Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Thursday, July 23, 2015

Time Traveler

Diego meratap melihat anak-anak yang sedang asik bermain kelereng di pojokan gang sempit yang dilaluinya. Jalan tersebut membelah kiri dan kanan dan dia berdiri berhadapan dengan anak-anak tersebut. Ada sesuatu yang kosong merasuki dadanya saat ini. Dilihat nya anak-anak tersebut lamat-lamat --tanpa bergeming, dia hanya terpaku pada dua kakinya yang sejajar. Hingga salah seorang dari mereka menyadarinya, Diego lantas memalingkan wajah untuk menghilangkan kegetirannya.

Sudah berapa jauh aku berjalan, pikir nya. Satu tahun lagi dia akan berusia dua puluh dan ia hampir tidak menyadarinya. Dia lalu berjalan menghampiri anak-anak tersebut. Kira-kira umur mereka antara lima sampai tujuh tahun. Betapa naif nya anak-anak ini, ia bergumam. Semakin dekat ia berjalan semakin jelas bagaimana wajah anak-anak tersebut terlihat. Wajah-wajah penuh semangat dengan mata berseri-seri.

Lalu dia berhenti ketika melewati sebuah rumah berjendela kaca hitam yang memantulkan bayangan nya secara sekilas. Entah apa yang dia pikirkan, ia merasa jika kaki nya tidak mau lagi untuk berjalan kedepan. Sudah lama memang dia tidak bercermin karena ia merasa memang tidak perlu.

Dia lalu berbalik. Hanya selangkah lalu sekarang dia sudah berdiri dihadapan kaca tersebut.

Kaca itu tinggi hampir menyentuh atap rumah. Bagian bawah nya hanya setinggi pinggang Diego. Bingkai nya timbul terbuat dari kayu yang diamplas kasar tanpa dicat. Walaupun begitu, kaca tersebut terlihat cukup mewah dengan warna hitam. Untuk ukuran rumah yang berada di gang sempit, kaca itu memberikan Diego kesan yang baik terhadap pemilik rumah.

Diego lalu mengamati apa yang dipantulkan oleh kaca tersebut. Sesosok anak muda dengan rambut cepak acak-acakan. Leher kurus dengan tampilan tulang yang menonjol menopang wajah yang terlihat tirus dan kusam. Sudah tiga hari dia tidak mandi. Bekas-bekas asap knalpot dan debu dari kulit orang kota yang berterbangan, menempel memperjelas garis-garis wajahnya.

Betapa menyedihkan anak ini, pikirnya. Sorakan anak-anak yang kegirangan kini merayap melalui dinding-dinding telinganya. Menggema melantun-lantun hingga menyentuh gendang telinganya sehingga dia dapat mengerti bagaimana perasaan yang dibawa oleh suara tersebut. Lagi, ia mengulang apa yang ia pikirkan namun sekarang pikiran itu berubah menjadi sebuah bisikan tipis yang ditujukan kepada anak yang berada dibalik kaca. 'Betapa menyedihkan anak ini'.

Dia lalu memperhatikan matanya. Mata itu terlihat sayu dengan kelopak menghitam yang menutupi hampir sebagian matanya. Dibawahnya bola berwarna coklat terlihat jernih diatas bagian putih yang memerah karena urat mata yang menonjol. Lama ia menatap bulatan tersebut. Ia tidak menangkap kesan apa-apa akan tetapi dia terus menatap tanpa berkedip.

'Kemana aku akan pergi?' kembali pertanyaan itu terus mengingatkan dirinya atas perjalanan nya. Dia sadar jika perjalanan nya yang sudah menginjak tahun kesepuluh, tidak menemukan apa pun yang selama ini mengganggu pikirannya. Lalu untuk sejenak dia terdiam. Kembali memperhatikan matanya namun kali ini mata itu disipitkan dengan alis dibuat membentuk garis diagonal yang hampir beradu ditengah-tengah.

'Aku akan pergi kemana?!' kali ini dia merasa cemas. Baru kali ini dia merasa secemas ini sehingga dia dapat merasakan tekanan di dada nya. Mulutnya terbuka dan dia merasa jika harapannya telah pupus seiring berjalannya waktu.

'Harapan? apa yang aku harapkan?!' suasana hatinya berganti seketika. Seolah sebuah benturan keras menghantam kepalanya disaat dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan nya sendiri.

Diego memutar kepala. Kembali menatap anak-anak yang masih bermain kelereng dipojokan. Salah satu dari mereka terlihat sedang mengambil ancang-ancang untuk menembakkan kelereng. Arah tembakan tersebut menuju ke tumpukan kelereng yang disusun rapat. Sedangkan anak-anak yang lain terlihat berdiri dibelakang anak yang sedang bersiap-siap; mereka tampak fokus memperhatikan jemari si anak meregang seperti katapult yang siap dilontarkan.

Dia memperhatikan lagi kaca yang masih menampilkan bayangan dirinya. Tas punggung besar dengan penyandang yang sudah robek menggantung di bahunya. Bayangan kaca itu tidak sejelas bayangan sebuah cermin asli namun masih cukup jelas untuk memaparkan penampilannya yang jauh dari kata bersih. Jika saja baju yang dipakainya tidak berwarna hitam, mungkin dia tidak ada bedanya dengan orang-orang yang hidup disekitaran tempat sampah.

Diego sudah pernah bekerja sebagai penyemir sepatu. Mengamati sisi jalan raya memperhatikan jenis orang yang lalu disana. Dia terbiasa duduk di bagian terbawah sebuah tangga karena disanalah orang-orang akan mengangkat kaki dan melihat kotoran di sepatu mereka sendiri.

Dilain waktu ia pernah duduk disebuah emperan yang terletak dekat gedung-gedung tinggi. Tidak hanya dirinya yang berada disana; ada penjual minuman dan makanan. Beberapa kali ia duduk disana, kebanyakan pelanggannya sering menyambilkan antara menghabiskan makan siang dengan membersihkan sepatu mereka.

Disuatu ketika dia tidak tahan untuk bertanya terhadap salah seorang pelanggannya. Pelanggannya tersebut baru saja memesan sebuah burger dan hotdog yang terbungkus dalam kantong kertas. Ketika dia menyemir sepatu, pelanggannya tersebut dengan tergesa mengunyah makan siangnya. Lalu masih dengan mulut penuh, pelanggannya tersebut mengatakan kepadanya untuk menyemir secepat mungkin. Lebih cepat dari makanan yang harus dia habiskan.
"kenapa begitu tergesa tuan?" Diego bertanya tanpa menoleh. Tangan kecilnya terus bergerak memoles sepatu kantor berwarna hitam.
"Waktu adalah segala-galanya. Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu berkata dengan cepat. Menganggap jika setiap kata yang dia keluarkan harus dapat meminimalisir waktu pengucapan. Lalu ia mengeluarkan hotdog setelah menyesap cairan dalam gelas plastik melalui penyedot. Tangan kirinya masih memegang burger yang tersisa satu gigitan.
"Kalau boleh tau, apa pekerjaan tuan? Aku baru sepuluh tahun dan aku tidak begitu kenal dengan waktu." Diego lalu menyentuh pasangan sepatu tersebut. Seperti pesanan pelanggannya, ia menyemir dengan sangat cepat. Bukan berarti dia menyemir dengan asal-asalan; dia selalu mengutamakan hasil pekerjaannya, walaupun untuk kali ini dia tidak dapat memastikan hasil semiran nya.
"Aku pegawai kantoran. Berangkat jam lima pagi agar dapat kereta yang sepi dan pulang hampir larut malam agar aku dapat bonus yang besar. Istilah nya lembur." Pria itu berkata masih dengan mulut terisi yang sesekali harus berhenti mengunyah untuk meneruskan ucapannya.
"Aku tidak mengerti.. aku melihat tuan begitu tergesa-gesa bahkan untuk sekedar membersihkan sepatu dan menghabiskan santapan makan siang." Diego hampir selesai dengan semirannya. Sedangkan pria itu baru menghabiskan setengah dari hotdog berukuran jumbo yang berada digenggamannya.
"Berapa penghasilan mu sebulan? aku bisa mendapatkan penghasilan perbulan mu hanya dengan satu hari bekerja." Seolah tidak peduli --memang tidak peduli; pria itu terus mengunyah makanannya tanpa henti. Rahangnya yang besar namun tidak berbentuk persegi tak henti-hentinya bergerak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan sebesar itu?" Diego memberikan sentuhan terakhir dengan cara menepak sepatu tersebut agar mengkilap. Pria itu masih duduk disana dengan sisa hotdog yang dipaksakan untuk dikunyah.
"Kau tidak boleh membuang waktu." Pria itu tersedak dan ia kembali menyedot minumannya. Gelas plastik tempat minumannya bernaung sekarang sudah kosong dan ia memasukkan sisa hotdog yang masih cukup besar kedalam mulutnya. Pipi pria itu terlihat sesak dan bibirnya secara susah payah terus mencoba untuk mengatup.

Hanya satu tahun Diego bekerja sebagai penyemir sepatu. Dihari terakhir dia menyemir, salah satu pelanggannya --seorang pria paruh baya dengan rambut sebagian memutih, menawarkan ia untuk kembali bersekolah. Pria tua itu berjanji akan membiayai keperluan dan kelengkapan sekolahnya, lalu Diego dengan segera mengiyakan tawaran itu. Keinginannya untuk bersekolah sangat besar; walau sekarang dia sadar bahwa yang diinginkannya adalah untuk belajar bukan untuk pergi ke sekolah.
"Dimana kau tinggal?" pria tua itu berujar dibalik koran besar yang ia bentangkan. Sepatu yang melindungi kakinya sekarang sedang dibersihkan Diego. Dia tidak tergesa-gesa sehingga tidak meminta anak tersebut untuk melakukan pekerjaannya dengan terburu-buru.
Sadar jika pertanyaannya tidak mendapati tanggapan, pria tua itu lalu melipat korannya lantas menyentuh kepala Diego yang tertunduk dengan ujung jari telunjuknya. Diego lalu tersentak dan ia mengangkat kepalanya untuk memberikan perhatian.
"Dimana kau tinggal?" pria itu mengulangi pertanyaan nya. Kini tatapannya diarahkan kepada anak yang duduk dilantai yang sedang membersihkan sepatunya.
"Dimana saja. Kadang aku menginap di rumah teman ku." Diego kembali mencermati sepatu yang sedang dibersihkannya. Tanpa rasa takut ia menjawab pertanyaan orang asing dengan santai.
"Orang tua mu?" dahi pria tua itu mengernyit.
"Tidak tau." suara nya yang keluar datar bertolak belakang dengan kelincahan tangan nya membersihkan sepatu. Pria tua itu mulai menduga-duga apa yang terjadi dikehidupan Diego. 
"Maksud mu, kau belum pernah berjumpa orang tua mu?" pria tua itu menetaskan telur yang berisi rasa penasaran. Entah apa yang terlintas dipikiran nya, dia langsung bertanya seperti itu. Mungkin dia telah sering berbincang-bincang dengan anak-anak yang mencari penghidupan di pinggir jalan.
"Tentu saja pernah." Diego tampak tidak menikmati pertanyaan yang diajukan pria tua itu. Gaya dia berkata seolah-olah dia bukan bocah sepuluh tahun. Kata yang dia keluarkan terkesan tegas dan diucapkan oleh orang yang sudah memiliki arah tujuan.
Pria tua itu tidak meneruskan pertanyaan nya. Dia seolah-olah mengerti dengan apa yang telah dialami bocah yang sedang membersihkan sepatunya ini; memang begitu lah seharusnya, pria itu adalah pria tua. Dia telah melewati banyak perjalanan dan melihat dunia jauh lebih lama dari Diego.

Menyadari jika pria tua itu tidak bersuara lagi, Diego menolehkan wajah sekali lagi. Pria tua itu terlihat mendekap tangan dengan perhatian ke arah tangannya yang masih terus bergerak. Hanya sekilas, Diego menunduk lagi.
"Aku belum pernah berjumpa dengan orang tua asli ku." Diego memecah keheningan.
"Aku dibesarkan orang lain yang selama ini aku anggap orang tua." tangannya membentuk gestur yang berkesan 'aku tidak peduli'.
Pria tua itu masih diam. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Diego, untuk kali ketiga, menolehkan wajah nya dan yang dia dapati adalah posisi pria tua itu yang masih sama. Ia lalu menjauhkan tangannya dari sepatu pria tua itu serta mendorong tubuhnya untuk duduk tegak dikursi kecil yang menopangnya.
"Aku kira bapak ingin tau tentang orang tua ku?" Diego kembali membentuk gestur yang sama. Alisnya ia angkat sehingga bola matanya jernih terlihat jelas.
"Aku masih mendengarkan.." balas pria tua itu.
"Aku menemukan dokumen kelahiran ku dan mendapati foto orang tua yang berada disana berbeda dengan wujud nyata nya." Diego melanjutkan pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi.
"Aku sering menanyakan kenapa aku memiliki wajah serta kulit berbeda dengan kakak ku. Mereka semua tidak pernah benar-benar menjawab dan hanya menganggap jika pertanyaan ku itu lelucon..." Diego berhenti lagi lalu ia menggelengkan kepala seolah tak percaya.
"Hingga suatu ketika, seekor tikus menuntun ku ke dalam kamar orang tua ku, lalu aku menemukan dokumen itu dalam tumpukan karton yang berisi banyak kertas." Kepala nya melemah dan tundukannya begitu tak bertenaga.
"Berapa  

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 

on going...

0 komentar:

Post a Comment