Cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Entah lah, aku tidak tau bagaimana mengutarakan nya. Kadang aku merasa sangat jijik terhadap kata itu. Seperti kadang-kadang aku teringat sesuatu yang benar-benar membuat perut ku mual. Yah, aku tidak pernah tau kapan pertama kali mengenali dan juga kapan pertama kali aku merasa bahwa aku tau dengan kata itu. Semuanya hanya berjalan begitu saja.
Aku sudah berada di level ketidakacuhan yang paling tinggi yang pernah aku capai.
"Apa alasan mu?! kau bahkan tak pernah cukup peduli pada diri mu sendiri!"
"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak meminta mu untuk bertanya!"
"Itu alasan ku. Kau harus lebih tenang."
.............
"Aku tidak bisa tenang melihat diri mu! Kau penuh keterpura-puraan!"
"Aku?"
"Ya, kamu! Iblis kecil yang sekarang sudah besar!"
"Apa aku masih terlihat seperti iblis?"
"Kau menipu ku dengan muslihat mu!"
"Tenanglah kawan.. Ini aku. Aku yang penuh keterpura-puraan."
"Aha!! Akhirnya kau mengakuinya dasar jahanam! Kenapa kau berpura-pura?!"
"Entahlah.. Aku tidak pernah merasa demikian."
"Aku lelah.. sangat lelah," tubuhnya terkulai "Siapa kau?"
.............
"Aku?"
"Hanya kita berdua disini! Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ku?"
".... Kau..."
"Yah, aku tidak pernah berpura-pura. Ini aku."
"Lalu aku ini siapa?"
"Kau adalah Aku. Lihatlah sekeliling mu."
.......
"Semua ini nyata?"
"Bukan. Kau tidak nyata. Aku lah kenyataan."
"Bagaimana bisa kau mengatakan demikian?" suaranya melunak
"Kau sudah pernah hidup dalam tubuh ku. Aku sudah pernah hidup dalam pikiran mu. Dan sekarang semua telah berlalu."
"Lalu siapa orang-orang ini? Mereka tersenyum pada ku."
"Mereka?"
"Aku tidak sanggup lagi..."
"Mereka adalah aku. Bagian diri ku. Bagian yang selama ini kau anggap keterpura-puraan."
Kau tau teman, aku menyayangkan sikap mu yang rela mati konyol karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang rela mengakhiri diri dengan tangannya sendiri
Kau tau teman, aku menangisi sikap mu yang terpuruk karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang selalu murung di sudut kamar di balik jendela di dekat sorot cahaya
Kau tau teman, aku membenci sikap mu yang selalu terbakar karena cinta. - teruntuk bagian diriku yang menghancurkan meja-meja yang tertata di aula
Kau tau teman... terlalu banyak yang tidak kau ketahui untuk aku ajari.
Aku sudah berada di level ketidakacuhan yang paling tinggi yang pernah aku capai.
Aku tidak acuh pada kata cinta.
Aku tidak acuh pada kata benci.
Aku tidak acuh pada kata peduli.
Aku tidak acuh pada kata mengasihi.
"Apa alasan mu?! kau bahkan tak pernah cukup peduli pada diri mu sendiri!"
"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak meminta mu untuk bertanya!"
"Itu alasan ku. Kau harus lebih tenang."
.............
"Aku tidak bisa tenang melihat diri mu! Kau penuh keterpura-puraan!"
"Aku?"
"Ya, kamu! Iblis kecil yang sekarang sudah besar!"
"Apa aku masih terlihat seperti iblis?"
"Kau menipu ku dengan muslihat mu!"
"Tenanglah kawan.. Ini aku. Aku yang penuh keterpura-puraan."
"Aha!! Akhirnya kau mengakuinya dasar jahanam! Kenapa kau berpura-pura?!"
"Entahlah.. Aku tidak pernah merasa demikian."
"Aku lelah.. sangat lelah," tubuhnya terkulai "Siapa kau?"
.............
"Aku?"
"Hanya kita berdua disini! Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ku?"
".... Kau..."
"Yah, aku tidak pernah berpura-pura. Ini aku."
"Lalu aku ini siapa?"
"Kau adalah Aku. Lihatlah sekeliling mu."
.......
"Semua ini nyata?"
"Bukan. Kau tidak nyata. Aku lah kenyataan."
"Bagaimana bisa kau mengatakan demikian?" suaranya melunak
"Kau sudah pernah hidup dalam tubuh ku. Aku sudah pernah hidup dalam pikiran mu. Dan sekarang semua telah berlalu."
"Lalu siapa orang-orang ini? Mereka tersenyum pada ku."
"Mereka?"
"Aku tidak sanggup lagi..."
"Mereka adalah aku. Bagian diri ku. Bagian yang selama ini kau anggap keterpura-puraan."
Kau tau teman, aku mencintai mu yang mati dalam pangkuan ku karena cinta. - teruntuk bagian diri ku yang telah menjadi masa lalu dalam kedamaian.

0 komentar:
Post a Comment