Tulisan ini akan lebih baik dibaca sekiranya sambil mendengarkan lagu ini "One Ok Rock - Wherever You Are"
Senin malam di hampir penghujung bulan September. Di samping Karavan tua yang terparkir di tepi sungai yang berarus deras. Api unggun menyala cukup besar untuk kita nikmati berdua kala itu. Sebuah gitar akustik yang kau mainkan dengan begitu merdu menemani cahaya bulan yang terang. Teko yang di isi air dengan seduhan kopi di dalamnya, menggantung pada dua buah ranting yang kau rangkai disebelah unggun tersebut. Aku ada di sebelah kiri mu memeluk kedua tangan ku yang diselimuti sarung tangan. Kau masih terus bernyanyi untuk menghangatkan suasana malam itu.
Lalu tiba-tiba kau berhenti memainkan gitar mu. Menatap ku yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangan ku menandakan betapa dinginnya udara malam itu. Kau menyandarkan gitar mu pada Karavan tua tempat kita bersandar. Karavan yang selalu membawa kita menikmati perjalanan yang tak berarah ini. Perjalanan yang bertujuan hanya untuk menikmati keindahan alam secara berduaan. Antara aku dan kamu.Kau merangkul pundak ku dan mendorongnya mendekat kearah pelukan mu. Aku memperbaiki posisi ku agar dapat bersandar di dada mu. Beberapa kali kau mencium kening ku dan tersenyum hangat. Kita hanya diam mendengarkan sungai yang mengalir, menikmati nyanyian jangkrik, dan merasakan desiran angin di bawah bayang-bayang bulan yang sangat terang.
Hanya beberapa saat, kau menggeser tubuh ku lagi dan pergi beranjak menuju kedalam Karavan. Lalu kau keluar membawa dua kaleng Beer yang dingin karena ulah angin. Kau membukakan satu untuk ku dan satu untuk mu. Lalu kau membuka jaket katun yang dilapisi parasut pada bagian luarnya yang menghangatkan tubuh mu sedari tadi. Bahkan hingga topi rajut yang kau pakai pun kau tanggalkan. Aku menatap mu heran dan kau menatap ku balik dengan sebuah senyuman setelah menenggak Beer yang kau buka tadi. Sekarang hanya ada sehelai baju tipis berwarna hitam yang bertuliskan 'Another Life', celana jeans biru pudar, dan sepatu boots yang tapak nya sudah hampir tipis melekat di tubuh mu.
Masih dalam tatapan heran aku menyaksikan mu mengambil gitar mu kembali. Lalu kau mendorong kayu-kayu yang letaknya tidak dapat dijangkau api unggun yang sudah melemah. Kau memperbaiki posisi duduk mu lagi dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memainkan gitar mu.
"I'm telling you
I softly whisper..
Tonight tonight
You are my angel...
Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight tonight
I just say…"Kau melantunkan lagu yang menjadi favorite kita ketika malam menjelang dan kita masih dalam Karavan melintasi jalanan. Dentingan dawai gitar mu mebuat ku hampir menangis karena begitu merdunya kau memainkan lagu itu. Petikan-petikan kecil gitar mu yang mengawali nyanyian mu benar-benar sangat membuat ku hangat kala itu.
Aku merebahkan kepala ku di pundak mu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kepala ku. Menikmati kau menyanyikan lagu yang begitu menghangatkan ku di malam yang cukup dingin ini.
"...Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now..."Saat bagian itu aku meneteskan air mata haru. Perasaan ku benar-benar hangat kala itu. Aku teringat saat kau pertama kali mengajak ku untuk berkeliling melihat dunia dengan Karavan tua mu, dan aku menganggap mu orang gila. Hingga orang tua ku meninggal dan semua orang menjauhi ku karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi, kau datang menghampiri ku untuk yang entah kesekian berapa kalinya dan menawarkan ajakan yang sama. Dan saat itu aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada ku sampai-sampai aku mengiyakan ajakan mu. Aku hanya mengikuti mu dan merelakan diri ku atas apa yang akan terjadi. Aku benar-benar sangat merasa kosong kala itu. Dan aku sungguh tak pernah menyangka kau akan seserius ini menjaga ku. Sampai saat ini...
"I don't need a reason
I just want you baby
Alright alright
Day after day
Kono saki nagai koto zutto
Douka konna boku to zutto
Shinu made stay with me
We carry on…"
Api unggun bergerak kian kemari ditiup angin. Teko yang menggantung disebelah unggun ikutan bergoyang dihembus angin. Daun-daun yang gugur berterbangan seolah-olah ikut menikmati lantunan suara mu. Air mata ku benar-benar tidak tertahan kali ini. Aku terisak menahan suara tangis ku. Kenangan pahit antara aku dengan lingkungan ku, hingga dirimu yang selalu menunggu ku, menyeruak hebat dalam pikiran ku saat itu. Dan kau masih terus memainkan gitar mu. Aku menyentuh dadamu dan rasanya sangat hangat.
Kau hanya diam menikmati guncangan tubuh ku yang terisak menahan suara tangis ku. Kau seolah-olah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Kau seolah-olah tau dengan apa yang aku pikirkan. Dan aku merasa kau memang mengerti. Kau hanya tetap terus menyanyikan lagu itu meski sekarang air mata ku sudah membasahi pundak mu. Sedangkan tangan mu masih asik bergerak memainkan melodi lagu itu.
"...Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now
Wherever you are, I'll never make you cry
Wherever you are, I'll never say goodbye
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now"
Kau menghentikan petikan dawai gitar mu dengan petikan-petikan kecil di penghujung nyanyian mu. Tangan kanan mu mengusap air mata ku yang hampir kering ditiup angin. Kau menarik dagu ku lalu mengarahkan dahi ku ke bibir mu. Sangat lembut dan pelan kau menyentuh dahi ku.
"Aku mencintai mu, Cinta." kata mu sambil menyodorkan sebuah kotak persegi kecil yang isi nya cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diatasnya kau lilitkan rumput ilalang yang daunnya kau biarkan tegak mengambang. Dan saat itu aku hanya memelukmu erat dan kau mengusap-ngusap kepala ku dengan kedua tangan besar mu hingga aku terlelap dipelukan mu dibawah bayang-bayang bulan yang bulat terang. Dan baru kali itu kita tidur diluar Karavan sepanjang malam dan aku sangat merasa aman tanpa sedikit pun ada rasa kekhawatiran.

0 komentar:
Post a Comment