Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Saturday, July 18, 2015

Bangku Taman

"Jika kau mati, aku akan tertawa. Sangat keras. Aku akan mengadakan pesta dan merayakan dengan semua orang yang mengenal mu. Tidak satupun diantara kami yang akan menangis." Hens berkata tiba-tiba. Mereka baru saja sampai ke tempat ini setelah mengikuti tur sejarah yang diadakan oleh suatu pemandu wisata. Tur tersebut membahas bagaimana orang-orang dahulu dari berbagai zaman, berbagai agama, melakukan eksekusi dan proses penguburan.

"Itu bagus! Sama persis dengan keinginan ku. Bagaimana kau bisa tau?" Kiev mengernyitkan wajah untuk melawan panas.

"oh tentu, aku tidak sadar jika kita telah saling mengenal cukup lama." mata Kiev berbinar menatap Hens yang tengah duduk di bangku panjang yang tidak memiliki sandaran.

"Itu ejekan dasar idiot!" Hens kehilangan minat setelah gagal membuat pria itu kehilangan selera. Hari ini cuaca memang sangat panas dan mereka sekarang sedang berteduh di bawah pohon yang memang difungsikan sebagai peneduh kursi taman. Pohon-pohon rindang berbatang besar berjejer sepanjang kursi dan hanya dipisah oleh jalan kecil. Bangku-bangku panjang itu dicat warna warni mengikuti urutan warna pelangi. Dan sekarang mereka duduk di kursi berwarna hijau.

"Tidak, aku serius! Pernah kah kau memikirkan tentang kematian?" tanya Kiev.

"Kematian hanya gerbang penentu kemana kau akan dibawa. Neraka atau surga. Tidak ada pilihan lain." Hens menyahut pertanyaan tersebut dengan enteng. Dipanggilnya pak tua yang duduk di depan pagar pembatas lalu dia menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral dingin ukuran sedang. Lapak pak tua itu terlindungi oleh payung yang mengambang di atas kepala nya. Pegangan payung tersebut diikatkan pada pagar pembatas dengan tali plastik berwarna merah. Ikatannya tampak kacau namun terlihat cukup kuat untuk menopang berat payung.

"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa 'kematian' itu hanya ilusi?" Kiev melakukan hal yang sama, tetapi dia menukar dengan segelas kopi hitam. Di bawah payung nya, pak tua itu lalu mengangkat termos yang sudah tampak buruk keluar dari keranjang. Setelah itu gelas plastik berukuran kecil menyusul. Di sebelah keranjang pak tua itu ada fiber kecil sebagai penyimpan minuman botol agar tetap dingin. Dan semuanya masih terlindung dibawah payung berwarna dengan pola melingkar serupa urutan warna bangku-bangku taman.

"Ilusi bagaimana?" Hens membuka tutup botol, lalu membiarkan air dalam botol tersebut mengalir melalui tenggorokannya. Butiran air yang menempel didahinya perlahan mulai terasa sejuk dihembus angin. Tiap bagian tubuhnya yang dari tadi terasa terbakar dan mengering, kini tidak lagi.

"Ketika kau mati, orang-orang tidak menangis karena kehilangan mu. Mereka menangisi kenangan tentang mu." Kiev menyambut gelas berisi kopi hitam yang sudah jadi. Badan gelas tersebut masih terasa panas, dan dia menopang bagian kepala gelas yang tak tersentuh oleh air. "Terima kasih." Kiev menyimpulkan senyum lalu pak tua itu kembali kebawah payungnya setelah berjalan beberapa langkah. Kiev lalu melanjutkan penjelasan nya.

"Dan dalam beberapa hari setelah kau pergi, orang-orang akan melupakan bahwa kau pernah berjalan di bumi ini. Namun bagi orang-orang terdekat, kenangan itu akan terus melekat dan akan selalu menjadi pengingat..." Kiev menahan perkataannya dan memperhatikan Hens dengan cermat. Begitu pula dengan Hens, dia mengangkat satu alis memaksa Kiev untuk terus melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.

"Kau paham maksud ku?" tanya Kiev. Sebelah tangannya menopang gelas kopi dan sebelah lagi bergerak memunculkan bagian telapak tangan. Pinggulnya bergeser dan badannya dicondongkan menghadap ke arah Hens. Satu dengan semangat dan satu penuh penasaran. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Hens lantas membuka mulutnya membentuk huruf 'O'.

"Sedikit... Sekarang aku mulai bertanya 'Lalu untuk apa kita hidup?' tunggu.. 'mengapa kita hidup?'" Hens masih menatap Kiev dengan satu alis terangkat. Ada satu perasaan gantung yang kini menghinggapi kepala nya. Perlahan perasaan itu  menjalar keseluruh tubuhnya, lalu berdiam di dadanya untuk menimbulkan tekanan. Alisnya semakin tinggi terangkat seiring semakin menggantungnya pertanyaan yang dia lontarkan.

"Kehidupan ini sudah turun temurun dari beberapa generasi. Dimulai dari adam... Kau tau sudah berapa banyak kematian yang terjadi? Lalu apakah dunia orang-orang yang mengalami atau merasa kehilangan terhenti?" Kiev meniup permukaan gelas beberapa kali, lantas mengarahkan kopi yang sekarang sudah tidak cukup panas untuk beradu dengan ujung lidahnya. Bunyi kopi yang disruput pelan menandakan jika dia sedang menunggu jawaban dari Hens.

"Dunia ini terus berlanjut, memang... Tapi ada beberapa orang yang diingat karena apa yang mereka lakukan, dan yah.. seperti yang kau bilang, orang-orang tidak menangisi kepergian mereka.. Orang-orang merayakan kelahiran mereka. Bersyukur jika mereka pernah terlahir ke bumi." Hens mengangguk pelan dan tatapannya diarahkan ke balik pak tua penjual minuman, ke genangan air yang luas dibalik pagar pembatas. Air tersebut mengalir sejauh mata memandang. Namun karena permukaannya yang tenang, genangan air yang luas itu terlihat seperti danau jika dilihat dari jarak tempat mereka menghindari panas.

"Itu poin nya! Kelahiran dan apa yang kita lakukan. Dua hal yang harus kita cari tahu. Kenapa kita dilahirkan dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Kematian? sebagaimana maknanya, kematian adalah akhir dari perjalanan."

Untuk sesaat mereka saling terdiam. Kepala mereka memunculkan pertanyaan yang mungkin mencoba mencerna panas. Udara yang dihembuskan pohon masih terasa sejuk walakin tidak lagi senikmat saat pertama mereka mulai berteduh. Panas yang semakin terik sekarang memantul menerpa mereka melalui permukaan jalanan. Namun masih terasa cukup menyegarkan untuk membuat bola pikiran meliuk-liuk menelusuri labirin.

"Jadi kau sudah mendapatkan jawaban mu?" Hens balik bertanya. Dia kemudian menuangkan kembali air botol di genggamannya yang tersisa setengah kedalam mulutnya. Tanpa terputus, isi botol tersebut sekarang berganti dengan udara. Hens kemudian meremas botol tersebut dan melempar ke arah tong sampah berwarna kuning. Suara denting antara botol yang masuk tidak sempurna ke dalam wadah sampah seolah mempertegas keraguan dalam pertanyaan Hens.

"Entahlah.. tapi menurutku disaat kau menemukan jawaban mu, disaat itu lah kematian menjemput mu." Kiev menghela nafas pendek. Lagi, kopinya dia minum. Kopi tersebut masih terlihat berisi air hitam pekat beserta ampas yang sudah terlihat jelas. Namun Kiev terlihat sudah bosan. Lalu dia berjalan ke arah tempat sampah dan memasukkan gelas tersebut ke wadah yang sama dengan lemparan Hens. Setelah itu dia berjalan ke arah pak tua dan menukar tiga lembar uang kertas dengan sebotol air mineral. Dia sadar jika memilih kopi hitam, disaat kelelahan, dan hari yang panas, adalah pilihan yang konyol.

"Dengan fakta bahwa aku masih bisa bernafas dan minum kopi di tepi sungai bersama orang paling menjijikan di dunia, aku rasa aku belum menemukan jawaban ku." Kiev melanjutkan setelah kembali ke tempat duduk sebagaimana posisi nya sebelumnya. Yang membedakan hanyalah jenis minuman yang digenggamannya.

"satu pertanyaan lagi.. apa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" Hens memandang Kiev penuh dengan penantian.

"Jika dikatakan 'iya', sejujurnya aku tidak tau.. Jika dikatan 'tidak', aku tidak bisa bilang begitu. Aku hanya memandu diriku dengan apa yang pikiran pertama ku ingin melakukan. Seperti, ketika saat ini tiba-tiba pikiran ku memberikan perintah untuk beranjak, aku akan segera beranjak. Aku tidak ingin menunda-nunda apa pun. Karena menurut ku, apa yang pikiran pertama ku katakan, itu adalah pemberitahuan dari sang pencipta. Itu seperti sinyal, alarm, atau alert system yang sudah tertanam didalam setiap diri manusia. Yang perlu kau lakukan adalah mendengarkan." Kiev berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Lalu dia membuka tutup botol dan menelan cairan didalam nya.

"Sekarang aku tau kenapa kau begitu terlihat impulsif." Hens berdecak dan ujung bibir nya terangkat. Disekitar matanya terbentuk kerutan seiring senyuman itu. Kiev membalas tersenyum dan melanjutkan perkataannya.

"Tapi ada kalanya aku membatasi diri. Jika yang hendak aku lakukan mengusik kehidupan orang lain secara langsung, aku selalu mengatakan tidak pada diri ku sendiri. Yah.. semacam itu lah."

Hens menguap lebar setelah beberapa saat mereka berhenti sejenak untuk menikmati keheningan yang hinggap secara tiba-tiba.

"Aku masih ingin berpesta setelah kematian mu, kau tau. Bahkan dengan tambahan party sex akan membuat ku semakin bersemangat. Aku juga akan menuangkan Romanee Conti di atas batu nisan mu agar kau menyesal telah mati, idiot."

"Lakukan saja sesuka mu." Kiev tertawa lalu berdiri dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan kearah taman yang membelakangi sungai. Hens mengikuti dari belakang setelah membeli satu botol air mineral lagi dari pak tua yang masih duduk menyandar di pagar pembatas.

0 komentar:

Post a Comment