Lalu kenapa lalat masih angkuh terbang dari tiap-tiap sampah dan mengira jika sayap merekalah yang menolong mereka?" Jack menimpali lagi dan kembali membuat Houlier tersenyum --senyum yang disembunyikan.Houlier terlalu angkuh untuk memunculkan emosi positif nya terhadap temannya tersebut. Dia tau jika obrolan seperti ini lah yang membuat dia dan Jack menjadi teman sejak pertama kali mereka berjumpa pada sebuah pekan ilmiah. Kala itu mereka sama-sama mahasiswa baru yang tertarik dengan bagaimana bentuk kegiatan yang bersifat ilmiah. Dan Houlier tidak pernah bertanya kepada Jack apakah dia berpikiran sama --tentang alasan mereka berteman, Houlier hanya menerka-nerka di kepala nya saja tanpa pernah menyampaikan... to be continued

0 komentar:
Post a Comment