Aku ingat saat pertama kali menolong mu, Ibu, di kala sore hari di hari minggu. Kau ingat Ibu, aku meminta mobil-mobilan saat itu sebagai imbalan. Dan jika mengingat itu entah lah apa yang harus ku katakan pada mu saat ini.
"Ibu, dani mau mobil-mobilan itu?" kata ku. Aku meminta itu saat Ibu sedang sibuk menumpuk beberapa karton untuk di jual. Aku berdiri di sebelah mu.
"Harganya berapa?" kata mu
"50ribu." kata ku. Lalu kau berhenti mengikat karton-karton tersebut. Kau mengangkat tubuh lemah mu supaya berdiri. Kau menatap aku dengan tatapan iba.
"Bisa ditunda dulu Dani. Ibu akan membelikan mu minggu depan." kata mu
"Aku mau sekarang! Teman-teman ku di sekolah sudah punya mainan itu sejak lama.." kata ku merengek. Dan kau tidak tahan melihat ku menangis lalu menawarkan ku untuk menolong mu.
"Bisa kau bantu Ibu untuk mengepak karton-karton ini? Ibu akan membelikan mu sekarang." kata Mu. Kau tau Ibu, saat itu aku seperti orang baru menemukan tambang emas.
Setelah beberapa saat aku menolong mu baru lah aku tau jika pekerjaan mu tidak lah mudah. Kau mengepak karton demi karton yang kau kumpulkan dari tempat-tempat sampah dan dari rumah ke rumah. Aku mengikuti mu seharian itu dan aku tau betapa rendahnya kau di pandang orang-orang. Saat itu aku tidak berani mengatakannya pada mu. Hingga kau berhasil mendapatkan uang 50ribu itu dan kau memberikannya kepadaku untuk membeli mobil-mobilan seperti yang aku minta, dan aku akhirnya lebih memilih untuk membeli sebuah celengan dan menabung uang yang kau berikan itu. Kau memeluk ku. Dan aku tidak tau apakah kau menangis saat itu karena rasanya hangat.
Dan sekarang aku menjadi pengusaha mobil sesungguhnya ibu dan ku harap kau tersenyum melihat ku dari atas sana. Jika kau masih hidup tentulah aku ingin mengajak mu berkeliling dengan mobil-mobil ku.
Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
"Ibu, dani mau mobil-mobilan itu?" kata ku. Aku meminta itu saat Ibu sedang sibuk menumpuk beberapa karton untuk di jual. Aku berdiri di sebelah mu.
"Harganya berapa?" kata mu
"50ribu." kata ku. Lalu kau berhenti mengikat karton-karton tersebut. Kau mengangkat tubuh lemah mu supaya berdiri. Kau menatap aku dengan tatapan iba.
"Bisa ditunda dulu Dani. Ibu akan membelikan mu minggu depan." kata mu
"Aku mau sekarang! Teman-teman ku di sekolah sudah punya mainan itu sejak lama.." kata ku merengek. Dan kau tidak tahan melihat ku menangis lalu menawarkan ku untuk menolong mu.
"Bisa kau bantu Ibu untuk mengepak karton-karton ini? Ibu akan membelikan mu sekarang." kata Mu. Kau tau Ibu, saat itu aku seperti orang baru menemukan tambang emas.
Setelah beberapa saat aku menolong mu baru lah aku tau jika pekerjaan mu tidak lah mudah. Kau mengepak karton demi karton yang kau kumpulkan dari tempat-tempat sampah dan dari rumah ke rumah. Aku mengikuti mu seharian itu dan aku tau betapa rendahnya kau di pandang orang-orang. Saat itu aku tidak berani mengatakannya pada mu. Hingga kau berhasil mendapatkan uang 50ribu itu dan kau memberikannya kepadaku untuk membeli mobil-mobilan seperti yang aku minta, dan aku akhirnya lebih memilih untuk membeli sebuah celengan dan menabung uang yang kau berikan itu. Kau memeluk ku. Dan aku tidak tau apakah kau menangis saat itu karena rasanya hangat.
Dan sekarang aku menjadi pengusaha mobil sesungguhnya ibu dan ku harap kau tersenyum melihat ku dari atas sana. Jika kau masih hidup tentulah aku ingin mengajak mu berkeliling dengan mobil-mobil ku.
Nb: Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

0 komentar:
Post a Comment