Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Friday, July 31, 2015

Kura-kura tanpa tempurung

Kura-kura muda itu telah mempersiapkan segala perlengkapannya. Telah lama ia berlatih secara sembunyi-sembunyi. Ditiap malam, disaat semua terlelap dan tak ada lagi yang peduli karena kelelahan. Dia telah berlatih cara bagaimana untuk hidup tanpa tempurung yang menyelubunginya. Hasratnya adalah untuk berlari menembus hutan dengan cepat dan melihat keindahan dunia dengan kedua matanya.
            Dia telah memutuskan untuk berangkat malam ini secara diam-diam agar keluarganya tidak menghentikan keputusannya. Dia telah sering menyampaikan kepada keluarganya perihal keinginannya ini namun keluarga nya sering menganggap ia mengada-ada. Terutama saudara nya yang mengira bahwa dia sudah gila.
            Alasannya adalah karena keluarga nya sangat takut dengan rubah, walau para rubah selalu berlaku baik kepada mereka. Dia sering diingatkan oleh ibu nya bahwa para rubah hanya berpura-pura. Mereka selalu berhasrat ingin mencicip daging kura-kura, begitulah yang sering disampaikan ibu nya.
            Namun ia tidak percaya. Yang ia ketahui adalah dia memiliki teman rubah yang sangat baik kepadanya.  Ia sering diceritakan rubah tentang hal-hal baru ketika rubah pulang berkelana dari dalam hutan belantara. Teman terbaik yang pernah aku punya, pikirnya.
            Awal keinginannya muncul ketika rubah menceritakan warna-warni dunia kepadanya. Pikiran liarnya membayangkan tiap gambar yang disampaikan rubah dalam bentuk kata-kata. Dan tidak hanya itu saja, rubah selalu menceritakan dirinya akan predator yang selalu mengintai setiap perjalanan. Namun rubah berjanji akan mengajarinya bagaimana cara membaca pertanda dan menyembunyikan diri ketika predator datang jika ia ingin berkelana.
            Ia telah membuat keputusan. Ia menghampiri rubah yang menunggu di dekat pohon besar. Dia masih memakai tempurung dan memutuskan untuk keluar dari sana di hadapan rubah. Dia ingin rubah melihat betapa besar keinginannya sehingga rela meninggalkan tempat teraman nya.
            Kura-kura itu sekarang telanjang. Lepas dari sesuatu yang selalu mengamankan dirinya. Baik itu tempurung maupun keluarganya.
            Rubah tak bergeming menatap kura-kura. Baru kali ini ia melihat tubuh kura-kura dan sepertinya ia menikmatinya. Lalu dengan segera rubah mengajak kura-kura untuk segera berlari ke dalam hutan. Tak seperti yang dibayangkannya, kura-kura ternyata mampu mengimbangi lari nya.
            Berhari-hari mereka berlari dan tidak ada sesuatu yang mengganggu terjadi. Seperti yang diceritakan rubah, Kura-kura melihat sisi-sisi terindah yang disembunyikan hutan yang belum pernah sama sekali dilihatnya. Dia merasa begitu berbeda mengetahui hal-hal baru yang selama ini hanya bisa dibayangkannya saja.
 Namun suatu hari, ketika mereka sedang beristirahat di tepi sungai, rubah secara mendadak menancapkan kuku nya ke tubuh kura-kura yang sedang berbaring. Air liur Rubah menetes sehingga kura-kura menjadi sangat gemetaran. Rubah mengatakan bahwa ia telah merencanakan semua ini dan sengaja mengajak kura-kura untuk terus berlari agar otot kura-kura menjadi semakin padat dan dagingnya akan menjadi semakin lezat.
Dalam ketakutan, kura-kura mencoba melawan. Lehernya yang panjang dan lentur bergerak mengantarkan mulutnya untuk menggit jemari rubah yang mencengkramnya. Dia terlepas dan segera pergi jauh untuk menyelamatkan diri. Larinya menjadi sangat kencang sehingga rubah tak sanggup mengejar lalu kehilangan jejak.

Kura-kura sudah lupa jalan pulang dan memutuskan untuk terus berkelana. Dia mengingat pelajaran dari rubah untuk terus membaca pertanda. Dan semakin jauh ia berjalan, ia berjumpa lebih banyak penduduk hutan, juga semakin banyak yang ia ketahui akan kebenaran.

0 komentar:

Post a Comment