Aroma pantai yang lengket dan asin menyeringai dibawa hembusan angin. Udara yang mulai memipih menembus celah tiap-tiap yang berpori dalam kecepatan yang mampu membuat pohon kelapa bernyanyi. Bola yang merupakan sumber cahaya kemilau yang menghiasi batas cakrawala kini telah tiada dan hanya menyisakan sisa-sisa warna yang terus memudar disetiap detik nya. Begitulah sensasi yang dikecap Jack dan Houlier saat ini. Terutama Houlier, dia tampak melipat erat kedua tangannya dengan leher yang dibenamkan.
Wanita penuh lemak serta kerutan yang jelas disekitar garis hidungnya sekarang sudah berada disisi meja mereka. Cangkir-cangkir yang terbuat dari tanah liat lalu diturunkan wanita tersebut.
Wanita penuh lemak serta kerutan yang jelas disekitar garis hidungnya sekarang sudah berada disisi meja mereka. Cangkir-cangkir yang terbuat dari tanah liat lalu diturunkan wanita tersebut.
"Macchiato dan Espresso tuan." suara datar yang tertahan keluar, serentak dengan tangan berat si wanita meletakkan cangkir-cangkir tersebut. Tidak ada garis semu yang mengambang terpancar diwajah itu untuk sekedar beramah tamah.
"Terima kasih nyonya Mundi. Bagaimana hari ini?" Houlier menggeser cangkir yang berisi Espresso Macchiato ke arah Jack.
"Sama saja tuan. Tidak ada yang berbeda selain panggung-panggung yang sudah hampir selesai diujung sana." nyonya Mundi menelengkan kepala dengan bibir dimajukan. Bibir tebal yang penuh tersebut membentuk seperti bunga kecubung.
"Tidak, maksudku, bagaimana cafe hari ini? Apa seperti kemaren?" Houlier menggeser gula serbuk yang ada disebelah gelas. Dia memang lebih menyukai espresso tanpa tambahan apa pun. Rasa pahit dari aroma kopi sesungguhnya adalah kesenangan baginya.
"Ya, hanya beberapa orang yang datang dan kebanyakan turis --seperti biasanya." nyonya Mundi mendekap baki yang sedari tadi dibiarkannya menggantung diujung tangannya. Bentuk tangan yang berlipat-lipat tersebut bisa dibilang mirip dengan kaki gajah saat ditekuk.
"Yah mungkin kita harus mengadakan promosi. Nanti akan aku pikirkan nyonya Mundi." Houlier mengembangkan sedikit senyum tipis. Hanya bibir tersimpul yang ada disana tanpa gigi-gigi yang muncul. Dan itu juga merupakan sebentuk isyarat untuk nyonya Mundi jika obrolan mereka telah usai. Lalu nyonya Mundi pergi berlalu ke dalam cafe dan seketika lampu cafe menyala terang menggantikan sinar matahari yang telah hilang.
Bulan yang malu-malu telah tampak merona setelah kepergian matahari. Kilaunya yang lembut memancar seiring hempasan ombak yang sekarang telah sampai ke bibir pantai. Burung-burung yang terbang beriringan mengeluarkan suara berisik yang merdu. Mungkin dentingan piano schumann cocok digambarkan dengan suara burung-burung yang berisik ini.
"Apakah dia benar-benar akan datang hari ini?" Houlier menatap jam ditangan nya. Jarum-jarum pada jam yang terbuat dari kayu juniper yang dipesan khusus pada pengrajin kayu ternama Valerii Danevych, serta kulit pada bagian pengikat nya itu sekarang telah menunjuk pada angka tujuh dan tiga. Ukiran-ukiran pada jam tersebut tampak sangat mengesankan.
"Bersabarlah.. Nyura selalu tepat janji." Jack mengangkat cangkir macchiato nya. Susu yang mengapung diatas cairan hitam pekat espresso tersebut sekarang tidak lagi berbentuk. Sebagian telah masuk kedalam mulut nya.
"Yah selalu tepat janji.." Houlier mendesah.
"Maksud mu?" Jack menelengkan kepala. Cangkir macchiato nya diletakkan dengan agak kasar sehingga menimbulkan bunyi dentingan yang tersedak.
"Kau tidak ingat saat dia menyuruh mu menunggu.. maksud ku, cincin itu.. ayo lah." Houlier menatap Jack lekat-lekat. Seolah-olah ingin menyampaikan 'Hei, berhentilah terlalu berharap'.
"Yah, mungkin ini lah waktu nya. akhir penantian.." Badan Jack bergoyang terkekeh. Kepalanya tertunduk. Jack sadar jika dirinya terlalu lemah terhadap wanita itu. Nyura. Ya, wanita yang memiliki warna bola mata yang sama dengan nya.
"Bisa kah kau memberi ku sedikit kata-kata positif? Maksudku, kau tau, dia lah yang membuat ku luluh." Jack mengeluarkan kata-kata puitis nya. Membuat Houlier hampir tersedak karena menahan gelak tawa.
"Ok.. baik lah aku menemani mu." kata Houlier sembari meluruskan posisi duduknya. "Dan jangan pernah memohon seperti itu lagi di depan ku. itu menggelikan." Houiler mengalihkan tatapan nya kearah sinar bulan. Sekarang dirasakannya kaki nya telah cukup penat karena terlalu lama duduk menunggu. Tidak seperti yang dirasakannya ketika sedang sibuk menatap kertas-kertas kusam penuh coretan seperti yang biasa dilakukannya.
Dari kejauhan searah dengan tempat panggung-panggung berdiri tampak seorang wanita berjalan menenteng koper besar. Syal berenda berwarna coklat melingkari lehernya. Baju dalaman putih yang dikenakannya tampak ketat dibungkus jacket jeans yang kancingnya dibiarkan terbuka. Celana jeans biru langit yang menggantung ketat setinggi betis membuat penampilan wanita tersebut tampak trendi. Dikakinya sepatu boots berwarna coklat menapaki tanah dengan langkah yang lebar. Wanita tersebut adalah Nyura. Kekasih Jack.
"Lihat.." Jack bergumam. Kepalanya digoyangkan ke arah wanita tersebut.
"Yah akhir penantian.." Houlier kembali menelan cairan hitam pekat yang ada didekatnya.
***
"Aku tidak punya alasan untuk ini.." Nyura menempelkan pipi nya pada Jack dan Houlier secara bergilir. Rambut panjang nya yang diikat membentuk kuncir kuda bergoyang-goyang seiring pergerakan kepala nya.
"Yah.. seharusnya kau memberi alasan yang cukup kuat. Kalau bukan karena desakan Jack aku tak akan sudi menunggu. Terus terang saja." Timpal Houlier memalingkan tatapannya ke arah lampu-lampu besar yang berjejer di sepanjang pagar pembatas pantai.Tanpa ada pemberitahuan apa-apa, Nyura sekarang sudah berada dihadapan Houlier dengan kedua kaki ditekuk. Lutut-lutut nya bersentuhan dengan lantai papan yang tebal. Kepala nya ditundukan dan tangannya didekapkan sejajar dengan kepala tersebut.
"Maafkan aku Ayah. Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud melukai perasaan mu." Nyura mengatakan permohonan itu lamat-lamat dengan suara yang dibuat terisak-isak.
"Aku tidak tau lagi harus berbuat apa putri ku. Jika itu pilihan mu..." Houlier menggemgam tangan Nyura dengan sebelah tangannya. Tangannya yang satu lagi disembunyikan di belakang punggung nya. Kalau saja itu pertunjukan opera, orang-orang pasti akan terkesima dengan akting yang ditampilkan mereka.
"Oh tuhan.. jangan mulai lagi.." Jack mengeram dengan tangan yang dilemparkan menggantung setinggi dada lantas berjalan pelan kearah pagar yang membatasi cafe tersebut. Tidak sampai sepuluh langkah, Jack sekarang sudah berada di sisi pagar lalu menopangkan tangan nya pada balok penyusun pagar tersebut... tbc

0 komentar:
Post a Comment