Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Monday, August 17, 2015

Pembentukan karakter: Kejiwaan.

Dalam menulis tidak perlu menyebutkan/menuliskan bagaimana kondisi kejiwaan karakter dalam satu kata kecuali tulisan itu bersifat ilmiah. Lebih baik digambarkan definisi  dari psikis karakter tersebut sehingga pembaca dapat menginterpretasikan sendiri bagaimana kepribadian karakter. Penggambaran dapat dilakukan dengan menyelipkan beberapa kebiasaan kecil ke dalam tulisan atau melalui dialog/hubungan antara ucapan dengan tindakan/ketakutan/atau prasangka dll. Cara terbaik untuk menyelami kejiwaan karakter adalah dengan menjadi karakter itu sendiri. "hidup" dalam pikiran karakter itu sendiri. Iya, kamu akan mengalami sedikit kegilaan, tapi bukan kah lebih baik demikian dari pada menghasilkan karya yang hanya berdasarkan 'kata orang'?

contoh: Karakter A memiliki sifat perfeksionis delusional

## Dia memperhatikan lagi posisi panggung. Arahnya menghadap ke tanah lapang namun ketika ia memposisikan diri di bagian tengah, dengan cermat, ia mendapati jika posisi panggung itu sedikit mengarah ke arah rumah penduduk. Berkali-kali ia memutar kepala antara garis batas panggung dengan pagar pembatas rumah penduduk, ia semakin yakin jika para penata panggung tidak melakukan pekerjaan dengan benar.
"Bukan kah sudah aku bilang jika posisi panggung harus benar-benar menghadap ke tanah lapang?!" ia menghampiri pimpinan EO --yang kira-kira berusia dua puluh lima, yang tengah merakit isi panggung.
"Bukan nya sudah pas, pak?" pemuda itu menghentikan kegiatannya
"Mari sini.." ia menarik tangan pemuda itu dan menggiring nya ke sisi panggung. "Lihat?" ia mendongakkan kepala diikuti pemuda itu.
"Tidak terlalu jelas pak. Hanya bagian tiang panggung." pemuda itu beralasan. Badannya membungkuk menyadari kesalahannya.
"Hanya bagian tiang?" ia bersungut "Bukan kah sudah sering aku bilang, segala sesuatunya harus sesuai seperti yang aku perintahkan?" ia tidak marah namun suaranya ditekan tanpa menoleh ke arah pemuda itu. Seperti kebiasaannya ketika anggotanya melakukan kesalahan, ia langsung saja memecat tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Jika diibaratkan pembunuh, dia merupakan pembunuh berdarah dingin yang sudah sangat terlatih dan ditakuti.
"Iya pak." tubuh pemuda itu semakin membungkuk. Pemuda itu terlihat gamang memikirkan tiang yang bergeser beberapa senti.
"Jika terus begini, bagaimana bisa kita menata panggung untuk artis besar? Bagaimana jika salah satu artis, kelak, melihat bentuk desain panggung kita secara tak sengaja, dan jika seperti ini, apa kau pikir ia akan berhenti dan melihat-lihat?" ia memutar tubuh berkacak pinggang. Pemuda itu hanya diam dengan kepala tertunduk dan punggung yang semakin membungkuk.
"Sekali lagi." ia lalu pergi meninggalkan pemuda itu. Di kejauhan ia melihat seseorang keluar dari sedan putih, dengan tergesa-gesa ia berlari kecil menghampiri.
"Ini akan menjadi acara pernikahan yang meriah, pak." ia menjulurkan tangan menyalami orang itu dengan wajah penuh senyum mengambang.

0 komentar:

Post a Comment