Ingatan itu seperti runtuh satu persatu. Setiap bagian istana yang telah aku bangun hancur diterjang badai. Perlahan namun pasti aku seperti tidak mengingat apa-apa lagi. Siapa aku? Kemana aku? Dimana aku? Hanya tiang-tiang pondasi itu kokoh berdiri menjulang, komposisi yang aku tancapkan dalam dengan sangat hati-hati.
Aku mencoba menggali puing-puing kenangan itu. Namun timbunan yang menumpuk menyuratkan jika aku harus berusaha menggali lebih kuat lagi. Saat aku mencapai batas timbunan itu, aku hanya menemukan tumpukan bagian bangunan yang sudah tak berbentuk. Air mata ku menetes, membasahi sisa bangunan, tempat dimana ketika aku lelah dapat menentramkan hati ku.
Lama aku meratap. Menyaksikan istana indah yang selalu menampungku sekarang hancur menjadi debu. Aku seperti kehilangan sebagian diri ku. Aku merasa jika bagian terdalam diri ku saat itu ikut diporak-porandakan oleh badai. Tiap hari aku mencoba mengingat bagaimana bentuk bangunan itu seutuhnya namun sia sia. Istana itu benar-benar telah direnggut dari ku.
Sempat terpikirkan jika aku lebih baik tidak pernah membangun istana itu. Namun aku tau sesal tak akan pernah mampu memundurkan waktu untuk merubah apa yang telah ditetapkan. Untuk badai agar tidak menyerang istana indah ku. Lagi pula istana itu pernah melindungi ku dari panas dan hujan dan aku sangat berterimakasih untuk masa-masa indah yang lama itu.
Aku masih memandangi puing-puing itu. Memikirkan apa yang salah terhadap rancangan istana ku. Aku telah membangunnya sekian lama dengan sangat teliti. Memberikan setiap warna pada setiap bagiannya sehingga istana itu tampak indah berseri-seri. Tapi aku tak pernah memperhatikan bahan-bahan penyusunnya. Aku terlalu sibuk memikirkan keindahannya. Dan aku tiba-tiba menjadi resah menyangkut hal itu.
Aku mengamati tempat berdiri nya, berani di bibir jurang yang menghadap hamparan lautan. Aku memilih tempat itu karena disanalah aku dapat menikmati kehidupan. Menikmati keindahan laut dari ketinggian. Aku tidak pernah memikirkan jika laut akan menghembuskan angin sekuat itu. Yang selama ini aku tau hanya segala hal tentang keindahan sehingga aku melupakan beberapa kejelekan.
Aku menggali lagi bagian-bagian penyusun istana ku. Aku pandangi dan aku menyadari jika selama ini aku tidak pernah menyentuh dinding-dinding yang hancur itu. Lalu aku menyentuh puing-puing tak berbentuk, berupa sepetak kecil utuh yang masih menyatu, dengan ujung jari ku. Sangat rapuh. Bagian itu hancur seketika.
Aku tersadar jika selama ini yang aku bangun adalah sebuah gubuk yang seolah-olah berbentuk istana. Gubuk dengan tampilan indah yang dinding-dinding nya begitu rapuh. Walaupun begitu aku tidak pernah menyesalinya. Karena sekarang aku menjadi tau jika selama ini tempat ku berpulang hanya sebuah gubuk indah yang begitu rapuh.
Diatas tumpukan bagian-bagian itu aku tertawa dalam tangisan ku, menyadari betapa bodoh dan konyol nya diri ku. Aku menelentangkan tubuh ku diatas kehancuran itu dan kepala ku terkulai menyaksikan pondasi ku yang tak sedikitpun goyah. Aku tertawa lebih keras lagi namun mata ku terus mengeluarkan cairan. Aku merasa sesuatu didalam diri ku baru saja sedang dibangun sesuatu dan itu sangat melegakan.
Setelah berhari-hari aku menghindari angin karena membenci sekarang aku berterimakasih pada nya yang telah memperingatkan ku. Kali ini aku membiarkan ia menerpa wajah ku, terasa lembut dan sangat berarti. Aku juga berterima kasih kepada gubuk yang selama ini melindungi ku karena telah membiarkan aku menikmati keindahannya. Dan aku sangat berterima kasih kepada konspirasi alam yang telah mengajari ku beberapa pelajaran. Itu semua sungguh pengalaman berarti.
Sekarang aku ingin membangun sebuah rumah. Dengan pondasi yang sama dengan pembentuk gubuk ku yang indah. Hanya rumah mungil dengan dinding penuh warna dan jendela kaca yang terbuka. Dan bagian-bagian penyusun nya kali ini harus ku perhatikan dengan seksama. Agar kelak angin yang berhembus dapat menyegarkan ku dan tidak merusak sedikit pun keindahannya.
Aku mencoba menggali puing-puing kenangan itu. Namun timbunan yang menumpuk menyuratkan jika aku harus berusaha menggali lebih kuat lagi. Saat aku mencapai batas timbunan itu, aku hanya menemukan tumpukan bagian bangunan yang sudah tak berbentuk. Air mata ku menetes, membasahi sisa bangunan, tempat dimana ketika aku lelah dapat menentramkan hati ku.
Lama aku meratap. Menyaksikan istana indah yang selalu menampungku sekarang hancur menjadi debu. Aku seperti kehilangan sebagian diri ku. Aku merasa jika bagian terdalam diri ku saat itu ikut diporak-porandakan oleh badai. Tiap hari aku mencoba mengingat bagaimana bentuk bangunan itu seutuhnya namun sia sia. Istana itu benar-benar telah direnggut dari ku.
Sempat terpikirkan jika aku lebih baik tidak pernah membangun istana itu. Namun aku tau sesal tak akan pernah mampu memundurkan waktu untuk merubah apa yang telah ditetapkan. Untuk badai agar tidak menyerang istana indah ku. Lagi pula istana itu pernah melindungi ku dari panas dan hujan dan aku sangat berterimakasih untuk masa-masa indah yang lama itu.
Aku masih memandangi puing-puing itu. Memikirkan apa yang salah terhadap rancangan istana ku. Aku telah membangunnya sekian lama dengan sangat teliti. Memberikan setiap warna pada setiap bagiannya sehingga istana itu tampak indah berseri-seri. Tapi aku tak pernah memperhatikan bahan-bahan penyusunnya. Aku terlalu sibuk memikirkan keindahannya. Dan aku tiba-tiba menjadi resah menyangkut hal itu.
Aku mengamati tempat berdiri nya, berani di bibir jurang yang menghadap hamparan lautan. Aku memilih tempat itu karena disanalah aku dapat menikmati kehidupan. Menikmati keindahan laut dari ketinggian. Aku tidak pernah memikirkan jika laut akan menghembuskan angin sekuat itu. Yang selama ini aku tau hanya segala hal tentang keindahan sehingga aku melupakan beberapa kejelekan.
Aku menggali lagi bagian-bagian penyusun istana ku. Aku pandangi dan aku menyadari jika selama ini aku tidak pernah menyentuh dinding-dinding yang hancur itu. Lalu aku menyentuh puing-puing tak berbentuk, berupa sepetak kecil utuh yang masih menyatu, dengan ujung jari ku. Sangat rapuh. Bagian itu hancur seketika.
Aku tersadar jika selama ini yang aku bangun adalah sebuah gubuk yang seolah-olah berbentuk istana. Gubuk dengan tampilan indah yang dinding-dinding nya begitu rapuh. Walaupun begitu aku tidak pernah menyesalinya. Karena sekarang aku menjadi tau jika selama ini tempat ku berpulang hanya sebuah gubuk indah yang begitu rapuh.
Diatas tumpukan bagian-bagian itu aku tertawa dalam tangisan ku, menyadari betapa bodoh dan konyol nya diri ku. Aku menelentangkan tubuh ku diatas kehancuran itu dan kepala ku terkulai menyaksikan pondasi ku yang tak sedikitpun goyah. Aku tertawa lebih keras lagi namun mata ku terus mengeluarkan cairan. Aku merasa sesuatu didalam diri ku baru saja sedang dibangun sesuatu dan itu sangat melegakan.
Setelah berhari-hari aku menghindari angin karena membenci sekarang aku berterimakasih pada nya yang telah memperingatkan ku. Kali ini aku membiarkan ia menerpa wajah ku, terasa lembut dan sangat berarti. Aku juga berterima kasih kepada gubuk yang selama ini melindungi ku karena telah membiarkan aku menikmati keindahannya. Dan aku sangat berterima kasih kepada konspirasi alam yang telah mengajari ku beberapa pelajaran. Itu semua sungguh pengalaman berarti.
Sekarang aku ingin membangun sebuah rumah. Dengan pondasi yang sama dengan pembentuk gubuk ku yang indah. Hanya rumah mungil dengan dinding penuh warna dan jendela kaca yang terbuka. Dan bagian-bagian penyusun nya kali ini harus ku perhatikan dengan seksama. Agar kelak angin yang berhembus dapat menyegarkan ku dan tidak merusak sedikit pun keindahannya.

0 komentar:
Post a Comment