Hari itu hari minggu. Dua pemuda tampak memakai pakaian lengkap untuk mendaki beserta tas ransel besar di punggung mereka masing-masing. Kamera digital terlihat menggantung di leher mereka. Mereka berangkat menggunakan kendaraan umum hingga kaki perbukitan tersebut.
"Aku tidak menyukai rerumputan tadi." kata Jeri
"Daunnya terlalu basah?" kata Sean
"Dan tinggi. membuat kaki ku gatal."
"Itu bukan salah rumputnya."
"Tentu saja salah rumputnya. Aku hanya berjalan dan mereka menggigit ku."
"Berjalan dengan celana pendek?" kata Sean menurunkan ransel nya.
"Aku tidak mengira rumputnya akan setinggi ini." Jeri masih membungkuk memukul-mukul kakinya.
"Aku sudah mengingatkan." Sean merebahkan badan di bawah pohon beringin yang rindang tempat mereka berhenti. Akar-akar beringin tersebut sudah sama besarnya dengan cabangnya.
"Untuk memakai sepatu boots? Kau tidak melihat ini?" Jeri mengangkat kakinya
"Untuk melindungi kaki mu. Kau melupakan bagian itu."
"Aku hanya tidak menyangka." Jeri menurunkan ransel nya juga dan merebahkan diri di sebelah Sean.
"Pemandangannya sangat indah." kata Jeri
"Terbayar bukan?"
"Untuk sesaat. Jika saja sekarang mendung aku tidak akan mau melewati jalan terkutuk itu."
"Berhentilah mengeluh. Aku sudah mengingatkan." Sean mengeluarkan sebuah lensa lebar dari ranselnya.
"Kau menyebalkan." Jeri meninggalkan Sean dan pergi ke ujung tebing. Dia mengembangkan tangan menikmati hembusan angin perbukitan.
Hari sudah hampir siang. Mereka menaki bukit ini dari saat matahari belum terbit. Jalanan yang terjal dan penuh semak belukar menjadi kendala mereka dalam meminimalisir waktu. Ditambah saat Jeri terus mengeluh ketika melewati lahan rumput gajah yang luas. Embun yang masih menempel pada ujung rumput tersebut memang akan terasa lengket dan gatal.
Sean telah mengganti lensa zoom yang sebelumnya terpasang pada kamera nya dengan lensa lebar yang baru saja dia keluarkan. Dia berjalan kearah Jeri dan mengarahkan kameranya pada kawannya tersebut.
"Tahan disana." kata Sean.
"Credit untuk ku jangan lupa." kata Jeri dengan menahan tangan nya agar tetap terkembang.
"Coba lihat hasilnya." Jeri membalikkan badan dan menghampiri Sean.
"Seharusnya puncak gunungnya tidak kau tutupi dengan tubuh ku. kata Jeri.
"Aku ingin menonjolkan dirimu dan lembahnya." kata Sean.
"Aku tidak suka jika aku modelnya dan gambarnya seperti itu."
"Selera mu, bukan selera ku." kata Sean dan meninggalkan Jeri lalu mengamati pemandangan disekitarnya.
"Hey, kalau beitu ganti model nya!" Jeri berseru. Tetapi Sean tidak menoleh sedikitpun.
Pohon beringin tempat mereka berteduh berada diatas gundukan tanah yang agak tinggi. Jaraknya sekitar dua puluh meter dari ujung tebing tempat mereka berdiri tadi. Di sekitar pohon beringin tersebut tumbuh pohon pinus yang tinggi. Tidak sampai ke tebing tempat mereka berdiri tadi. Hanya sekitaran belakang pohon beringin tersebut
Seekor burung terbang di atas kepala Sean. Warnanya hitam dengan belang putih pada bagian perut. Bergerak kian kemari antara tebing dan lepas tebing. Pertama-tama cuma seekor dan sekarang menjadi dua ekor setelah burung tersebut berkicau beberapa kali.
"Kenapa ada burung diatas kepala mu?" Jeri menghampiri Sean yang duduk memandangi sisi tebing yang lainnya dari atas sebuah batu besar.
"Kenapa ada aku dibawah mereka?" kata Sean
"Begitulah.."
"Apa ransel kita aman?" kata Jeri
"Apa kau lihat ada orang lain disini?"
"Seandainya ada yang datang?"
"Mereka hanya akan menikmati pemandangan."
"Dengan oleh-oleh dua tas ransel maksud mu?"
"Mungkin keberuntungan mereka." kata Sean
"Peralatan kamera kita ada disana. Bekal kita juga disana. Segalanya ada disana." kata Jeri sedikit cemas
"lalu?"
"Apa kau tidak cemas?"
"Apa yang harus aku cemaskan?"
"Kau terlalu cuek Sean."
"Aku mempercayai." Sean mengarahkan matanya pada bidikan kamera.
"Imajinasi mu gila. Kau gila."
"lalu?"
"Aku heran kenapa aku harus mengikuti mu."
"Aku tidak mengharuskan mu mengikuti ku. Aku cuma mengatakan pada mu bahwa aku akan pergi ke tebing dengan pemandangan yang indah. Dan kau mengikuti ku."
"Kau sedikitpun tidak khawatir dengan tas kita?"
"Aku lebih mengkhawatirkan mu." kata Sean setelah mengambil beberapa gambar yang ada dihadapannya. Lalu kepalanya tertunduk utuk melihat bagaimana hasilnya.
"Jika kau ragu, kenapa tidak kau lihat saja kesana?" aku mengatakan itu setelah melihat duduk Jeri tidak lagi tenang.
"Tas mu juga ada disana." kata Jeri.
"Aku tidak khawatir dengan tas ku."
Jeri pergi kearah pohon beringin melalui jalan setapak yang terbentuk oleh batu-batu tebing yang hancur dimakan usia. Langkah nya kasar dan keras. Dia masih tidak menerima cara pandang Sean yang menurutnya terlalu naif.
Sampai disana Jeri mendapati tas ransel nya masih dalam keadaan utuh. Masih ditempat semula. Hanya posisinya yang telah rebah kedepan karena hembusan angin bukit. Dan sekarang sudah hampir tengah hari.
Sean kembali ke pohon beringin. Setelah puas mengambil beberapa gambar lembah dan perbukitan, Sean berencana untuk memakan bekal yang ia bawa. Hanya beberapa wafer dan snack ringan. Sesampai di pohon beringin, dia mendapati Jeri telah tertidur dibawah rindangnya pohon tersebut. Bantal busa yang terlipat di saku luar yang menggantung pada ransel Jeri telah terkambang dan menyandar di akar pohon beringin. Jeri terkapar disana.
"Mungkin sekarang dia dapat menikmati alam." Sean berbicara sendiri dan bersandar pada batang beringin tersebut sambil menikmati bekal yang ia bawa. Hembusan angin benar-benar sejuk dikala itu.

0 komentar:
Post a Comment