Copyright © Mencoba Tampan
Design by Dzignine
Wednesday, March 11, 2015

Mr. Nerd and The Coffee Shop

Listen to this while you are reading to make sense One Direction - Night Changes

Aku tidak tau dari mana cerita ini berawal... Saat itu aku menemukan gadis ini disebuah kedai kopi tua yang ada di tepi jalan M. Yamin. Dia terlihat sangat kalut. Pakaiannya benar-benar formal untuk ukuran seorang gadis muda yang seharusnya menikmati masa-masa "centil". Bedak tebal dengan perona pipi yang tidak merata menempel di wajahnya. Dia memakai sepatu heels yang 'hak nya telah patah. Sepertinya sengaja dipatahkan karena ada bentuk tidak rata di kedua bekas patahan heels tersebut. Dan itu terlihat baru. Heels itu dia letakkan di kursi tepat di sebelah nya.

"Apa yang kau pikirkan gadis muda?" Aku menghampiri si gadis kalut dan duduk disebelahnya. Aku memindahkan letak heels ke bawah. Si Gadis dengan sigap menyambut tangan ku dan mengambil kembali heels nya. Dia meletakkan heels tersebut disebelah kanan nya.

"Jangan sentuh atau ibu ku akan membunuh mu!" Dia seperti sangat ketakutan. Pandangannya tertuju pada gelas kopi yang terisi setengah di hadapannya.

"Aku hanya memindahkan nya. Tidak apa gadis muda." aku memesan kopi dengan sedikit gula pada seorang bapak tua yang seluruh kulitnya sudah tampak keriput. Kira-kira umurnya 70an jika dilihat dari bentuk kulitnya.

"Aku Nerd. Boleh tau nama mu?" aku kembali menatap si gadis muda yang layu.

"Nerd? Nama macam apa itu?" kata si gadis muda. Matanya besar, bulat, dan cekung seperti mendapati sebuah keraguan.

"Orang-orang memanggil ku Nerd dan aku suka itu.." kata ku

"Nama mu?" aku kembali menanyai nya

"Entah lah.. aku tidak tau." badannya dirapatkan seperti mendapati suatu ketakutan. Matanya masih membulat cekung.

"Mungkin aku lancang, tapi tampaknya kau butuh teman berbagi cerita. Kau boleh cerita pada ku, aku akan dengan senang hati mendengarkan." kata ku

"Tidak.. tidak ada yang perlu aku ceritakan.." kata si gadis muda terburu-buru

"kalau begitu kau mau mendengar cerita ku? Aku punya sedikit stok cerita dongeng, mungkin bisa menghibur mu." kata ku. Si gadis muda hanya diam menatap gelas kopi nya.

"Baiklah, aku akan bercerita dengan gelas kopi ku." kata ku menyambut pesanan kopi ku yang telah jadi.

Kedai kopi tersebut hanya berbentuk satu gubuk kecil dengan meja yang membentang di depan gubuk tersebut. Dua buah kursi panjang mengisi sisi-sisi meja. Kami duduk menghadap ke arah gubuk dan hanya ada aku, si gadis kalut, dan pak tua sang penjual kopi disitu. Lampu jalan temaram yang ditutupi pohon jalan yang tumbuh dibawahnya membuat suasana kedai kopi tersebut remang-remang.

"Gelas, kau tau sudah kemana aku melangkah?" aku mengeluarkan sendok yang ada dalam gelas dan memukulkannya ke sisi gelas kopi ku. Hingga bunyi berdenting dan menarik perhatian si penjual kopi dan si gadis muda yang kalut.

"Aku tidak kemana-mana. Aku pergi dari satu daerah ke daerah lain, tapi aku masih di Bumi." kata ku lagi. Aku melihat dengan sudut mata apakah si gadis kalut mendengarkan atau tidak. Jika dia terlihat termenung lagi, aku dengan segera mendentingkan gelas kopi ku.

"jika pun suatu hari nanti aku dapat pergi ke Mars atau Jupiter, aku masih dalam Solar system." kata ku lagi. Aku menatap gelas ku seolah-olah dia mendengarkan ku.

"Jika pun suatu hari nanti aku bisa keluar dari Solar system, aku masih berada di Milky way." kali ini aku meminum kopi ku karena haus.

"Aduh maaf aku menelan mu! Kamu masih bersisa jadi tetap lah dengarkan aku." kata ku. Si gadis muda tampak masih mendengarkan ku. Si pak tua penjual kopi pun masih antusias memperhatikan ku.

"Sebenarnya aku, kau, dan semua yang ada disini dan dimanapun tidak pernah kemana-mana, kau tau?" kata ku menggoyang-goyang gelas kopi tersebut.

"Tidak tau? Tentu saja kau tidak tau! Kau hanya segelas kopi hitam, pekat, dan pahit. Kau hanya melayani orang lain dalam gelas mu!" kata ku masih memandang kopi ku.

"Tapi kau tau, aku sangat suka pada mu.. Kau mebuat ku nyaman. Karena pahit mu kau tidak pernah berharap untuk menjadi gula dan kau tidak pernah membiarkan orang lain mengubah mu menjadi teh. Kau berteman dengan mereka dan menjadi diri mu sendiri."

"Dan ketika kau masuk ke perut ku, itu tanda aku berterima kasih pada mu. Aku sangat menghargai mu karena kau menjadi diri mu sendiri." aku menggoyangkan lagi gelas kopi ku dan meminum nya. Masih tersisa seperempat gelas lagi.

"Aku tau kenapa orang-orang memanggil mu Nerd. Kau memang culun. Kau mengobrol dengan kopi!" kata si gadis kalut masih dengan tampang meragu.

"Bukan kah itu bukan urusan mu?" kata ku lalu menatap lagi gelas kopi ku. Si gadis kalut ternyata tidak mendengarkan perkataan ku yang terakhir.

"Ibu ku selalu memaksaku memakai semua ini.." dia mengembangkan tangannya ingin memperlihatkan apa yang ia pakai. Aku berhasil membuatnya bicara.

"Dia selalu memaksaku untuk tampil cantik dengan pakaian-pakaian sialan ini dan juga alat-alat kosmetik yang aku sudah tidak ingin melihat nya." Air matanya mengalir dan tangannya dengan kasar menggosok-gosok wajahnya yang di tutupi bedak.

"Apa aku terlihat seperti badut?" Dia menanyai ku dengan tatapan putus asa. Aku hanya diam tidak menjawab.

"Aku menginginkan memakai sepatu kets, celanaj jeans, dan baju kaus, dan juga topi.... Aku ingin rambut ku jatuh sebagaimana ada nya.... A..Aku menyukai diri ku apa adanya... Aku tidak suka yang berlebihan dan dia terus memaksa ku." Nada suaranya meninggi dan terbata-bata. Si kakek tua penjual kopi tampak tertegun menatap gadis yang berpakaian formal yang ada di depannya.

"Aku hanya ingin menulis... Aku hanya ingin melukis... Aku hanya inginkan itu.. Aku tidak menginginkan yang lain.. Aku tidak menginginkan semua ini." Dia mengacak-acak rambut nya yang tersanggul rapi dan menutup wajahnya dibalik kedua tangannya. Rambut gadis ini ikal dan lembut. Cantik terjurai cukup panjang.

Aku merangkul si gadis kalut. menepuk pundak nya beberapa kali dan mengusai rambutnya.

"Kenapa kau tidak pergi saja?" kata ku mencoba memberi saran

"Kemana aku harus pergi? Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu ku.." kata nya

Aku mengeluarkan sebuah pemutar musik di saku celana ku dan memilih sebuah lagu "1D - Night Changes". Aku menyuruhnya untuk bangkit dan memasang earphone yang ada di tangan ku.

"Coba dengarkan lagu ini.." kata ku. Si gadis kalut memasang earphone tersebut dan mendengarkan lagu yang ku pilihkan. Kepalanya sudah tegak untuk mendengarkan lagu itu.

Setelah beberapa saat dan beberapa kali dia meminta lagu tersebut untuk di putar ulang, wajahnya terlihat berseri. Rona motivasi muncul di pipinya mengalahkan pewarna yang ada disana.

"Boleh aku ikut dengan mu, Mr Nerd?" kata Si gadis.

"Aku akan pulang mengambil barang-barang ku yang tidak seberapa, meninggalkan surat untuk ibu ku yang mengatakan 'betapa aku menyayangi nya dan akan kembali lagi jika aku sudah cukup dewasa dengan pilihan ku' dan akan kembali kesini. Ibu ku mungkin belum pulang jam segini." kata Si gadis. Matanya tampak berseri-seri

"Kalau boleh tau, apa pekerjaan mu, Mr. Nerd." kata Si gadis muda pada ku.

"Aku tidak pernah bekerja dan tidak pernah memiliki apa-apa. Aku menikmati hidup dalam perjalanan." kata ku

"Kau mau mengajak ku kan?" mata Si gadis kalut sekarang tidak cekung lagi. Matanya berisi dan itu adalah perubahan yang sangat cepat yang pernah aku lihat dalam diri seseorang.

"Aku tidak pernah mengajak siapa pun. Jika kau mau ikut, ayo kita pergi berjalan bersama." kata ku

"Kau tunggu aku disini.. Aku akan kembali.. hanya beberapa menit.." kata si gadis lalu membayar kopinya dan bersiap untuk pergi.

"Oh iya Mr. Nerd, perkenalkan aku Miss Weird." dan Si gadis pergi dengan terburu-buru tanpa alas yang melindungi kaki nya. Sepatu heels yang sedari tadi dijaganya sekarang dia tenteng di kedua belah tangan nya.

Aku meminta tambah kopi satu gelas lagi pada Pak tua penjual kopi. Dia menatap ku tersenyum sembari menunjuk-nunjuk ku dengan telunjuk keriputnya.



0 komentar:

Post a Comment